Materi fasisme Jepang di Indonesia memang menarik untuk dibahas. Periode penjajah Jepang ini berkuasa pada 1942-1945. Ini bukan hanya sekedar pergantian penguasa kolonial dari negara Barat ke Timur saja. Akan tetapi, sebuah fasisme militer yang mampu merubah struktur sosial dan politik, hingga ekonomi Nusantara secara menyeluruh.
Baca Juga: Mengulas Sistem Romusha Jepang di Era Penjajahan Sebelum Merdeka Tahun 1945
Dalam waktu singkat sekitar 3,5 tahun, Jepang sukses menjajah Indonesia dan mengeksploitasi sumber daya manusia. Tindakan penjajah Negeri Sakura ini mampu meninggalkan bekas luka permanen hingga kini. Hal ini otomatis menyadarkan bangsa Indonesia untuk tidak tinggal diam hingga berhasil merebut kemerdekaan.
Fasisme Jepang di Indonesia dan Akar Ideologinya
Fasisme Jepang sendiri berakar dari ideologi Hakko Ichiu atau 8 Penjuru Dunia di Satu Atap. Ini merupakan doktrin yang nantinya memposisikan Kaisar Jepang menjadi pemimpin dunia. Di Indonesia sendiri hal ini tercermin lewat propaganda gerakan 3A yang berbunyi “Jepang Cahaya Asia, Pelindung Asia, dan Pemimpin Asia”.
Berbeda halnya dengan penjajahan negara Belanda yang lebih pasif dan administratif, fasisme Jepang ini memiliki sifat menggerakkan massa (mobilisasi). Mereka memaksa rakyat Indonesia untuk patuh. Bahkan, penjajah Jepang ini memaksa masyarakat kala itu untuk ikut terlibat dalam perang Dunia II.
Karakteristik Fasisme Penjajah Jepang di Nusantara
Seperti yang sudah disinggung sebelumnya, penerapan fasisme Jepang di Indonesia sendiri mempunyai beberapa karakteristik berbeda. Terutama dari penjajah sebelumnya yakni Belanda. Sekedar informasi fasisme sendiri berarti sebuah pandangan untuk menguasai atau memimpin negara secara mutlak sehingga semua rakyat harus patuh. Berikut beberapa karakteristik fasisme Jepang di Nusantara antara lain:
1. Militerisasi Masyarakat
Fasisme Jepang di Indonesia di masa 1942-1945 banyak melatih rakyat dalam organisasi militer. Tujuannya untuk mendukung ambisi Jepang dalam perang di Kawasan Pasifik. Berikut ini beberapa contohnya antara lain:
- Pertama, PETA atau Pembela Tanah Air. Ini merupakan organisasi cikal bakal TNI di mana para pemuda kala itu dilatih militer modern. Akan tetapi, Jepang menanamkan disiplin sangat keras ala Bushido.
- Kedua, Heiho yang merupakan pasukan pembantu untuk para prajurit Jepang yang nantinya akan menuju garis depan di medan perang.
- Ketiga, Seinendan dan Keibodan. Keduanya merupakan organisasi pemuda dan pelindung wilayah desa. Tujuannya agar mampu mendisiplinkan masyarakat hingga ke level bawah sekalipun.
2. Menanamkan Ajaran Budaya Jepang (Doktrin Kebudayaan)
Fasisme Jepang di Indonesia selanjutnya doktrin budaya. Penggunaan Bahasa Belanda kala itu sangat dilarang keras. Kemudian, berganti ke Bahasa Indonesia dan Jepang. Bahkan setiap pagi, rakyat Indonesia harus melakukan Seikerei. Ini adalah aktivitas membungkuk ke matahari terbit sebagai wujud penghormatan pada Kaisar Hirohito.
Baca Juga: Hubungan Perang Asia Timur Raya dengan Jepang dalam Perang Dunia II
Hal tersebut memicu perdebatan di kalangan religius, terutama ulama. Pasalnya, mereka menganggap hal itu adalah sebagai tindakan syirik. Tak heran, kala itu ketegangan pun terjadi antara ulama dan penjajah Jepang.
3. Ekonomi Perang serta Eksploitasi
Di bawah fasisme Jepang, semua sumber daya ekonomi Indonesia kala itu harus bermanfaat untuk tujuan perang. Jepang pun menerapkan kebijakan Self-Sufficiency. Dalam hal ini masing-masing wilayah harus memenuhi kebutuhan mereka sendiri serta wajib menyetor hasil panen ke pusat.
Luka Sejarah Lewat Sistem Romusha dan Jugun Ianfu
Sisi paling gelap dalam fasisme Jepang di Indonesia adalah munculnya Romusha dan Jugun Ianfu. Keduanya tercipta demi kepentingan negara Jepang kala itu. Data sejarah sukses menunjukkan penderitaan rakyat lewat Romusha. Kala itu, Jepang mengerahkan jutaan petani sebagai tenaga kerja paksa. Hal ini demi membangun lapangan pesawat, gua pertahanan, dan akses kereta api.
Sebagai contoh seperti jalur kereta api mematikan di Muaro Sijunjung. Kala itu, banyak ratusan ribu jiwa masyarakat Indonesia melayang. Hal ini terjadi imbas kelaparan dan kelelahan yang luar biasa dahsyatnya.
Kemudian, luka sejarah lainnya yakni Jugun Ianfu. Ini adalah sistem perbudakan seksual di masa penjajahan Jepang. Semua wanita Indonesia dan juga negara Asia lainnya harus melayani kebutuhan seksual para tentara Jepang. Terutama yang ada di pusat barak-barak militer mereka.
Bermula dari tekanan fasisme Jepang di Indonesia itulah justru mampu berdampak mempercepat kemerdekaan Nusantara. Kala itu, Jepang terdesak oleh serangan Sekutu tahun 1944. Lalu, untuk mempertahankan dukungan rakyat, penjajah Jepang mulai memberikan sebuah janji kemerdekaan.
Setelah itu, terbentuklah BPUPKI dan PPKI sebagai upaya taktik Jepang mengambil hati rakyat. Para tokoh seperti Soekarno dan Hatta pun tampil sebagai sosok perumus dasar negara. Hal ini termasuk Pancasila dan juga UUD 1945. Momen istimewa ini akhirnya menjadi momentum bagi Indonesia untuk merdeka dan lepas dari Jepang tepat pada 17 Agustus 1945.
Baca Juga: Ilmu Merajut, Hasil Peninggalan Jepang di Binong Jati Bandung
Fasisme Jepang di Indonesia merupakan sejarah dan luka perih yang hingga kini masih membekas. Tindakan fasisme Jepang di Indonesia tersebut sukses meninggalkan trauma begitu mendalam lewat sistem kerja paksa dan juga kekerasan militer. Kendati demikian, hal ini justru berhasil membekali bangsa Indonesia dengan keahlian berorganisasi militer dan berbahasa nasional cukup kuat. Bahkan, mampu merebut kemerdekaan tahun 1945. (R10/HR-Online)

5 hours ago
3

















































