Darurat Pendidikan di Tasikmalaya: Siswa SDN Kubangsari Belajar di Bangunan Reyot 5×4 Meter

5 hours ago 5

harapanrakyat.com,- Sebanyak 25 murid SDN Kubangsari di Kampung Manglid, Dusun Mekarjaya, Desa Kertaraharja, Kecamatan Taraju, Kabupaten Tasikmalaya, Jawa Barat, harus rela berdesakan di dalam rumah panggung beralaskan papan lapuk demi untuk bisa belajar.

Mereka belajar tanpa fasilitas layak seperti anak sekolah pada umumnya. Hanya beralaskan dinding sebuah bangunan kayu tua. Tanpa fasilitas modern, dinding tembok, maupun bangku yang layak.

Bangunan sederhana berukuran 5×4 meter tersebut berdiri di atas lahan swadaya masyarakat bersama pemerintah desa setempat. Gedung yang dulunya merupakan rumah bekas ini berdindingkan bilik bambu dan hanya memiliki satu ruangan.

Baca Juga: SDN Citapen Tasikmalaya Terbakar, Gudang Hangus dan Dua Ruang Kelas Terdampak

Kondisi Pembelajaran di Kelas Jauh SDN Kubangsari Tasikmalaya

Tanpa sekat pemisah, ruangan sempit itu terpaksa menampung dua jenjang pendidikan sekaligus, yakni 9 siswa kelas 1 dan 16 siswa kelas 2.

Suasana kegiatan belajar mengajar kerap terganggu saat hujan deras mengguyur wilayah tersebut. Atap bangunan yang rapuh tak mampu menahan air, sehingga kebocoran membasahi area belajar para siswa.

Guru SDN Kubangsari, Epi, mengungkapkan kondisi proses pembelajaran di lokasi tersebut jauh dari kata ideal. Apalagi, ia harus mengajar puluhan murid di tengah keterbatasan sarana.

“Kondisinya memang sangat memprihatinkan dan jauh dari kata layak. Kalau hujan bocor, anak-anak belajar berdesakan tanpa sekat. Saya berharap sekali tempat ini bisa segera dibangunkan dua ruangan kelas baru yang permanen,” ungkapnya, Selasa (21/7/2026).

Operasional kelas jauh ini hanya disokong oleh dua tenaga pengajar, yakni Epi dan seorang guru Pendidikan Agama Islam (PAI). Apabila para siswa telah naik ke kelas 3, mereka wajib berpindah ke sekolah induk di SDN Kubangsari dengan berjalan kaki sejauh dua kilometer.

Baca Juga: KBB Mulai Perbaiki Ruang Kelas Rusak, 146 Ruang di 79 SD Masuk Target Rehabilitasi

Pendirian kelas jauh ini memiliki riwayat panjang. Sekitar sepuluh tahun silam, kawasan permukiman sekitar, khususnya di Kampung Sadot, sempat menghadapi krisis literasi lantaran mayoritas warga dan anak-anak tidak bisa membaca maupun menulis.

Ketiadaan akses pendidikan saat itu dipicu oleh jarak menuju sekolah terdekat yang terisolasi. Anak-anak harus menempuh perjalanan dengan berjalan kaki sepanjang tiga kilometer menembus perbukitan, lembah, persawahan, hingga menyeberangi aliran sungai.

Jalur yang berbahaya membuat banyak orang tua enggan melepas anaknya ke sekolah. Menanggapi situasi darurat tersebut, pemerintah desa bersama warga akhirnya berinisiatif menghadirkan kelas jauh pada 2016.

Fisik Bangunan Gunakan Material Bekas

Kepala Desa Kertaraharja, Agus menjelaskan, fisik bangunan kelas jauh SDN Kubangsari yang berdiri saat ini dibangun pada 2017 menggunakan material rumah panggung bekas. Lahan dibeli dari kas desa yang dipadukan dengan dana swadaya masyarakat.

Seiring berjalannya waktu, kayu dan struktur bangunan lapuk dimakan usia hingga dinilai berisiko bagi keselamatan siswa. Pihak desa telah berulang kali mengupayakan bantuan fisik, namun terbentur aturan penggunaan anggaran.

Baca Juga: Cerita Guru SDN Margamulya Tasikmalaya saat Pohon Besar Tumbang Timpa Sekolah

“Lahan sudah kami sediakan secara swadaya. Tapi sampai kepemimpinan berganti hingga tiga bupati, janji pembangunan gedung permanen belum juga terealisasi. Kami dari pihak desa tidak bisa menggunakan Dana Desa untuk fisik sekolah karena terbentur regulasi,” tutur Agus.

Kini, warga serta pihak pemerintah desa berharap Pemkab Tasikmalaya dan dinas terkait dapat segera turun tangan memberikan bantuan ruang kelas permanen yang aman, dan layak bagi anak-anak di Kampung Manglid. (Apip/R3/HR-Online/Editor: Eva)

Read Entire Article
Berita Rakyat | Tirto News |