harapanrakyat.com,- Program Makanan Bergizi Gratis (MBG) di Dusun Maruyungsari, Desa Maruyungsari, Kecamatan Padaherang, Kabupaten Pangandaran, Jawa Barat, menuai sorotan dari para penerima manfaat. Seperti keterlambatan distribusi yang membuat makanan sering kali terlambat dikonsumsi. Selain itu, keluhan warga pada program MBG di Maruyungsari Pangandaran, juga terkait kualitas menu hingga temuan benda berbahaya berupa jarum pentul berkarat di dalam nasi.
Baca Juga: Geger Temuan Jarum Pentul Berkarat dalam Paket MBG di Padaherang Pangandaran
Kamsiah (56), salah seorang warga penerima manfaat, mengaku terkejut saat hendak menyantap bantuan makanan tersebut pada malam hari. Ia menemukan sebatang jarum pentul yang sudah berkarat tertanam di dalam nasi. Akibatnya, area nasi di sekitar jarum tersebut berubah warna menjadi kemerahan akibat noda karat.
”Untung saya malam itu agak teliti. Pas mau makan, saya lihat ada yang aneh. Ternyata ada jarum pentul yang sudah berkarat di dalam nasi, bahkan karatnya sampai menempel dan membuat nasinya memerah. Akhirnya tidak jadi saya makan,” ungkapnya kepada harapanrakyat.com, Sabtu (6/6/2026).
Kamsiah menjelaskan, bahwa bantuan makanan tersebut sebenarnya diantarkan oleh petugas pada pagi hari. Namun, karena tekstur nasi dari program tersebut cenderung keras dan kurang cocok untuk konsumsi anak-anak, ia dan keluarganya lebih sering menyantapnya pada malam hari setelah dihangatkan atau memilih memasak nasi sendiri yang lebih pulen.
Baca Juga: Pergantian Pimpinan BGN Tak Hambat Pemenuhan Gizi Gratis di Pangandaran
Keluhan Lain dari Program MBG di Pangandaran, Distribusi Terlambat dan Menu Kurang Variatif
Keluhan terkait program MBG, senada juga disampaikan oleh Koordinator Penerima Manfaat Dusun Maruyungsari, Pangandaran ,Suryani. Menurutnya, keluhan terkait kualitas makanan ini sudah beberapa kali terjadi, dan langsung dikoordinasikan dengan pihak dapur penyedia atau Satuan Pelayanan Program Gizi (SPPG).
”Kami langsung menyampaikan komplain ini kepada pihak SPPG sebagai bahan evaluasi. Sehingga ke depan baik dari pihak dapur maupun kami sebagai penyalur, bisa lebih berhati-hati. Memang terkadang ada faktor kelalaian,” kata Suryani.
Suryani membeberkan, salah satu kendala utama di lapangan adalah waktu pengiriman yang tidak menentu. Bantuan makanan terkadang baru tiba pada pukul 09.00 WIB, pukul 11.00 WIB, bahkan hingga pukul 15.00 WIB. Akibat jadwal yang tidak pasti ini, banyak warga yang akhirnya tidak langsung mengonsumsi makanan tersebut karena sudah terlanjur makan siang.
”Selain masalah waktu, warga juga mengeluhkan kualitas sayur yang sering kali cepat basi atau mengeluarkan aroma tidak sedap. Kemungkinan karena sayur langsung ditutup rapat saat kondisinya masih panas. Warga juga sempat mengeluhkan adanya kerikil kecil di dalam nasi,” tambahnya.
Selain keluhan distribusi program MBG di Maruyungsari, Pangandaran terlambat, Suryani juga menyoroti variasi menu yang dinilai monoton. Rasa bumbu, terutama saus yang digunakan untuk lauk pauk seperti ayam atau telur, cenderung sama setiap harinya. Sehingga membuat penerima manfaat merasa bosan.
Bahkan, dalam beberapa kali pengiriman, terdapat menu protein seperti ikan yang sempat tertinggal. Meskipun pihak SPPG langsung merespons dan menggantinya setelah menerima laporan.
Baca Juga: Viral di Medsos, Program MBG di Pangandaran Diduga Sajikan Makanan Basi untuk Balita
Di Dusun Maruyungsari sendiri, terdapat 88 sasaran penerima manfaat program MBG. Jumlah tersebut terdiri dari 20 orang ibu hamil dan menyusui, serta 68 anak balita. (Madlani/R5/HR-Online/Editor: Adi Karyanto)

6 hours ago
8

















































