Fakta Menarik Jejak Sejarah Candi Sari Peninggalan Mataram Kuno

18 hours ago 13

harapanrakyat.com,- Mempelajari sejarah Candi Sari memberikan banyak wawasan berharga mengenai kehidupan toleransi beragama masa lampau. Bangunan suci peninggalan sejarah Indonesia ini berdiri megah di wilayah Kalasan, Kabupaten Sleman, Yogyakarta. Rakai Panangkaran sengaja membangun tempat ini pada abad kedelapan untuk asrama para biksu.

Baca juga: Sejarah Candi Banyunibo Sebagai Warisan Kerajaan Mataram Kuno

Catatan sejarah kuno menyebutkan bahwa Candi bernama Sari ini berkaitan erat dengan keberadaan Prasasti Kalasan. Prasasti tahun 778 Masehi itu menceritakan perintah guru-guru Sailendra kepada sang raja Mataram Kuno. Raja yang beragama Hindu tersebut rela mendirikan fasilitas ibadah bagi rakyatnya yang beragama Buddha.

Fakta Sejarah Pembangunan Candi Megah Sari Sebagai Asrama Biksu

Situs purbakala ini pertama kali ditemukan pada tahun 1929 dalam kondisi reruntuhan yang parah. Selanjutnya, lembaga purbakala Hindia Belanda langsung melakukan upaya pemugaran untuk menyelamatkan warisan berharga tersebut. Proses pemugaran bangunan kuno ini ternyata menghadapi banyak kendala akibat hilangnya beberapa batu penyusun.

Para ahli terpaksa mengganti bagian selasar dan beberapa stupa atap dengan balok batu baru. Mereka bekerja mematuhi kaidah sains arkeologi agar bentuk asli bangunan masa lampau ini terjaga. Gedung asrama biksu ini memiliki dimensi ukuran panjang tujuh belas koma tiga meter.

Baca juga: Mengungkap Misteri Sejarah Candi Barong Sebagai Simbol Kesuburan Yogyakarta

Ketinggian struktur asrama purba ini mencapai tujuh belas meter dengan bentuk menyerupai sebuah rumah. Para peneliti menduga bahwa tempat tinggal para biksu ini dahulunya terdiri atas dua tingkat. Dugaan tersebut muncul akibat penemuan lubang khusus penyangga balok kayu pemisah pada dinding dalam.

Pesona Arsitektur dan Keindahan Relief Bodhisatwa yang Memukau

Dinding luar bangunan suci ini memiliki pahatan 38 arca Bodhisatwa yang indah. Arca penjaga tersebut digambarkan sedang memegang bunga teratai dengan postur tubuh yang lemah gemulai. Selain itu, pahatan makhluk kahyangan setengah burung bernama kinara-kinari juga turut menghiasi dinding luar.

Ornamen ukiran wajah kala makara senantiasa mempercantik bagian atas bingkai pintu dan jendela asrama. Hiasan tersebut tampil sangat menawan tanpa memberikan kesan menyeramkan bagi pengunjung yang datang melihat. Kemudian, pahatan bunga kumuda yang menjulur dari jambangan juga memberikan makna kesucian tempat ini.

Bagian dalam gedung terdiri dari tiga bilik sejajar yang saling terhubung melalui sebuah pintu. Biksu zaman dahulu menggunakan ruang bilik tersebut untuk belajar serta melakukan rutinitas diskusi agama. Sisa jejak kehidupan religius masa lampau masih sangat terasa saat manusia memasuki area dalam.

Baca juga: Menggali Nilai Sejarah Candi Dukuh di Tepian Danau Rawapening Semarang

Atap bangunan kuno ini berbentuk persegi datar yang dihiasi oleh sembilan buah stupa megah. Sembilan stupa tersebut tersusun rapi membentuk tiga deretan sejajar yang sangat memanjakan mata memandang. Kehadiran saluran air jaladwara pada atap juga menambah fungsi estetika sistem drainase curah hujan.

Keberadaan situs asrama biksu ini menjadi bukti kuat moderasi politik penguasa kerajaan zaman dahulu. Pelestarian warisan budaya bangsa ini sangat krusial demi menjaga nilai seni ukir para leluhur. Setiap detail sejarah Candi Sari senantiasa menyimpan pesan moral yang menginspirasi kerukunan antar umat. (Muhafid/R6/HR-Online)

Read Entire Article
Berita Rakyat | Tirto News |