Sejarah Candi Bajang Ratu Majapahit di Mojokerto Jawa Timur

2 hours ago 4

harapanrakyat.com,- Pada dasarnya, sejarah Candi Bajang Ratu selalu memberikan kisah menarik bagi pecinta pelestarian budaya Kerajaan Majapahit Nusantara. Bangunan kuno ini terletak tepat di wilayah Dusun Kraton, Desa Temon, Kecamatan Trowulan, Mojokerto, Jawa Timur. Monumen peninggalan masa kejayaan Majapahit ini diperkirakan dibangun secara khusus pada sekitar abad keempat belas masehi.

Baca juga: Sejarah Candi Tikus Peninggalan Majapahit di Trowulan Mojokerto

Pada mulanya, situs megah kuno ini sebenarnya merupakan sebuah gapura tipe paduraksa atau pintu gerbang yang beratap. Oleh karena itu, berbagai arkeolog meyakini fungsinya sebagai pintu belakang menuju kompleks keraton pada zaman masa lampau. Selain itu, pendapat lain menyebutnya sebagai sebuah pintu masuk bangunan suci untuk memperingati wafatnya sang Raja Jayanegara.

Latar Belakang Sejarah Candi Bajang Ratu Era Majapahit

Dalam catatan sejarah, penguasa kedua Majapahit selalu dikenang abadi melalui candi yang kini dinamakan Bajang Ratu. Penamaan unik tersebut berasal dari kosa kata bajang yang berarti muda, serta kata ratu yang berarti raja. Berdasarkan penuturan legenda, Raja Jayanegara konon pernah terjatuh di gapura ini yang mengakibatkan kecacatan fisik pada tubuhnya.

Sementara itu, kitab kuno Negarakertagama mencatat dengan jelas peristiwa wafatnya sang raja pada tahun 1328 masehi silam. Kemudian, bagian bawah kaki gapura ini dihiasi oleh pahatan relief Sri Tanjung yang melambangkan proses pelepasan jiwa. Pembuatan relief tersebut memiliki makna simbolis kuat yang sangat berkaitan erat dengan penyucian jiwa mendiang sang penguasa.

Baca juga: Mengungkap Misteri dan Sejarah Candi Jawi di Pasuruan Jawa Timur

Di samping itu, keindahan ukiran relief candi ini tidak hanya berfungsi sebagai elemen dekoratif penghias fisik bangunan. Relief kepala kala, matahari, dan naga berkaki diyakini masyarakat kuno saat itu sebagai penolak segala mara bahaya. Dengan demikian, setiap detail ukiran monumen ini mencerminkan tingginya nilai spiritual agama perpaduan Hindu-Buddha zaman dahulu.

Keunikan Arsitektur dan Mitos Masyarakat Setempat

Lebih lanjut, pesona arsitektur khas bangunan gapura ini sangat memukau karena tersusun rapi dari material batu bata merah. Bagian anak tangga dan ambang pintunya secara khusus dibuat kokoh menggunakan material penyusun batu andesit yang tebal. Sejalan dengan hal tersebut, bangunan yang indah setinggi enam belas meter ini berdiri tegak di area taman.

Kemudian, bagian pintu portal utama peninggalan masa lampau ini terlihat sangat gagah dengan hiasan motif singa garuda. Motif binatang mitologi tersebut adalah lambang kesaktian dan juga simbol kekuasaan tertinggi di dalam hierarki Kerajaan Majapahit. Sayangnya, pesona peninggalan purbakala ini juga sangat sarat dengan mitos larangan gaib yang amat dipercaya oleh penduduk.

Baca juga: Menelusuri Sejarah Candi Badut, Jejak Tertua Peradaban Kerajaan Kanjuruhan di Malang

Penduduk lokal meyakini bahwa pejabat pemerintahan dilarang keras melintasi pintu gerbang candi agar terhindar dari nasib buruk. Akibatnya, para pejabat penting biasanya akan diarahkan berjalan memutar melewati area sisi kiri atau kanan monumen tersebut. Bahkan, tokoh sejarah Thomas Stamford Raffles konon pernah melanggar pantangan tersebut dan menerima surat mutasi kerja jabatannya.

Walaupun demikian, mitos dan kepercayaan lokal ini justru secara tidak langsung turut menjaga kelestarian candi dari kerusakan. Sehingga, setiap wisatawan yang datang selalu diimbau untuk menghormati kelestarian adat istiadat penduduk desa setempat dengan baik. Maka dari itu, nilai luhur dan sejarah Candi Bajang Ratu senantiasa menawarkan pesona perpaduan sempurna antara budaya dan mahakarya arsitektur Nusantara kuno. (Muhafid/R6/HR-Online)

Read Entire Article
Berita Rakyat | Tirto News |