Sejarah Rempah Kemukus, Komoditas Nusantara yang Pernah Kuasai Pasar Eropa

1 hour ago 7

Sejarah rempah kemukus menjadi salah satu kisah menarik dalam perjalanan perdagangan komoditas Nusantara. Meski sejarahnya tidak sepopuler pala atau cengkeh, rempah ini ternyata pernah diperebutkan pada masa penjajahan. Bahkan, sempat mendominasi perdagangan Eropa sebelum akhirnya tergeser oleh lada hitam.

Baca Juga: Rempah-rempah yang Dicari Bangsa Eropa, Salah Satunya Kunyit

Sejarah Rempah Kemukus Lada Berekor Asli Indonesia

Kemukus (Piper cubeba) merupakan tanaman dari famili Piperaceae. Sebuah keluarga yang sama dengan lada hitam (Piper nigrum), sirih (Piper betle) dan cabai jawa (Piper retrofractum). Tanaman ini banyak tumbuh di Pulau Jawa dan sebagian wilayah Sumatra. Sehingga dalam perdagangan internasional sering pula populer sebagai Java pepper atau lada Jawa.

Secara umum, proses panen buah kemukus ketika masih muda sebelum benar-benar matang. Baru kemudian melalui pengeringan secara hati-hati agar kualitas aroma serta kandungan minyak atsirinya tetap terjaga. Ciri paling khas kemukus terletak pada buahnya yang memiliki tangkai kecil yang tetap menempel setelah kering.

Bentuk inilah yang membuat rempah kemukus terkenal sebagai lada berekor (tailed pepper). Sekilas tampilannya menyerupai lada hitam, tetapi dengan “ekor” kecil di bagian pangkal buah. Perikarp atau kulit buahnya memiliki tekstur berkerut dengan warna cokelat keabu-abuan hingga hitam. Di dalamnya terdapat biji berwarna putih yang mengandung minyak atsiri cukup tinggi.

Aroma kemukus sangat harum, hangat dan aromatic. Sedangkan rasanya pedas, sedikit pahit, tajam, serta meninggalkan sensasi hangat yang bertahan lama di mulut. Selain sebagai bumbu masakan tradisional Indonesia, kemukus juga bagus untuk bahan baku lainnya. Misalnya pembuatan minyak atsiri, obat tradisional, hingga campuran minuman dan produk wewangian.

Masuk ke Perdagangan Mancanegara Melalui Pedagang Arab

Perjalanan sejarah rempah kemukus menuju pasar dunia jauh sebelum kedatangan bangsa Eropa. Kemukus memasuki jaringan perdagangan internasional melalui jalur dagang yang menghubungkan Nusantara dengan India, Timur Tengah dan Tiongkok. Nama “cubeb” sendiri berasal dari bahasa Arab “kababa“, kemudian terserap ke dalam bahasa Prancis Kuno menjadi “quibibes“.

Baca Juga: Jejak Sejarah Rempah Kapulaga hingga Menyebar ke Seluruh Dunia

Pedagang Arab berperan besar memperkenalkan kemukus ke berbagai wilayah di Barat melalui pelabuhan-pelabuhan dagang di India. Catatan sejarah menunjukkan bahwa pada abad ke-4 SM, filsuf Yunani Theophrastus telah menyebut rempah yang konon sebagai kemukus dalam tulisannya. Hal ini mengindikasikan bahwa hubungan perdagangan antara Nusantara dan dunia luar kemungkinan telah berlangsung sangat awal.

Pada masa Dinasti Tang, kemukus turut menjadi komoditas penting untuk Tiongkok melalui jalur maritim Sriwijaya. Di sana, rempah ini lebih populer sebagai bahan pengobatan daripada bumbu masakan. Sementara itu, dalam kisah Seribu Satu Malam yang tersusun sekitar abad ke-9, kemukus juga terkenal untuk pengobatan.

Jadi Komoditas Populer di Pasar Eropa pada Era Kolonial

Memasuki sejarah Abad Pertengahan, kemukus menjadi salah satu rempah bernilai tinggi di Eropa. Rempah ini digunakan sebagai bumbu daging, campuran saus, hingga bahan pembuatan makanan manis. Nilainya yang tinggi menjadikan kemukus sebagai salah satu komoditas perdagangan penting dari Nusantara.

Berlanjut pada abad ke-14, kemukus menguasai sebagian besar pasar Eropa melalui para pedagang yang beroperasi dari Grain Coast. Permintaannya terus meningkat karena masyarakat Eropa tidak hanya memanfaatkannya sebagai bumbu dapur. Lebih dari itu, keberadaannya juga memenuhi kebutuhan bahan obat dan dupa.

Hanya saja, tahun 1640 mulai berubah. Dalam catatan botani karya John Parkinson, konon sekitar tahun 1640, raja Portugal melarang penjualan kemukus.  Ini sebagai upaya mendorong dominasi perdagangan lada hitam (Piper nigrum). Kebijakan tersebut secara perlahan menggeser posisi kemukus di pasar Eropa.

Meski demikian, kemukus masih sempat mengalami kebangkitan pada abad ke-19 sebagai bahan pengobatan. Di Inggris era Victoria dan Edward, kemukus menjadi antiseptic. Sementara ekstraknya masyarakat manfaatkan dalam berbagai produk farmasi. Memasuki awal abad ke-20, Indonesia masih rutin mengekspor kemukus ke Eropa dan Amerika Serikat. Namun volumenya terus turun hingga rata-rata 135 ton/tahun, sebelum akhirnya hampir berhenti setelah tahun 1940.

Kini Mulai Langka

Saat ini, sejarah rempah kemukus memang tidak lagi sepopuler dulu. Lain dengan pala, cengkeh, ataupun lada hitam yang tetap eksis di pasar internasional. Namun rempah ini masih tetap masyarakat Indonesia manfaatkan. Terutama sebagai salah satu bumbu dalam berbagai hidangan tradisional seperti gulai.

Baca Juga: Fakta Menarik Seputar Jalur Sejarah Rempah di Jawa Timur

Sejarah rempah kemukus menunjukkan bahwa kejayaan rempah Nusantara tidak hanya dibangun oleh pala, cengkeh, atau lada hitam. Kemukus sebagai komoditas rempah asli Jawa pernah menempati posisi penting dalam sejarah jaringan perdagangan internasional. Keberadaannya menjadi pengingat bahwa Nusantara memiliki kekayaan rempah berlimpah. Jauh lebih beragam daripada yang selama ini masuk dalam sejarah. (R10/HR-Online)

Read Entire Article
Berita Rakyat | Tirto News |