harapanrakyat.com,- Menanggapi maraknya fenomena masalah anak di Kota Tasikmalaya, Jawa Barat, mulai dari kenakalan remaja hingga kekerasan anak, dan kekerasan seksual, Lembaga Taman Jingga mengambil langkah nyata dalam peringatan Hari Anak Nasional (HAN) 2026.
Melalui aksi yang lebih dari sekadar seremonial, lembaga ini mendeklarasikan gerakan “Rumah Aman, Anak Nyaman” untuk memperkuat ketahanan keluarga.
Direktur Lembaga Taman Jingga, Ipa Zumrotul Falihah menegaskan, momen HAN harus menjadi ruang refleksi bagi orang tua dalam memenuhi hak-hak anak. Hal ini sesuai dengan undang-undang dan Konvensi Hak Anak WHO/PBB.
Baca Juga: Peringatan HAN 2026 di Tasikmalaya Jadi Ruang Pemulihan Anak Korban Kekerasan
“Melihat kenyataan, banyaknya masalah anak itu bersumber dari masalah orang tua. Sehingga hari ini, di momentum Hari Anak Nasional, kita mendeklarasikan bersama Rumah Aman, Anak Nyaman,” kata Ipa, Minggu (2/8/2026).
Lembaga Taman Jingga Usung Konsep Rumah Aman, Anak Nyaman
Konsep “Rumah Aman, Anak Nyaman” yang diusung oleh lembaga tersebut menitikberatkan pada ketahanan jiwa dan emosional dalam keluarga. Bukan pada kondisi fisik bangunan rumah.
Ipa menjelaskan, figur ayah dan ibu diharapkan mampu menjadi tempat pulang yang aman. Sehingga anak merasa nyaman di dalam rumah mereka sendiri.
Berdasarkan riset pendampingan dan advokasi yang dilakukan Lembaga Taman Jingga, ditemukan anak yang bermasalah, baik sebagai korban maupun pelaku, hampir selalu berasal dari kondisi keluarga yang tidak harmonis.
“Anak menjadi korban geng motor, kenakalan remaja, atau kekerasan seksual di luar sana biasanya karena tangki jiwanya kosong, ketahanan keluarganya tak terisi,” jelas Ipa.
Baca Juga: Viral Video Bocah Dikeroyok karena Dituduh Maling di Tasikmalaya, KPAID Ungkap Fakta Mengejutkan
Dengan membangun bonding (ikatan emosional) yang kuat dan visi-misi pengasuhan yang harmonis, anak akan memiliki ‘imunitas’ mental yang kuat untuk menghadapi pengaruh buruk lingkungan luar.
Sebagai bentuk komitmen, deklarasi ini ditandai dengan pembubuhan tanda tangan bersama antara orang tua dan anak. Hal ini melambangkan kesepakatan untuk menciptakan lingkungan domestik yang mendukung tumbuh kembang anak.
“Orang tua dan anak sama-sama bertanda tangan untuk berkomitmen menciptakan keluarga yang harmonis, berbagi peran antara ayah dan ibu. Sehingga hak anak terlindungi dan mereka siap menjadi generasi emas 2045,” tambah Ipa.
Gerakan ini mendapat sambutan hangat dari warga, salah satunya Fitriani, peserta asal Indihiang. Selain mendapatkan edukasi mengenai pengasuhan, para peserta juga diperkenalkan kembali dengan berbagai permainan tradisional untuk merekatkan hubungan emosional.
“Bagus sekali untuk anak dan orang tua, bisa lebih meningkatkan kedekatan emosional. Diajarkan juga kegiatan tradisional, jadi orang tua tahu dan bisa mempraktikkannya di rumah,” ungkap Fitriani.
Ia juga menilai deklarasi ini menjadi pengingat penting bagi para orang tua di Kota Tasikmalaya, bahwa kebutuhan anak melampaui sekadar materi atau fasilitas fisik semata.
“Ini menyadarkan orang tua bahwa yang dimaksud rumah aman dan nyaman itu bukan sekadar memberikan fasilitas fisik. Tetapi juga kebutuhan non-fisik seperti emosional, perhatian, dan rasa kasih sayang,” pungkasnya. (Rafi/R3/HR-Online/Editor: Eva)

10 hours ago
9

















































