Prasasti Sanghyang Tapak merupakan salah satu bagian dari situs budaya bersejarah di Indonesia. Sanghyang Tapak menjadi prasasti yang membuktikan perkembangan Kerajaan Sunda sekitar tahun 1030 M silam. Keberadaanya menunjukkan bagaimana masyarakat Sunda kuno telah memiliki sistem pemerintahan, aturan wilayah, hingga hubungan politik dengan kerajaan lain.
Baca Juga: Sejarah Prasasti Cidanghiang Peninggalan Raja Purnawarman
Selain itu, prasasti ini tidak hanya menjadi catatan tertulis dari masa lampau. Setiap peninggalan menyajikan sumber penting guna memahami perjalanan sejarah di Jawa Barat. Pasalnya, melalui peninggalan tersebut, para sejarawan dapat melihat gambaran terkait kepemimpinan Raja Sri Jayabhupati dan kondisi perpolitikannya.
Sejarah Prasasti Sanghyang Tapak
Sanghyang Tapak populer juga sebagai Prasasti Sri Jayabhupati atau Cicatih. Peninggalan ini terdiri dari empat batu bertulis, di dalamnya memuat setidaknya 40 baris tulisan atau pesan. Penulisannya menggunakan aksara Jawa Kawi dengan bahasa Jawa Kuno juga. Sementara penanggalan menunjukkan tahun 952 Saka atau sekitar 1030 M.
Proses penemuanya berlangsung dalam beberapa tahapan. Tiga diantaranya tim peneliti temukan di dekat Kampung Bantar Muncang. Sementara satu batu lainnya teridentifikasi di Kampung Pangcalikan. Masih satu kawasan dekat tepian Sungai Cicatih, Cibadak, Kabupaten Sukabumi, Provinsi Jawa Barat.
Nama Sanghyang Tapak sendiri berasal dari wilayah yang tertera dalam prasasti. Kawasan itu berkaitan dengan sebuah daerah yang konon memiliki nilai khusus pada eranya. Sehingga pemerintah kerajaan kala itu sontak memberikan aturan tertentu supaya masyarakat menjaga wilayah tersebut.
Baca Juga: Jejak Peninggalan Kerajaan Galuh, Prasasti Mandiwunga Ciamis
Tokoh utama dalam prasasti ini adalah Sri Jayabhupati. Sri Jayabhupati merupakan pemimpin tertinggi Kerajaan Sunda yang berkuasa sekitar tahun 1030 hingga 1042 M. Ia merupakan penerus pemerintahan Sunda setelah masa kepemimpinan ayahnya. Sri Jayabhupati memiliki gelar panjang yang menunjukkan kedudukannya sebagai seorang penguasa besar.
Selain mencatat kebijakan kerajaan, Prasasti Sanghyang Tapak juga memperlihatkan adanya sistem hukum. Raja menetapkan batas wilayah dan memberikan larangan terhadap tindakan tertentu di kawasan Sanghyang Tapak. Termasuk larangan menangkap ikan di area pemujaan Sanghyang Tapak dekat hulu sungai.
Perjalanan Sri Jayabhupati sebagai Raja Sunda
Sri Jayabhupati memerintah ketika Kerajaan Sunda berada dalam periode perkembangan politik yang penting. Sebagai raja, ia berusaha menjaga stabilitas kerajaan melalui kebijakan pemerintahan maupun hubungan diplomasi. Pada masa ini, wilayah Sunda memiliki hubungan dengan beberapa kerajaan besar di Nusantara.
Hubungan tersebut terlihat melalui jaringan keluarga kerajaan dan pengaruh budaya yang berkembang. Pemerintahan Sri Jayabhupati juga menunjukkan bahwa kerajaan memiliki perhatian terhadap wilayah-wilayah sakral. Penetapan kawasan tertentu sebagai wilayah perlindungan menunjukkan adanya hubungan antara kekuasaan, kepercayaan dan aturan sosial.
Hubungan Kerajaan Sunda dengan Medang hingga Kahuripan
Salah satu hal menarik dari Prasasti Sanghyang Tapak adalah kaitannya dengan hubungan politik antar kerajaan. Sri Jayabhupati memiliki hubungan keluarga dengan lingkungan Kerajaan Medang melalui pernikahan. Permaisurinya konon berasal dari keluarga Dharmawangsa, penguasa Medang di Jawa Timur.
Hubungan tersebut memperlihatkan adanya upaya membangun kerja sama politik melalui ikatan keluarga kerajaan. Pada masa itu, kawasan Jawa mengalami dinamika kekuasaan yang cukup kompleks. Kerajaan Sunda, Medang, Kahuripan dan kerajaan lain memiliki hubungan erat melalui perdagangan, politik serta pernikahan.
Gelar Sri Jayabhupati dalam prasasti juga memiliki kemiripan dengan tradisi gelar bangsawan di Jawa Timur. Hal itu menunjukkan adanya pengaruh budaya kerajaan yang saling berhubungan. Bahkan, beberapa catatan sejarah menghubungkan Sri Jayabhupati dengan tokoh raja Sunda yang masuk dalam naskah Sunda kuno.
Nilai Sejarah Prasasti bagi Budaya Sunda
Sebagai peninggalan sejarah, Prasasti Sanghyang Tapak tentu memiliki nilai penting dalam memahami kehidupan masyarakat Sunda kuno. Tulisan pada batu tersebut memberikan informasi mengenai pemerintahan, hukum, wilayah dan kepercayaan masyarakat masa lalu. Aturan yang ada tidak hanya bersifat administratif, tetapi juga memiliki unsur keagamaan sekaligus penghormatan terhadap lingkungan.
Dari sisi arkeologi, keberadaan prasasti memperkuat bukti bahwa Jawa Barat memiliki peradaban panjang sebelum era modern muncul. Saat ini, prasasti tersebut menjadi bagian penting dari warisan budaya Indonesia. Penelitian terhadap peninggalan ini terus membantu masyarakat memahami sejarah lokal dan identitas budaya Sunda.
Baca Juga: Mengulik Jejak Peninggalan Prasasti Ciaruteun Bogor
Prasasti Sanghyang Tapak menjadi pengingat bahwa wilayah Jawa Barat memiliki perjalanan sejarah yang kaya. Mereka membuktikan kemampuan masyarakat kuno dalam membangun pemerintahan, menciptakan aturan dan menjaga nilai budaya. Kini keempat batu Prasasti Sanghyang Tapak berada di Museum Nasional Republik Indonesia, Jakarta. Setiap batu tertulis dengan kode D 73, D 96, D 97 serta D 98. (R10/HR-Online)

8 hours ago
9

















































