Pondok Pesantren Suryalaya merupakan salah satu lembaga pendidikan Islam yang cukup populer di Indonesia. Berawal dari pondok pesantren kecil di era kolonial Belanda, Suryalaya mampu berkembang mengikuti perubahan zaman. Usianya sekarang telah melampaui satu abad serta mencatatkan diri sebagai sejarah pesantren paling berpengaruh di Tanah Air.
Baca Juga: Sejarah Pesantren Tebuireng yang Didirikan KH. Hasyim Asyari
Pesantren Suryalaya berdiri di Kabupaten Tasikmalaya, Jawa Barat. Lokasinya berada di kawasan yang dahulu masih sangat terpencil. Kondisi alamnya juga sangat menantang. Namun semangat para pendirinya tidak pernah surut. Dari situlah, lahir pusat pendidikan Islam yang identik dengan pengembangan Tarekat Qadiriyah wa Naqsyabandiyah serta program pembinaan masyarakat.
Awal Mula Pendirian Pondok Pesantren Suryalaya
Suryalaya pertama kali dirintis oleh Syaikh Abdullah bin Nur Muhammad. Masyarakat mengenalnya sebagai Abah Sepuh. Abah Sepuh memulai perintisan pada awal 1905. Masa itu masih berada di bawah pemerintahan kolonial Belanda. Perjalanan awal tentu tidak berjalan mudah. Berbagai tantangan muncul sejak awal pembangunan.
Hambatan paling besar datang dari kondisi lingkungan. Akses menuju lokasi juga cukup sulit. Sementara itu, dukungan masyarakat belum sepenuhnya terbentuk. Pemerintah kolonial pun memberi tekanan terhadap berbagai aktivitas keagamaan. Bahkan, melarang sejumlah aktivitas yang mereka nilai bertentangan dengan aturan kolonial.
Meski begitu, Abah Sepuh tetap melanjutkan perjuangannya. Sebuah masjid berhasil berdiri pada 5 September 1905. Masjid itu menjadi pusat kegiatan pendidikan Islam. Dari sinilah Pondok Pesantren Suryalaya mulai berkembang. Nama Suryalaya memiliki makna yang mendalam. Kata “Surya” berarti matahari. Kata “Laya” berarti tempat terbit. Makna tersebut menggambarkan harapan munculnya cahaya ilmu yang menerangi kehidupan umat.
Abah Sepuh dan Perkembangan Tarekat
Abah Sepuh memimpin Pondok Pesantren Suryalaya sejak masa berdiri hingga tahun-tahun setelahnya. Kepemimpinannya memberi arah yang kuat bagi perkembangan lembaga. Pada 1908, ia memperoleh khirqah sebagai guru mursyid. Pengesahan itu berasal dari Syaikh Tholhah bin Talabudin.
Sejak saat itu, Pesantren Suryalaya berkembang sebagai pusat Tarekat Qadiriyah wa Naqsyabandiyah. Kegiatan dakwah semakin luas. Banyak santri datang dari berbagai daerah. Para wakil talqin turut membantu penyebaran ajaran tarekat. Langkah tersebut memperluas pengaruh pesantren di berbagai wilayah.
Abah Sepuh terus membimbing masyarakat hingga akhir hayatnya. Setelah wafat, tongkat kepemimpinan beralih kepada putranya. Tepatnya putra kelima. Sosok tersebut ialah KH Ahmad Shohibulwafa Tajul Arifin. Namun, masyarakat sekitar pondok lebih mengenalnya dengan panggilan Abah Anom.
Baca Juga: Sejarah Pesantren Lirboyo, dari Tempat Ibadah Kecil Menjadi Pondok Besar
Kepemimpinan Abah Anom serta Kemajuan Pesat Pesantren
Di bawah kepemimpinan Abah Anom sejak 1956, Pondok Pesantren Suryalaya masih mengalami sejumlah tekanan. Masa kepemimpinannya menghadapi berbagai tantangan baru. Gangguan keamanan sempat muncul akibat pemberontakan DI/TII. Bahkan, situasi nasional juga berubah pada masa tersebut.
Walau menghadapi rintangan berat, kegiatan pendidikan di pondok tetap berjalan. Pesantren terus menerima santri dari berbagai daerah. Selain itu, perkembangan lembaga berlangsung semakin pesat. Masyarakat mulai mengenal Suryalaya sebagai pusat pendidikan Islam sekaligus pembinaan spiritual.
Pada 1961, berdiri Yayasan Serba Bakti Pondok Pesantren Suryalaya. Yayasan ini membantu pengembangan pendidikan. Berbagai program sosial juga terus bertambah. Kegiatan dakwah semakin luas. Hubungan dengan masyarakat pun kian erat. Perkembangan tersebut membawa nama Suryalaya ke tingkat internasional. Jamaah tarekat datang dari berbagai negara. Seperti Malaysia, Singapura, Brunei Darussalam, hingga sejumlah negara di Eropa dan Amerika.
Pendidikan hingga Program Inabah
Pesantren Suryalaya tidak hanya mengembangkan pendidikan tradisional. Lembaga ini juga membangun pendidikan formal. Jenjangnya mulai dari taman kanak-kanak. Pendidikan berlanjut hingga perguruan tinggi. Selain pendidikan formal, pesantren tetap mempertahankan pengajian tradisional. Model pembelajaran tersebut menjadi ciri khas pesantren.
Salah satu program paling terkenal di Pondok Pesantren Suryalaya ialah Inabah. Program ini bertujuan membantu pemulihan pecandu narkotika. Program juga membina remaja bermasalah. Selain itu, Inabah mendampingi orang yang mengalami gangguan kejiwaan. Metode pembinaan memadukan pendekatan spiritual dan kedisiplinan. Peserta mengikuti mandi, salat, talqin dzikir serta pembinaan rutin.
Keberhasilan metode Inabah menarik perhatian banyak pihak. Program tersebut memperoleh berbagai penghargaan. Pengakuan datang dari lembaga internasional. Pemerintah Indonesia juga memberikan apresiasi atas kontribusi program rehabilitasi tersebut. Pondok Remaja Inabah kini tersebar di sejumlah daerah. Beberapa berada di Tasikmalaya dan Ciamis. Ada pula cabang di Surabaya. Bahkan berkembang hingga Malaysia.
Baca Juga: Jejak Pesantren Pasambangan Jati, Pusat Pendidikan Islam Tertua di Cirebon
Pondok Pesantren Suryalaya terus menjaga keseimbangan antara pendidikan, dakwah dan pengabdian sosial. Warisan semangat juang dari Abah Sepuh tetap hidup hingga kini. Kepemimpinan para penerus juga menjaga nilai-nilai tersebut. Berbekal sejarah panjang sejak era kolonial, Pondok Suryalaya tetap menjadi pesantren yang memberi manfaat bagi masyarakat lintas generasi. (R10/HR-Online)

15 hours ago
11

















































