Kisah Tan Ling Djie, Petinggi PKI Keturunan Tionghoa yang Tersingkir oleh DN Aidit

12 hours ago 12

Kisah Tan Ling Djie menjadi salah satu bagian menarik dalam sejarah PKI. Hanya saja, kisah sosok Tan Ling Djie ini memang jarang dibahas, beda dari tokoh-tokoh seperti DN Aidit atau Musso. Padahal, pria keturunan Tionghoa itu pernah menempati posisi penting dalam struktur Partai Komunis Indonesia.

Baca Juga: Sindiran Sarwo Edhie ke DN Aidit dalam Pusaran Peristiwa Supersemar 1966

Perjalanan politik Tan Ling Djie bahkan tidak berlangsung singkat. Ia populer sebagai sosok intelektual yang menempuh pendidikan tinggi hingga ke Belanda sebelum akhirnya terjun ke dunia politik kiri. Namun, pengaruhnya perlahan memudar setelah muncul generasi baru pimpinan PKI yang di bawah DN Aidit.

Kisah Tan Ling Djie dalam Sejarah PKI Indonesia

Nama Tan Ling Djie punya tempat tersendiri dalam perjalanan PKI. Sosoknya bukan hanya seorang kader biasa, melainkan tokoh penting yang ikut menentukan arah partai. Khususnya pada masa-masa sulit setelah pemberontakan Madiun. Di tengah pergolakan politik awal kemerdekaan, Tan hadir sebagai figur berlatar belakang pendidikan kuat. Kombinasi pendidikan dan pengalaman membuatnya mampu menduduki posisi strategis dalam gerakan kiri Indonesia.

Tan Ling Djie sendiri lahir di Surabaya pada 5 Agustus 1904. Sejak muda, ia menunjukkan minat besar terhadap dunia pendidikan maupun pemikiran politik. Ia menempuh pendidikan di HBS Surabaya sebelum melanjutkan studi ke bidang hukum. Perjalanan akademiknya kemudian membawanya ke Batavia untuk belajar di Rechtshoogeschool (RHS).

Tidak berhenti di sana, Tan melanjutkan pendidikan hukum di Fakultas Hukum Universitas Leiden, Belanda. Pada masa itu, hanya sedikit orang Indonesia yang memiliki kesempatan mengenyam pendidikan tinggi di Eropa. Selama berada di Belanda, Tan aktif di berbagai organisasi politik.

Ia ikut mendorong berdirinya Serikat Peranakan Tionghoa Indonesia (SPTI). Ini merupakan sebuah organisasi yang mewadahi kalangan Tionghoa peranakan dengan orientasi politik progresif. Tan juga bergabung dengan Partai Komunis Belanda. Pengalaman inilah yang memperkuat pandangan politiknya dan menjadi bekal ketika kembali ke Indonesia.

Menjadi Pimpinan PKI Setelah Peristiwa Madiun

Kisah perpolitikan Tan Ling Djie kian menonjol setelah Indonesia merdeka. Ia terlibat dalam berbagai aktivitas politik kiri, bahkan konon sudah bergabung dengan jaringan PKI sejak pertengahan 1930-an. Ketika Peristiwa Madiun pecah pada 1948, Tan tertangkap. Beda dengan Musso dan Amir Sjarifuddin yang langsung tewas, Tan tetap bertahan hidup.

Baca Juga: Kisah Prajurit Kostrad Bentak DN Aidit Agar Keluar dari Persembunyian

Situasi berubah ketika Agresi Militer Belanda II berlangsung pada Desember 1948. Kekacauan yang terjadi memungkinkan sejumlah tahanan politik melarikan diri, termasuk Tan Ling Djie. Pasca penumpasan Madiun, PKI mengalami krisis kepemimpinan. Banyak tokoh utama partai meninggal atau kehilangan pengaruh. Situasi ini membuat Tan Ling Djie mengambil peran penting dalam upaya membangun kembali organisasi.

Dalam struktur partai, Tan pernah menjabat sebagai anggota Politbiro dan Wakil Sekretaris Jenderal PKI. Namun masa kejayaannya tidak berlangsung lama. Munculnya generasi baru di bawah pimpinan DN Aidit, bersama Njoto dan M.H. Lukman mengubah segalanya. Akibatnya perlahan mengubah peta kekuatan internal partai.

Tersingkir dari Pusat Kekuasaan hingga Akhir Hayat

Pada awal 1950-an, pengaruh DN Aidit di dalam PKI semakin kuat. Aidit membawa metode baru dalam strategi dan organisasi partai yang berbeda dari pandangan sejumlah tokoh senior. Termasuk Tan Ling Djie. Dalam berbagai forum internal, Tan pun mendapat tuduhan tidak menempatkan PKI sebagai kekuatan utama revolusi.

Bahkan juga dianggap mengurangi independensi organisasi partai. Kritik tersebut menjadi salah satu alasan yang membuat posisinya terus melemah. Pada Oktober 1953, Tan kehilangan jabatannya di jajaran pimpinan pusat partai dan jadi anggota biasa. Sejak saat itu, perannya dalam pengambilan keputusan strategis semakin terbatas.

Tertangkap dan Wafat di Penjara

Kisah Tan Ling Djie berubah drastis setelah peristiwa Gerakan 30 September 1965. Seperti banyak kader dan tokoh PKI lainnya, ia menjadi sasaran penangkapan aparat keamanan. Pada 1966, Tan tertangkap di Surabaya. Kondisi penahanan yang berat membuat kesehatannya terus menurun dari waktu ke waktu.

Sejumlah laporan menyebutkan sosoknya mengalami kekurangan gizi. Hal itulah yang menyebabkan defisiensi tiamin akibat minimnya asupan makanan selama berada di dalam tahanan. Setelah beberapa tahun menjalani masa penahanan, Tan Ling Djie akhirnya meninggal dunia pada 1970.

Baca Juga: Menguak Perbedaan Tan Malaka dan DN Aidit dalam Membangun Gerakan

Kisah Tan Ling Djie menunjukkan sejarah PKI tidak hanya terisi oleh nama-nama besar seperti DN Aidit atau Musso. Di balik dinamika politik kompleks, terdapat sosok penting lain termasuk Tan Ling Djie yang perlahan terlupakan di kisah sejarah. Dengan memahami perjalanan tokoh-tokoh tersebut, masyarakat Indonesia dapat melihat sejarah secara lebih utuh, kritis dan berimbang. Tentunya tanpa mengabaikan sisi-sisi yang jarang terungkap. (R10/HR-Online)

Read Entire Article
Berita Rakyat | Tirto News |