Marwan bin Muhammad dari Gubernur Armenia Menjadi Khalifah Terakhir Umayyah

7 hours ago 8

Marwan bin Muhammad merupakan salah satu tokoh penting dalam sejarah Kekhalifahan Umayyah. Marwan bin Muhammad adalah khalifah keempat belas sekaligus penguasa terakhir Dinasti Umayyah di wilayah Timur. Tepat sebelum Revolusi Abbasiyah mengakhiri kekuasaan tersebut pada tahun 750 M.

Baca Juga: Urutan Khalifah Islam atau Khulafaur Rasyidin dan Prestasinya

Perjalanan hidupnya menunjukkan perubahan besar. Dimana awalnya seorang pejabat militer yang memimpin wilayah perbatasan hingga menjadi pemimpin tertinggi kekhalifahan. Namun, masa pemerintahannya berlangsung dalam situasi penuh konflik, pemberontakan dan persaingan politik internal.

Biografi Marwan bin Muhammad

Marwan lahir pada tahun 692 M di wilayah Al-Jazirah, salah satu provinsi penting dalam Kekhalifahan Umayyah. Ia berasal dari keturunan Marwani, yaitu cabang keluarga Umayyah yang memiliki hubungan dekat dengan pusat kekuasaan. Ayahnya bernama Muhammad bin Marwan, putra dari Khalifah Marwan I (684–685 M).

Melalui garis keluarga tersebut, ia memiliki hubungan langsung dengan para pemimpin awal Dinasti Umayyah. Masa kecil dan latar belakang keluarganya membentuk lingkungan politik yang kuat. Sosoknya tumbuh ketika Kekhalifahan Umayyah masih memperluas pengaruhnya. Sekaligus menghadapi berbagai tantangan dari dalam maupun luar wilayah kekuasaan.

Sebelum menjadi khalifah, ia membangun reputasi sebagai pemimpin militer. Pengalaman tersebut membuatnya menjadi sosok yang tegas dalam menghadapi konflik maupun pemberontakan. Karier politiknya berkembang ketika Khalifah Hisyam bin Abdul Malik mengangkatnya sebagai gubernur Armenia sekitar tahun 732–733 M. Jabatan tersebut menjadi titik awal perjalanan panjangnya menuju kepemimpinan tertinggi.

Menjabat Gubernur Armenia dan Pemimpin Militer

Saat menjabat sebagai gubernur Armenia, Marwan bin Muhammad bertanggung jawab menjaga wilayah perbatasan utara Kekhalifahan Umayyah. Kawasan tersebut memiliki nilai strategis karena sering menghadapi ancaman dari Bizantium dan kelompok lokal. Pada periode 735–736 M, ia memimpin ekspedisi militer ke Georgia.

Baca Juga: Sejarah Ratu Shima dan Khalifah Ali bin Abi Thalib Hidup Sezaman, Tegakkan Keadilan tanpa Pandang Bulu

Dalam kampanye ini, pasukannya menghancurkan beberapa wilayah dan menguasai sejumlah benteng penting. Beberapa tahun kemudian, Marwan kembali melakukan operasi militer pada 739–740 M. Keberhasilan tersebut meningkatkan reputasinya sebagai komandan yang mampu menjaga kepentingan Umayyah di wilayah perbatasan.

Namun, kondisi politik pusat mulai berubah ketika terjadi konflik perebutan kekuasaan di lingkungan keluarga Umayyah. Ia sempat memperingatkan kerabatnya agar tidak melakukan pemberontakan yang dapat melemahkan dinasti. Peringatan tersebut tidak berhasil menghentikan konflik. Pergantian khalifah melalui kudeta menyebabkan situasi politik semakin tidak stabil.

Perang Saudara hingga Revolusi Abbasiyah

Setelah Khalifah Yazid III meninggal pada tahun 744 M, Marwan menolak menerima penerus yang telah ditunjuk sebelumnya. Ia kemudian mengambil alih kepemimpinan dan menjadi khalifah. Sebagai penguasa baru, Marwan bin Muhammad langsung menghadapi berbagai pemberontakan.

Salah satu tantangan terbesar datang dari kelompok Khawarij yang memperluas pengaruhnya di Irak dan wilayah sekitarnya. Ia juga harus menghadapi perlawanan dari tokoh-tokoh Umayyah lainnya yang tidak sepenuhnya menerima kepemimpinannya. Untuk mempertahankan kekuasaan, Marwan lantas melakukan berbagai kampanye militer.

Salah satu konflik besar terjadi ketika ia mengepung Emesa atau Homs selama beberapa bulan. Setelah pertempuran panjang, ia berhasil menguasai kota tersebut sekaligus mengurangi ancaman pemberontakan. Selain adanya konflik internal, ancaman datang dari gerakan Abbasiyah di wilayah Khurasan.

Gerakan tersebut memperoleh dukungan luas karena memanfaatkan ketidakpuasan masyarakat terhadap pemerintahan Umayyah. Pada tahun 747 M, Abbasiyah mulai melakukan pemberontakan terbuka. Meskipun pemerintah Umayyah mencoba menghentikan gerakan tersebut, pengaruh Abbasiyah terus berkembang.

Kekalahan dan Berakhirnya Kekhalifahan Umayyah

Pada tahap akhir pemerintahannya, Marwan bin Muhammad masih berusaha mempertahankan wilayah kekuasaan yang tersisa. Ia bahkan melakukan kampanye ke Mesir pada tahun 749 M. Tujuan utamanya untuk mengamankan wilayah belakang kekhalifahan. Namun, situasi semakin sulit karena pasukan Abbasiyah berhasil memperoleh kemenangan penting.

Pertempuran besar terjadi di Sungai Zab pada tahun 750 M. Dalam pertempuran tersebut, pasukan Umayyah mengalami kekalahan telak dari pasukan Abu al-Abbas as-Saffah. Kekalahan ini menjadi titik akhir kekuasaan Umayyah di wilayah Timur. Marwan langsung meninggalkan wilayah Syam dan melarikan diri menuju Mesir.

Akan tetapi, pasukan Abbasiyah berhasil mengejarnya hingga akhirnya ia terbunuh pada 6 Agustus 750 M. Kematian Marwan menandai berakhirnya kekuasaan Dinasti Umayyah di Timur. Sebagian besar keluarga Umayyah kemudian mengalami pembantaian setelah Abbasiyah mengambil alih pemerintahan.

Baca Juga: Golongan Assabiqunal Awwalun, Dijamin Masuk Surga

Kendati Marwan bin Muhammad sebagai pemimpin tertinggi telah tiada, ada anggota keluarga Umayyah yang berhasil melarikan diri ke Andalusia. Ia adalah Abdurrahman bin Muawiyah yang kelak mendirikan pemerintahan Umayyah baru. Menariknya, Abdurrahman bin Muawiyah sukses melanjutkan pengaruh kekuasaan Marwan bin Muhammad hingga beberapa abad. (R10/HR-Online)

Read Entire Article
Berita Rakyat | Tirto News |