Tradisi Cheng Beng merupakan budaya Tionghoa sebagai penghormatan terhadap orang yang telah meninggal dunia. Tradisi dalam etnis Tionghoa yang populer ini juga memiliki sebutan lain yaitu Qing Ming. Cheng Beng menjadi upacara yang memiliki sejarah serta makna mendalam seperti pembahasannya berikut ini.
Baca Juga: Ritual Ngala Cai Kukulu, Warisan Kerajaan Pajajaran di Kampung Budaya Sindang Barang
Mengenal Sejarah hingga Makna Tradisi Cheng Beng
Cheng Beng selalu diperingati setiap tahun oleh masyarakat berdarah Tionghoa pada tanggal 4 April atau 5 April. Istilah ini sendiri berasal dari Bahasa Mandarin yaitu Cheng yang artinya cerah dan Beng terang. Hal tersebut mengacu pada terangnya sinar matahari pertanda datangnya musim panas yaitu waktu terlaksananya tradisi ini.
Sejarah Cheng Beng
Terdapat beberapa kisah yang melatarbelakangi hadirnya tradisi turun-temurun Tionghoa satu ini. Ada kisah atas kesetiaan Jie Zhitui terhadap Putra Mahkota Chong Er di era Tiongkok Kuno. Kisah Jie Zhitui menceritakan kesetiaannya pada Putra Mahkota Chong Er yang terpaksa hidup dalam pelarian.
Setelah Chong Er berkuasa, Jie Zhitui memilih untuk hidup di gunung bersama ibunya. Chong Er kemudian berusaha mencarinya dengan membakar hutan, namun ternyata Jie Zhitui justru meninggal karena kebakaran tersebut. Untuk mengenangnya dibuatlah peringatan Hansi atau Hari Makanan Dingin yang dikaitkan dengan tradisi Cheng Beng.
Kisah lainnya dari kisah Kaisar Zhu Yuan Zhang atau Cu Guan Ciong, pendiri Dinasti Ming dari keluarga miskin. Setelah menjadi kaisar, ia sering berperang melawan musuh dalam jangka waktu yang lama. Suatu hari, ketika pulang ke desa, ia mendapat kabar bahwa orang tuanya sudah meninggal.
Masyarakat di desa tidak ada yang mengetahui di mana keberadaan makam kedua orang tuanya. Cu Guan Ciong kemudian memerintahkan rakyatnya untuk berziarah ke makam leluhur membersihkan makam tersebut. Ia juga memerintahkan meletakkan kertas lima warna atau go sek cua di atas makam leluhur mereka.
Baca Juga: Rahasia Eksistensi Suku Tengger: Antara Ritual Yadnya Kasada dan Harmoni Alam di Lereng Bromo
Setelah itu, ia pergi ke pemakaman dan mencari makam mana yang belum bersih. Sang Kaisar menemukan dua makam yang belum memiliki kertas warna dan berasumsi itu orang tuanya lalu memberi penghormatan. Hal tersebutlah yang kemudian dikenal sebagai tradisi Cheng Beng dan terus berlangsung hingga kini.
Hal yang Dilakukan Saat Cheng Beng
Dalam perayaan Cheng Beng ini, maka keluarga berdarah Tionghoa akan mengunjungi makam leluhur mereka. Mereka juga akan ziarah ke makam keluarga terdekat seperti orang tua, adik, atau kakak yang telah meninggal. Saat berziarah, mereka akan membersihkan area makam agar bersih dari rumput dan berbagai kotoran.
Keluarga juga membawa persembahan seperti makanan, buah, teh, hingga kue kesukaan almarhum. Berbagai persembahan tersebut menjadi bentuk pelayanan untuk keluarga dan leluhur yang telah tiada. Kemudian keluarga juga akan menyalakan lilin sebagai simbol penerangan dan membakar dupa atau hio.
Keluarga juga akan membakar uang kertas replika dan kertas perak sebagai bekal leluhur di alam baka. Setelah itu, keluarga juga memanjatkan doa berisikan harapan akan kesehatan, kesejahteraan, dan perlindungan dari leluhur. Keluarga kemudian menutup rangkaian tradisi Cheng Beng dengan berpamitan sebagai tanda keluarga sudah selesai berkunjung.
Makna yang Terkandung
Tradisi ini memiliki beberapa makna mendalam yaitu sebagai bukti rasa hormat dan cinta pada leluhur. Selain itu, ritual ini juga mengajarkan bahwa peziarah tidak akan terlepas dari sejarah akar keluarganya. Ritual ini pun menjadi cara untuk mengingat kebaikan dan didikan leluhur yang membentuk keluarga di masa kini.
Cheng Beng juga menjadi momen untuk mempererat hubungan antar keluarga yang telah memiliki kesibukan masing-masing. Pada momen ini keluarga memiliki kesempatan untuk berkumpul bersama sehingga bisa mempererat nilai kekeluargaan. Dengan begitu, tradisi ini bukan hanya untuk mereka yang telah tiada, namun juga keluarga yang masih hidup.
Baca Juga: Menjaga Tradisi, Warga Bangbayang Ciamis Doa Bersama di Makam Ki Demang Jamaludin
Tradisi Cheng Beng menjadi salah satu ritual tahunan yang sangat penting dan berharga bagi masyarakat Tionghoa. Keluarga bisa mengenang sekaligus menunjukkan rasa hormat untuk leluhur dan keluarga yang telah meninggal dunia. Lewat tradisi ini pun keluarga bisa menjaga dan mempererat hubungan baik dengan anggota keluarga lainnya. Karena itu, tidak heran jika tradisi bernama Cheng Beng ini masih terus hidup dan berlanjut dari generasi ke generasi. (R10/HR-Online)

15 hours ago
13

















































