Temuan Fosil Jian changmaensis, Predator dengan Empat Sayap

5 hours ago 4

Fosil Jian changmaensis ditemukan di China. Fosil ini rupanya milik predator udara yang hidup di Zaman Kapur. Saat penemuan fosil tersebut, ilmuwan lantas menelitinya dan berhasil mengungkap berbagai informasi menarik.

Baca Juga: Penemuan Fosil Tulang Ekor Ornithomimosaurs, Dinosaurus Mirip Burung Unta

Penemuan Fosil Jian changmaensis

Fosil dinosaurus baru ini ditemukan di China barat laut. Lebih tepatnya di cekungan Changma yang ada di Provinsi Gansu. Saat penemuan tersebut, ilmuwan meyakini bahwa hewan purba ini kemungkinan besar hidup di periode Kapur Awal. Hal ini berarti hidupnya sekitar 120 juta tahun yang lalu.

Penemuan ini sendiri sudah terpublikasi dalam jurnal Annals of Carnegie Museum. Penemuan ini turut memperlihatkan bahwa hewan purbanya termasuk predator arboreal. Hewan ini berburu dari pepohonan lantas memangsa burung yang ada di danau besar di zaman dulu.

Karakteristik Jian changmaensis

Hewan purba ini memiliki karakteristik fisik yang unik. Hal ini karena bentuk hewan purba tersebut mirip dengan naga. Akan tetapi, hewan ini memiliki empat sayap.

Baca Juga: Penemuan Fosil Rahang Gurita Purba, Penguasa Laut Dalam

Lebih lanjut, hewan tersebut juga termasuk kelompok microraptor. Hal ini berarti dinosaurus berukuran kecil yang berbulu dan bisa meluncur di udara. Dalam penelitian fosil Jian changmaensis secara lebih mendalam pun, ilmuwan juga meyakini bahwa hewan tersebut memiliki bulu yang panjang di bagian kaki dan lengannya.

Karena bulu panjang tersebutlah yang membuat hewan tersebut seperti memiliki empat permukaan sayap. Dari karakteristik ini, peneliti juga menyebut kemungkinan besar hewannya berpindah dari satu pohon ke pohon lainnya. Adaptasi ini sekilas mengingatkan kita dengan tupai terbang modern yang hidup di zaman sekarang.

Untuk ukurannya memang cenderung kecil. Akan tetapi, jika kita bandingkan dengan microractor lainnya, ukuran hewan purba ini termasuk besar. Tulang lengan atasnya saja memiliki panjang sekitar 10 cm. Kemudian saat membentangkan sayap, kemungkinan panjangnya sampai 1,2 m. Hal ini setara dengan burung hantu gudang yang modern.

Dinosaurus Non-unggas Sekaligus Predator

Apabila melihat karakteristik tadi, tentu banyak yang mengira bahwa hewan purba ini adalah sejenis burung. Nyatanya peneliti menyebutnya bukan termasuk burung. Bahkan fosil Jian changmaensis ini tergolong non-unggas.

Perlu untuk diketahui bahwa Changma Basin yang ada di China termasuk situs ditemukannya banyak fosil burung purba. Di situs ini juga banyak dijumpai tulang burung patah. Tulangnya mirip pelet yang dimuntahkan burung hantu modern.

Namun siapa sangka jika temuan kali ini bukan termasuk fosil burung purba. Bahkan temuan fosil ini jadi satu-satunya spesimen hewan purba non-unggas dari 100 fosil burung lebih di Changma. Selain terungkap bahwa hewan purba ini non-unggas, rupanya juga predator.

Peneliti menyebut hewan purba berbulu ini memangsa burung purba yang ada di masa itu. Ia juga termasuk sepupu dekat Velociraptor. Untuk bentuknya, sekilas mirip dengan naga kecil.

Perlu untuk diketahui pula bahwa keberadaan hewan purba ini memberi petunjuk baru bagi kalangan peneliti. Walau belum bisa dibuktikan secara langsung, namun kalangan ilmuwan menduga bahwa hewan purba tersebut mungkin saja berperan sebagai pemangsa burung. Kemudian meninggalkan jejak makanan yang tak lain berupa kumpulan tulang tadi.

Dugaan seputar Jian changmaensis ini semakin kuat karena ada temuan fosil microraptor lainnya. Dalam penemuan tersebut terungkap bahwa hewan purbanya memangsa berbagai binatang. Sebut saja mamalia kecil, ikan, kadal sampai burung. Hal ini menunjukkan bahwa temuan hewan purba tersebut bisa mengungkap perilaku predator.

Mengungkap Asal-usul Burung Modern

Ternyata temuan fosil hewan ini juga bisa memberi informasi penting tentang asal-usul burung modern. Apalagi microraptor masih berkerabat dekat dengan garis evolusi burung. Keduanya memiliki kombinasi karakteristik unik. Mulai dari cakar yang tajam, tubuh berbulu dan kaki raptor sabit.

Apabila mencermati microraptor, maka bisa mengetahui gambaran nenek moyang terdekat burung untuk pertama kalinya. Karena hal itu, mempelajari hewan purba tersebut bisa membantu peneliti dalam memahami kemampuan terbang hewan purba yang berevolusi jadi burung modern seperti sekarang ini.

Baca Juga: Penemuan Fosil Koloni Bakteri Kuno, Sempat Dikira Jejak Hewan Laut Tertua

Fosil Jian changmaensis yang ditemukan di China memang terbilang terbatas. Hal ini karena penemuan fosil Jian changmaensis tersebut hanya berupa sebagian bahu serta lengan kiri saja. Fosil tersebut terawetkan di dalam tiga dimensi. Harapannya, ada penelitian secara lebih mendalam lagi untuk mengungkap informasi tak kalah penting lainnya. (R10/HR-Online)

Read Entire Article
Berita Rakyat | Tirto News |