harapanrakyat.com,- Pembukaan lahan sekitar 17 hektare di Desa Kedungwuluh, Kecamatan Padaherang, Kabupaten Pangandaran, yang sempat memunculkan berbagai spekulasi di tengah masyarakat mendapat penjelasan dari pihak pengelola. Kegiatan tersebut dipastikan bukan untuk pembangunan pabrik semen sebagaimana isu yang beredar, melainkan untuk pengembangan sektor pertanian berupa perkebunan durian.
Baca Juga: Kisah Lilih Warga Pangandaran, Sulap Lahan Gambut Tak Produktif Jadi Kebun Kelapa Sumber Rezeki
Pengelola kebun, Hendra Gunawan menegaskan, bahwa sejak awal lahan tersebut memang dipersiapkan sebagai kawasan perkebunan. Ia membantah tegas berbagai spekulasi yang mengaitkan pembukaan lahan dengan rencana alih fungsi menjadi kawasan industri semen.
“Ppembukaan lahan 17 hektar di Desa Kedungwuluh memang peruntukannya buat perkebunan durian. Saya membantah sama sekali jika lahan itu akan beralih fungsi menjadi pabrik semen,” tegasnya, Rabu (5/8/2026).
Menurut Hendra, proyek tersebut justru berangkat dari keinginan untuk memanfaatkan kawasan yang sebelumnya dinilai kurang produktif. Dengan ditanami durian, lahan tersebut diharapkan mampu menghasilkan nilai ekonomi, sekaligus memberikan manfaat dalam jangka panjang.
“Cuma itu untuk lahan yang tadinya kebun tidak produktif, saya ubah. Mudah-mudahan jadi lahan yang produktif,” ujarnya.
Klaim Perizinan Perkebunan Durian Telah Ditempuh
Ia juga memastikan, bahwa kegiatan pembukaan lahan tidak dilakukan tanpa koordinasi. Sebelum pekerjaan dimulai, pihaknya telah menempuh tahapan administrasi dan berkomunikasi dengan pemerintah desa maupun masyarakat di sekitar lokasi.
Bahkan, menurutnya, dukungan terhadap rencana pengembangan perkebunan tersebut telah dituangkan secara tertulis. “Dari awal juga untuk perizinan secara tertulis sudah ada dari pihak pemerintahan desa, dari warga sekitar untuk mendukung program pembukaan tanah untuk perkebunan. Seharusnya semuanya sudah clear,” katanya.
Hendra turut menjelaskan terkait pengajuan pemasangan jaringan listrik ke PLN yang sempat menjadi perhatian. Ia mengatakan, kebutuhan listrik tersebut diperuntukkan menunjang aktivitas operasional, terutama untuk mess atau tempat tinggal para pekerja kebun.
Baca Juga: Bukit Digunduli untuk Kebun Durian, Warga Pangandaran Minta Jaminan Lingkungan Tetap Aman
Selain digunakan untuk kebutuhan perkebunan durian, keberadaan jaringan listrik tersebut ke depannya, juga diharapkan dapat memberikan manfaat bagi masyarakat sekitar. Salah satunya, untuk mendukung penerangan jalan.
Sementara mengenai kekhawatiran munculnya potensi longsor akibat aktivitas pembukaan lahan, Hendra menyebut karakteristik kawasan tersebut sebagian besar merupakan batuan karang keras jenis limestone. Karena kondisi itu, pengelola mengklaim tidak melakukan pembongkaran terhadap bagian perbukitan yang didominasi bebatuan.
“Kami menerapkan sistem terasering hanya untuk tanah-tanah saja. Sementara untuk gunung bebatuan tidak kami pugar sama sekali. Tidak dikeruk, hanya dibersihkan rumput dan ilalangnya,” jelasnya.
Menurut Hendra, pengerukan terhadap bukit berbatu juga bukan perkara mudah dilakukan menggunakan alat berat. Struktur batuan karang putih yang keras, membuat area tersebut berbeda dengan kawasan yang didominasi tanah lunak.
“Itu lahan bukan tanah gambut. Karena banyak batuan karang putih. Alat berat juga tidak akan kuat untuk membongkar gunung itu,” paparnya.
Prioritaskan Warga Lokal Sebagai Tenaga Kerja
Dalam pengelolaan perkebunan durian nantinya, Hendra mengatakan, perawatan tanaman akan dilakukan menggunakan sistem kocor, yakni pemberian pupuk langsung ke area tanah di sekitar tanaman. Adapun metode penyemprotan dari bagian atas, disebut hanya akan dilakukan apabila tanaman mengalami gangguan atau serangan hama.
Tak hanya mengejar produktivitas lahan, pengelola juga menjanjikan keterlibatan masyarakat sekitar dalam kegiatan perkebunan tersebut. Hendra menyebut sekitar 80 persen kebutuhan tenaga kerja nantinya akan diprioritaskan bagi warga lokal. Terutama masyarakat Dusun Balater, Desa Kedungwuluh, dan wilayah sekitarnya.
“Yang kami inginkan memberikan peluang pekerjaan. Biasanya 80% dari warga setempat dulu,” ungkapnya.
Menurut Hendra, konsep pengembangan pertanian semacam ini bukan kali pertama dijalankan. Model perkebunan dengan sejumlah komoditas seperti durian, lengkeng hingga jeruk, sebelumnya juga telah dikembangkan di beberapa daerah. Di antaranya Banjarsari, Karangmulya, dan Ciparakan.
Dengan konsep tersebut, ia berharap keberadaan perkebunan di Kedungwuluh bukan hanya mampu menghidupkan kembali lahan yang sebelumnya kurang produktif. Tetapi juga, memberikan dampak ekonomi bagi masyarakat sekitar melalui terbukanya kesempatan kerja.
“Jadi dari awal kami memang bergerak di sektor perkebunan durian, bukan pabrik. Tujuan kami untuk menciptakan pertanian modern, sekaligus juga menyerap tenaga kerja lokal,” pungkasnya. (Kiki/R5/HR-Online/Editor: Adi Karyanto)

9 hours ago
12

















































