IHSG berpotensi volatil seiring sikap para pelaku pasar. Di mana, mereka lebih berhati-hati menjelang pengumuman hasil rapat Federal Open Market Committee (FOMC) bank sentral Amerika Serikat. Keputusan dan sinyal kebijakan moneter dalam pertemuan tersebut sangat penting. Sebab, keputusan diperkirakan menjadi salah satu faktor utama yang memengaruhi pergerakan pasar keuangan global.
Baca Juga: Saham BBRI Berpeluang Reli, JP Morgan Ungkap Sejumlah Katalis Positif
IHSG Berpotensi Volatil Jelang Hasil Rapat FOMC
IHSG mengawali perdagangan yang bergerak di zona merah setelah turun 10,58 poin atau 0,17% ke level 6.175,20. Di saat bersamaan, Indeks LQ45 berisi saham-saham unggulan juga melemah 2,03 poin atau 0,33% menjadi 610,53. Jika tekanan terus berlanjut, IHSG bisa menguji area support dengan kisaran 6.159–6.144, kemudian 6.130 hingga 6.119.
Jika level tersebut tembus, maka indeks berisiko melanjutkan pelemahan menuju 5.931. Sebaliknya, jika terjadi pemulihan, maka IHSG perlu menembus area 6.219 sebelum melanjutkan kenaikan ke level resistance 6.315. Keberhasilan menembus level tersebut bisa membuka peluang penguatan mencapai 6.394.
Faktor yang Memengaruhi Pergerakan IHSG
Melihat dari pasar global, perhatian investor tertuju pada hasil rapat Federal Open Market Committee (FOMC) di Amerika Serikat. Para pelaku pasar memperkirakan tren inflasi AS yang mereda dan pelemahan harga minyak mentah dunia akan memengaruhi arah suku bunga acuan. Investor juga menunggu pernyataan lebih lanjut untuk mendapatkan gambaran soal arah kebijakan moneter hingga akhir tahun.
Baca Juga: Saham BBCA Naik 4 Persen, Transaksi Jumbo Rp1,2 Triliun Jadi Sorotan Pasar
Sebelumnya, sentimen publik sempat membaik berkat penurunan harga minyak dan dimulainya musim laporan keuangan emiten teknologi. Namun, optimisme tersebut mereda setelah munculnya kabar bahwa China mulai produksi massal mesin litografi DUV. Perkembangan ini memicu kekhawatiran baru soal persaingan industri semikonduktor global.
Belanja AI dan Geopolitik Menjadi Perhatian Investor
Pasar turut memantau besarnya belanja modal untuk pengembangan teknologi AI dari perusahaan besar seperti Alphabet dan Tesla. Tingginya investasi tersebut berpotensi menekan margin keuntungan perusahaan. Sementara laporan kinerja kuartal II-2026 dari kelompok Magnificent Seven menjadi salah satu faktor utama yang memengaruhi pergerakan pasar beberapa hari mendatang.
Sentimen positif juga datang dari meredanya ketegangan geopolitik setelah Amerika dan Iran menghentikan aksi saling serang lantas melanjutkan jalur diplomasi. Kondisi ini mendukung penurunan harga minyak secara signifikan, sehingga meningkatkan minat investor terhadap aset berisiko. Kendati demikian, pasar masih mengawasi perkembangan di Selat Hormuz karena potensi gangguan pasokan energi belum sepenuhnya hilang.
Pergantian Gubernur BI Jadi Sorotan Pasar
Melihat dari dalam negeri, perhatian investor mengarah pada proses pergantian kepemimpinan Bank Indonesia. Diketahui bahwa Perry Warjiyo mengundurkan diri karena alasan pribadi. Dalam hal ini, proses pemilihan gubernur baru dengan proses seleksi transparan dan tetap menjaga independensi bank sentral menjadi aspek penting. Sebab, langkah tersebut berperan dalam menjaga stabilitas nilai tukar rupiah, mengendalikan inflasi hingga mempertahankan kepercayaan investor.
Baca Juga: Saham Blue Chip Tertekan, Inilah Prediksi Rebound Semester II di Tahun 2026
IHSG berpotensi volatil jelang rapat FOMC bank sentral Amerika Serikat. IHSG berpotensi volatil karena investor memilih sikap berhati-hati sambil menunggu kepastian arah kebijakan. Sebab, keputusan dalam rapat ini disinyalir akan memengaruhi sentimen investor di pasar keuangan global. (R10/HR-Online)

8 hours ago
8

















































