Terjepit Harga Kedelai dan Tarif Listrik, Perajin Tahu Tempe di Tasikmalaya Bertahan Saat Rupiah Melemah

8 hours ago 8

harapanrakyat.com,- Melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) mulai memukul telak sektor usaha mikro. Ratusan perajin tahu dan tempe di wilayah Tasikmalaya, Jawa Barat, kini terpuruk akibat melonjaknya harga bahan baku kedelai impor. Demi bertahan hidup, mereka terpaksa memangkas volume produksi dan menaikkan harga jual ke konsumen.

Anggota Himpunan Perajin Tahu dan Tempe Tasikmalaya, Imin Muslimin mengungkapkan, merosotnya kurs rupiah hingga menembus angka Rp 18.066 per dolar AS berimbas langsung pada biaya operasional. Situasi ini sangat berat bagi keberlangsungan usaha mereka.

Menurut Imin, lonjakan harga kedelai impor berimbas pada sekitar 400 pabrik dan perajin tahu tempe yang tersebar di Kota dan Kabupaten Tasikmalaya. Mayoritas dari mereka kini kompak mengurangi kuota produksi harian agar tidak gulung tikar.

Baca Juga: Pengrajin Tahu di Kota Banjar Putar Otak saat Harga Kedelai dan Plastik Melambung

“Harga kacang kedelai yang semula Rp 9.200 per kilogram, kini merangkak naik menjadi Rp 11.100 per kilogram. Imbasnya, kami terpaksa mengurangi produksi, yang biasanya 4 kuintal sekarang menjadi 3 kuintal saja,” ungkapnya, Minggu (7/6/2026).

Perajin Tahu Tempe di Tasikmalaya Kompak Naikan Harga Jual

Meskipun pasokan dan penjualan ke pasar tradisional terpantau masih normal, para perajin terpaksa menaikkan harga jual tahu sebesar Rp 50 hingga Rp 100 per biji secara serentak. Hal ini demi menghindari kerugian yang lebih besar.

Imin mengaku hingga saat ini belum ada rencana dari para perajin untuk melakukan aksi mogok produksi. Langkah realistis yang bisa diambil saat ini hanyalah melakukan penyesuaian harga jual berdasarkan ukuran tahu maupun tempe.

Untuk tahu ukuran kecil, harga yang semula Rp 450 kini naik menjadi Rp 500 per biji. Sementara untuk ukuran sedang naik dari Rp 550 menjadi Rp 600, dan ukuran besar yang semula Rp 1.000 disesuaikan menjadi Rp 1.100 per biji. Meski begitu, para perajin tahu tempe di Tasikmalaya tetap mempertahankan ukuran produk agar konsumen tidak kecewa.

Baca Juga: Pengusaha Tahu Tempe di Tasikmalaya Terjepit Kenaikan Harga Bahan Baku, Keuntungan Kini “Setipis Tisu”

Kondisi para pelaku usaha ini kian terjepit lantaran kenaikan harga tidak hanya terjadi pada kedelai. Efek domino dari ketegangan geopolitik di Timur Tengah juga memicu lonjakan harga barang pendukung lainnya secara signifikan.

Imin merinci, harga plastik pembungkus melonjak dari Rp 720 ribu menjadi Rp 1 juta per bal. Selain itu, harga kayu bakar untuk proses memasak naik dari Rp 1,6 juta menjadi Rp 1,8 juta per truk.

Kemudian, garam krosok ukuran 50 kilogram meroket dari Rp 90 ribu menjadi Rp 150 ribu per karung. Serta harga kunyit naik dari Rp 5.500 menjadi Rp 9.500 per kilogram.

Tarik Listrik Naik dan Tekanan dari Sektor Pasar

Baca Juga: Harga Kedelai Melonjak, Perajin Tahu dan Tempe di Kawali Ciamis Tertekan

Beban operasional yang harus ditanggung perajin tahu tempe di Tasikmalaya kian membengkak setelah tarif listrik ikut naik. Imin mencontohkan, untuk pemakaian daya 5.500 watt, tagihan pada bulan Mei yang biasanya berkisar Rp 1.450.000 membengkak hingga Rp 1.672.000.

Guna menyiasati biaya upah yang tidak lagi sanggup tertutupi, sejumlah pemilik pabrik terpaksa melakukan efisiensi tenaga kerja. Jumlah pekerja yang semula 8 orang, kini dipangkas menjadi 5 orang dengan sistem kerja bergilir (rolling) setiap hari.

Di sisi lain, tantangan baru juga muncul dari sektor pasar. Keberadaan dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) untuk program Makan Bergizi Gratis di Kecamatan Mangkubumi justru menekan para perajin untuk memberikan harga yang jauh lebih murah. Sehingga margin keuntungan perajin kian menipis. (Apip/R3/HR-Online/Editor: Eva)

Read Entire Article
Berita Rakyat | Tirto News |