harapanrakyat.com,- Lonjakan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS kian meresahkan sektor usaha mikro di daerah. Dampak nyata tersebut kini dirasakan langsung oleh para peternak bebek petelur di wilayah Kecamatan Purwadadi, Kabupaten Ciamis, Jawa Barat.
Akibat kurs dolar yang terus merangkak naik, harga pakan bebek impor pun ikut terkerek. Kondisi ini membuat para peternak kelimpungan lantaran biaya operasional membengkak, sementara keuntungan mereka kian terkikis, bahkan merugi.
Salah seorang peternak bebek asal Desa Sidarahayu, Kecamatan Purwadadi, Adi, mengeluhkan lonjakan harga pakan bebek jenis layer (petelur) yang terjadi belakangan ini.
Baca Juga: Curhat Peternak di Kota Banjar; Pakan Terus Naik, Harga Telur Justru Turun
“Sebelum ada lonjakan dolar, harga pakan ini masih stabil. Nah, saat terjadi kenaikan dolar, harga pakan mulai naik di kisaran Rp 360 ribu per karung isi 50 kilogram. Dan saat ini sudah naik lagi menjadi Rp 390 ribu per karungnya. Kemungkinan harga masih bisa terus naik seiring kurs dolar yang belum stabil,” ungkap Adi kepada harapanrakyat.com, Senin (8/6/2026).
Peternak Bebek di Purwadadi Ciamis, Pendapatan Nomplok di Biaya Pakan
Adi menjelaskan, saat ini ia memelihara sedikitnya 100 ekor bebek. Untuk memberi makan ratusan unggasnya tersebut, ia harus menghabiskan pakan sekitar 15 kilogram setiap harinya.
Jika dikalkulasikan dengan harga pakan saat ini, Adi mengaku boro-boro mendapat untung, yang ada justru malah ‘nombok’ (rugi).
Skema Kerugian Peternak per Hari:
Biaya Pakan: Rp390.000 / 50 kg = Rp 7.800 per kg.
Total Konsumsi Pakan: 15 kg x Rp 7.800 = Rp 117.000,-
Baca Juga: Dukung Kemandirian Peternak, Kementan Cek Bantuan Hibah Ayam Petelur ke Kelompok di Ciamis
Hasil Telur: 70 butir per hari.
Pendapatan Penjualan: 70 butir x Rp 1.500 (harga borongan) = Rp 105.000,-
Kerugian Mandiri: Rp 105.000 – Rp 117.000 = -Rp 12.000,- (Belum termasuk tenaga).
“Bisa dibayangkan dengan harga pakan yang mahal seperti saat ini, per harinya saya harus mengeluarkan biaya Rp 117 ribu. Sementara hasil telur dari 100 ekor bebek itu rata-rata hanya 70 butir sehari. Kalau dijual borongan harganya cuma Rp 1.500 per butir, jadi pendapatan cuma Rp 105 ribu. Jelas sudah nombok,” keluhnya.
Harga Telur Jalan di Tempat
Lebih lanjut Adi mengungkapkan, kendati harga pakan terus meroket tajam, ironisnya harga jual telur bebek di tingkat peternak justru jalan di tempat alias masih bertahan di harga rendah.
Baca Juga: Harga Ayam Broiler di Pangandaran Turun Drastis, Peternak Ungkap Penyebabnya
“Ada sih telur yang harganya Rp 2.000 per butir, tapi itu untuk kualitas yang super. Kalau mayoritas atau rata-rata ya masukan harga borongan Rp 1.500,” tuturnya.
Menurut Adi, kondisi pelik ini tidak hanya menimpa dirinya saja. Ia meyakini, seluruh peternak bebek di wilayah Purwadadi dan sekitarnya tengah merasakan dampak pahit dari melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar AS.
Para peternak berharap ada langkah nyata dari pemerintah. Baik dalam menstabilkan harga pakan lokal maupun membantu mendongkrak harga jual telur di pasaran, agar usaha rakyat kecil tidak gulung tikar. (Suherman/R3/HR-Online/Editor: Eva)

5 hours ago
5

















































