harapanrakyat.com,- Dinas Kesehatan (Dinkes) Provinsi Jawa Barat membeberkan sejumlah tantangan berat dalam menjalankan program Dokter Masuk Desa. Program inovatif dari Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi ini bertujuan, untuk dokter yang menyasar kawasan terpencil dengan tingkat risiko kesehatan tinggi serta aksesibilitas yang sulit.
Baca Juga: Tingkatkan Layanan Kesehatan di Jabar Selatan, Gubernur Dedi Mulyadi Siapkan Helikopter Medis
Pemprov Jabar awalnya menargetkan penempatan hingga 200 dokter di berbagai pelosok desa. Mereka disiapkan khusus untuk memperkuat pelayanan kesehatan di wilayah yang selama ini minim jangkauan medis.
Kepala Dinkes Jawa Barat, Vini Adiani Dewi mengatakan, realisasi program Dokter Masuk Desa di lapangan belum berjalan mulus. Sejak bergulir pada 2025 lalu hingga pertengahan 2026 ini, baru ada puluhan dokter yang berhasil diterjunkan ke lapangan.
“37 orang di tahun kemarin. Tahun ini bertambah menjadi 60 orang. Memang kenyataannya tidak mudah mencari dokter yang mau bekerja dan menetap di desa,” kata Vini, Senin (6/7/2026).
Dokter yang Mau Mengabdi di Desa Terpencil Minim Peminat dan Banyak yang Mundur, Ini Kendalanya
Menurutnya, kendala utama yang dihadapi yaitu resistensi dari para tenaga medis sendiri. Mayoritas dokter masih enggan untuk ditempatkan di wilayah pedesaan. Bahkan, beberapa dokter yang sempat berkomitmen dan sudah ke lokasi penempatan, pada akhirnya memilih mundur karena tidak sanggup menghadapi tantangan di lapangan.
“Jadi kami kesulitan juga mencari yang mau untuk menjadi dokter desa ini,” ucapnya.
Ia berharap, dokter di desa terpencil dapat terus bertambah, karena nantinya bisa membantu puskesmas. “Kehadiran dokter di desa terpencil begitu penting untuk mendukung kinerja puskesmas, berita memperkuat upaya kesehatan preventif di masyarakat,” tuturnya.
Dalam pelaksanaannya, Pemprov Jabar memberikan dana hibah dan menggandeng Universitas Padjadjaran (Unpad) sebagai pengelola utama program agar berjalan lebih profesional. Status para dokter desa ini saat ini tercatat sebagai tenaga honorer di bawah naungan Unpad.
Untuk menyiasati kekurangan kuota, kerja sama kini diperluas dengan melibatkan perguruan tinggi lain yang memiliki fakultas kedokteran. Seperti Universitas Islam Bandung (Unisba) dan Universitas Kristen Maranatha.
“Kami perluas. Kami libatkan perguruan tinggi yang memiliki pendidikan kedokteran. Sehingga bisa memenuhi kekurangan,” ujarnya.
Baca Juga: Kondisi Berangsur Stabil, RSHS Bandung Bentuk Tim Dokter Khusus untuk YTR
Saat ini, 60 dokter yang ada telah disebar di kawasan desa terpencil pada 17 kabupaten di Jawa Barat, termasuk Kabupaten Tasikmalaya, Garut, Ciamis, Pangandaran, hingga Kabupaten Bekasi. Pemprov Jabar berkomitmen untuk terus membuka rekrutmen demi menutupi kekurangan tenaga medis di area-area kritis. (Reza/R5/HR-Online/Editor: Adi Karyanto)

9 hours ago
9

















































