harapanrakyat.com,- Lonjakan harga kedelai impor yang kini menyentuh angka tertinggi Rp11.000 per kilogram memicu kekhawatiran di kalangan industri tahu dan tempe rumahan di Kota Bandung, Jawa Barat.
Kondisi ini diperparah oleh tren melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat, mengingat mayoritas produsen sangat bergantung pada pasokan bahan baku impor.
Berdasarkan data Google Finance, nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat sudah menyentuh angka Rp18.096,9926. Tekanan ekonomi ini membuat para perajin harus memutar otak demi bisa bertahan di tengah situasi pasar yang tidak menentu.
Baca Juga: Status Tersangka Gugur, Wakil Wali Kota Bandung Erwin: Terima Kasih Sudah Objektif!
Sentra industri tahu terbesar di Kota Bandung kini mulai merasakan dampak langsung dari ketidakstabilan kurs mata uang asing ini.
“Saat ini harga kedelai kualitas bagus sudah mencapai Rp11.000 per kilogram, psebelum bulan puasa lalu masih berkisar antara Rp8.000 hingga Rp9.000. Kami sangat khawatir jika dolar terus merangkak naik, harga bahan baku akan semakin tidak terkendali dan memicu kenaikan harga bahan penunjang lainnya,” kata Ketua Paguyuban Perajin Tahu dan Tempe Jawa Barat, M. Zamaludin, Sabtu (6/6/2026).
Ancaman Mogok Massal dan Harapan Intervensi Pemerintah
Zamaludin berujar, hingga saat ini sekitar 140 perajin tahu di wilayah Cibuntu memilih untuk tidak menaikkan harga jual maupun mengurangi ukuran tahu demi menjaga loyalitas konsumen di pasar.
Risiko dari pilihan itu yakni, terpangkasnya margin keuntungan secara masif, bahkan sebagian produsen dikabarkan mulai mengalami kerugian finansial.
“Ukuran masih tetap. Yang berkurang keuntungan saja, malahan ada sampai ada yang merugi juga. Makanya ini kami bertahan istilahnya,” ujarnya.
Baca Juga: Tujuh Motor Raib di Konser Tau Tau Festival, Polisi Bakal Periksa Legalitas dan SOP Pengelola Parkir
Ia menambahkan, apabila nilai tukar dolar Amerika Serikat terus melonjak dan harga kedelai tidak kunjung melandai, para perajin di seluruh Jawa Barat sepakat untuk mengambil langkah ekstrem seperti pada 2023.
Opsi mogok produksi massal selama tiga hari menjadi pilihan terakhir yang akan diambil jika daya beli perajin benar-benar lumpuh.
Mengingat, perajin tahu dan tempat sangat bergantung pada kedelai impor dari Amerika Serikat, Kanada, dan Brasil. Hal itu lantaran pasokan kedelai lokal di pasaran sangat langka dan terbatas.
“Kalau kedalai naik terus mungkin Kejadian 2023 akan terulang lagi, kami akan demo massal produksi seperti yang terjadi 2023,” tuturnya.
Zamaludin dan perajin tahu dan tempe lainnya mendesak pemerintah untuk segera turun tangan memberikan solusi konkret. Seperti penyaluran subsidi harga atau relaksasi kebijakan bea masuk impor kedelai.
Baca Juga: Tunggu Orang Tua yang Sakit, Seorang Pria Jadi Korban Pembacokan di Depan RS Al Islam Bandung
“Pemerintah perlu segera turun tangan, salah satunya dengan skema subsidi atau membebaskan biaya bea masuk impor kedelai. Ini agar harga bahan baku di tingkat perajin bisa langsung ditekan,” katanya. (Reza/R7/HR-Online/Editor-Ndu)

13 hours ago
9

















































