Sejarah Candi Abang Peninggalan Mataram Kuno di Sleman Yogyakarta

5 hours ago 5

harapanrakyat.com,- Catatan sejarah Candi Abang yang berada di Dusun Blambangan, Kalurahan Jogotirto, Kapanewon Berbah, Sleman, Yogyakarta menyimpan kisah arkeologi yang memukau. Situs peninggalan bersejarah era Kerajaan Mataram Kuno ini berdiri tegak di atas puncak bukit setinggi enam meter berdiameter empat puluh meter.

Bangunan kuno peninggalan masa lampau ini sangat unik lantaran menggunakan material batu bata merah, bukan batu andesit berstruktur biasa. Penamaan situs bersejarah ini merujuk warna batu bata merah yang dalam bahasa Jawa lokal disebut sebagai kata abang.

Baca juga: Sejarah Candi Gebang Peninggalan Mataram Kuno di Sleman

Para peneliti purbakala memperkirakan tempat peribadatan suci ini berdiri anggun pada rentang waktu abad ke-9 dan abad ke-10 Masehi. Kemudian, penempatan bangunan di atas puncak bukit berkaitan erat dengan kepercayaan masyarakat kuno yang menganggap area tinggi sebagai tempat suci.

Peninggalan Sejarah dan Arsitektur Candi Abang Berbahan Bata Merah

Sementara itu, data tertulis mengenai keberadaan situs budaya ini dicatat oleh Ijzerman pada tahun 1891 silam. Ijzerman mencatat tempat peribadatan ini dibangun dari batu bata merah keras saat berkunjung melihat tumpukan puing bekas lantai. Catatan Rapporten Van Den Oudheidkundigen Dienst tahun 1915 mengonfirmasi bahwa peninggalan candi tersebut telah runtuh total.

Bahkan, tokoh peneliti terkemuka NJ Krom pada tahun 1920 menulis bahwa peninggalan purbakala ini berada di area dataran Saragedug. Penemuan penting berupa lempengan prasasti berangka tahun 794 Saka atau 872 Masehi terungkap resmi pada tahun 1932. Kegiatan ekskavasi Balai Pelestarian Cagar Budaya DIY pada 2017 memperkirakan bahwa denah asli bangunan kuno ini berbentuk stupa.

Baca juga: Fakta Menarik Jejak Sejarah Candi Sari Peninggalan Mataram Kuno

Selanjutnya, bentuk stupa tersebut semakin memperkuat dugaan para ahli bahwa tempat suci ini difungsikan khusus bagi umat Buddha zaman dahulu. Kerusakan fisik bangunan kuno diperkirakan terjadi akibat bencana gempa bumi dahsyat yang melanda seluruh wilayah Yogyakarta pada 1867. Reruntuhan batu yang tertimbun tanah berabad-abad membentuk gundukan bukit hijau indah yang kini dijadikan tempat warga bersantai.

Cerita Mitos Sosok Pelindung dan Daya Tarik Wisata Alam

Masyarakat setempat meyakini mitos bahwa kawasan situs kuno ini dilindungi oleh sosok spiritual kuno bernama Kyai Jagal. Tokoh gaib berbadan besar tersebut dipercaya warga sekitar sanggup menjaga area bukit dari bahaya ancaman kerusakan alamiah. Kepercayaan lokal ini membuat warga masyarakat sekitar rutin merawat keasrian lingkungan situs bersejarah tersebut secara gotong royong.

Baca juga: Sejarah Candi Banyunibo Sebagai Warisan Kerajaan Mataram Kuno

Keindahan bukit hijau menyerupai Bukit Teletubbies ini sering dimanfaatkan para wisatawan lokal untuk menikmati panorama alam segar. Lanskap eksotis situs peninggalan kerajaan Mataram ini bahkan pernah terpilih sebagai lokasi syuting serial populer Gadis Kretek. Pengunjung dapat menikmati udara sejuk pedesaan sambil mengamati sisa peninggalan susunan batu bata kuno di lokasi bersejarah.

Akses jalan menuju lokasi cagar budaya ini sudah sangat baik dan dapat dilalui oleh armada kendaraan roda empat. Pemerintah daerah terus mengawal upaya pelestarian kawasan bersejarah ini demi menjaga warisan leluhur bangsa Indonesia yang bernilai. Rangkaian peninggalan sejarah Candi Abang ini sungguh menjadi bukti nyata kekayaan peradaban masa lalu tanah Jawa. (Muhafid/R6/HR-Online)

Read Entire Article
Berita Rakyat | Tirto News |