Ritual ngala cai kukulu menjadi salah satu tradisi turun-temurun yang masih lestari di Kampung Budaya Sindang Barang, Bogor. Ngala cai kukulu populer sebagai ritual pengambilan air dari sejumlah mata air suci bagi masyarakat Sunda. Menariknya, rangkaian upacara adat tahunan ini konon telah berlangsung sejak masa Kerajaan Pajajaran.
Baca Juga: Rahasia Eksistensi Suku Tengger: Antara Ritual Yadnya Kasada dan Harmoni Alam di Lereng Bromo
Hingga sekarang, masyarakat Kampung Budaya Sindang Barang tetap melaksanakan tradisi tersebut setiap tahunnya. Tujuan utamanya yakni sebagai bentuk penghormatan kepada para leluhur. Sekaligus ungkapan rasa syukur atas sumber kehidupan yang alam berikan sejak zaman dahulu kala.
Mengenal Ritual Ngala Cai Kukulu
Ngala cai kukulu merupakan prosesi adat yang berlangsung setelah rangkaian ziarah atau ngembang ke makam para leluhur. Tradisi ini sangat populer di Kampung Budaya Sindang Barang. Tepatnya di Desa Pasir Eurih, Kecamatan Tamansari, Kabupaten Bogor, Jawa Barat. Sebuah kawasan pelestari budaya Sunda sekaligus memiliki keterkaitan dengan sejarah Kerajaan Pajajaran.
Dalam bahasa Sunda, “ngala cai” berarti mengambil air. Sementara itu, prosesi ini berlangsung dengan mengumpulkan air dari tujuh mata air yang masyarakat adat anggap suci. Semua air disatukan dalam wadah khusus sebagai simbol persaudaraan, keberkahan dan kesatuan hidup masyarakat.
Menurut kepercayaan masyarakat setempat, ketujuh mata air tersebut telah menjadi sumber penghidupan sejak masa kasepuhan Sunda. Penggunaannya pun terwariskan secara turun-temurun. Oleh karena itu, ritualnya tidak hanya memiliki nilai budaya, tetapi juga pengingat akan pentingnya menjaga warisan leluhur.
Prosesi Ngala Cai Kukulu
Prosesi ritual ngala cai kukulu mulai dengan berkumpulnya para kokolot atau tetua adat bersama masyarakat di Imah Bali, Kampung Budaya Sindang Barang. Para kokolot mengenakan pakaian adat Sunda berupa baju kampret. Sudah lengkap dengan iket di kepala sebagai simbol penghormatan terhadap tradisi leluhur.
Baca Juga: Menjelajahi Kampung Wisata 165 Padarincang, Oase Spiritual dan Keindahan Alam di Banten
Sebanyak tujuh orang kokolot membawa kendi untuk menampung air. Sementara seorang lainnya berjalan lebih dulu di depan rombongan. Tugasnya yakni membakar kemenyan untuk wewangian dalam prosesi adat. Setelah semua peserta siap, rombongan bergerak bersama-sama menuju lokasi mata air suci.
Perjalanan tersebut turut diiringi alunan kesenian Angklung Gubrag dari para perempuan sehingga suasana adat terasa semakin khidmat. Dahulu, masyarakat kasepuhan mengambil air menggunakan bambu atau alat tradisional bernama kerek. Kini, kendi terpilih sebagai wadah utama, meski makna ritualnya tetap sama sebagaimana terwariskan oleh para leluhur.
Tujuh Mata Air Suci
Tahapan utama dalam ritual ngala cai kukulu adalah mengambil air dari tujuh mata air. Semua sumber ini berada di kawasan Desa Pasir Eurih. Seluruh lokasi masih berada dalam satu wilayah. Sumber tersebut meliputi Mata Air Cipamali, Cimaeja, Cikubang, Cimalipah, Ciputri, Cienging dan Sumur Sri Baginda Jalatunda.
Konon, masing-masing sumber air memiliki nilai sejarah dan kesakralan tersendiri. Sehingga proses pengambilannya berlangsung dengan penuh penghormatan. Air dari setiap mata air yang masuk ke dalam kendi dibawa oleh masing-masing kokolot. Setelah seluruh air berhasil terhimpun, rombongan kembali menuju Imah Gede sebagai pusat pelaksanaan upacara berikutnya.
Penyatuan, Penjagaan dan Penggunaan Air Suci
Sesampainya di Imah Gede, ketujuh kendi yang berisi air suci kemudian dituangkan secara bergantian ke dalam sebuah tempayan besar. Tempayan tersebut ditutup menggunakan kain hitam dan putih. Pemilihan warna hitam putih melambangkan keseimbangan antara unsur baik dan buruk dalam kehidupan manusia.
Setelah seluruh air menyatu, berlanjut ke penjagaan tempayan oleh para kokolot hingga malam hari. Pada malam harinya, masyarakat kembali berkumpul mengelilingi tempayan untuk mengikuti doa bersama. Tokoh adat dan tokoh agama bersatu sebagai pemimpin upacara adat. Prosesi doa berlangsung dengan menghadirkan berbagai perlengkapan seperti tumpeng, kembang tujuh rupa, kue tradisional serta bakaran kemenyan.
Selain doa-doa adat, ada pula ayat-ayat suci Al Quran sebagai bentuk perpaduan antara tradisi Sunda dan nilai-nilai Islam. Air kemudian tersimpan hingga pelaksanaan helaran dongdang. Dalam prosesi tersebut, air suci dipercikkan kepada masyarakat yang hadir. Prosesnya sebagai simbol harapan akan keberkahan, keselamatan, kesehatan dan kehidupan yang lebih baik.
Baca Juga: Tradisi Gebug Ende, Ritual Pemanggil Hujan di Desa Seraya Bali
Ritual ngala cai kukulu hingga kini menjadi salah satu kekayaan budaya Sunda. Melalui prosesi pengambilan air suci, masyarakat tidak hanya menjalankan tradisi, tetapi juga menegaskan pentingnya melestarikan alam sebagai sumber kehidupan. Karena itu, ngala cai kukulu tidak hanya memiliki nilai sejarah, tetapi juga ritual yang patut dijaga untuk generasi mendatang. (R10/HR-Online)

10 hours ago
11
















































