harapanrakyat.com,- Di Kabupaten Ciamis, peninggalan masa lampau tidak melulu tentang konstruksi batu atau artefak kuno. Namun, cagar budaya juga bisa menjadi benteng pertahanan sejarah di Ciamis, yang mewujud pada rimbunnya hutan larangan, ceruk lembah, jernihnya mata air, hingga deretan perbukitan yang dikeramatkan secara turun-temurun.
Baca Juga: Momentum Upacara Adat Tradisi, Disbudpora Ciamis; Bentuk Rasa Syukur Masyarakat di Bulan Maulid
Uniknya, sistem ekologi di kawasan tersebut tetap terjaga utuh berkat balutan norma adat. Tabu sosial atau pamali terbukti ampuh mencegah penebangan liar. Sekaligus, menjadikan areal sekitar situs sebagai benteng pertahanan ekosistem yang alami.
Fenomena inilah yang memantik keterlibatan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Jakarta. Berkolaborasi dengan Dinas Kebudayaan, Kepemudaan, dan Olahraga (Disbudpora) Kabupaten Ciamis, tim gabungan ini menggelar riset lapangan sejak Minggu hingga Senin (23-24/8/2026).
Kepala Disbudpora Ciamis, Dian Budiyana menjelaskan, kajian ilmiah ini bertujuan membongkar peran situs sejarah yang tidak sekadar menjadi artefak kuno. Melainkan, instrumen penting dalam mitigasi bencana dan perlindungan lingkungan.
”Kami menggandeng BRIN untuk membedah kosmologi ekosistem situs-situs keramat di Ciamis. Kami ingin melihat sejauh mana kearifan lokal ini berkontribusi nyata terhadap stabilitas lingkungan dan pencegahan bencana,” jelasnya, Rabu (26/8/2026).
Menjaga Keseimbangan Lewat Konservasi Cagar Budaya Ciamis
Dalam riset tersebut, Disbudpora Ciamis memandu peneliti BRIN menyusuri berbagai titik lokasi, baik yang sudah berstatus cagar budaya maupun yang masih dalam proses pengusulan. Sebagian besar kawasan ini memiliki topografi strategis sebagai penyangga pemukiman dan resapan air.
Salah satu fokus utamanya adalah Kampung Adat Kuta. Vegetasi rimbun di areal situs ini berada tepat di atas zona pemukiman warga, sehingga berfungsi sebagai benteng alam penahan erosi.
”Sistem pantangan atau pamali yang dianut warga Kampung Kuta secara otomatis membatasi eksploitasi hutan. Tanpa disadari, kebudayaan lokal telah menjadi garda terdepan pelestarian alam,” terangnya.
Baca Juga: Empat Tradisi Tatar Galuh Ciamis Resmi Masuk Warisan Budaya Tak Benda Jawa Barat
Di Kecamatan Panawangan, yakni di Situs Nagarapageh Raden Undakan Kalang Sari, juga ditemukan pola serupa. Situs ini ada di elevasi yang lebih tinggi dari perumahan penduduk, kawasan hijau di situs ini sukses menjaga kelangsungan mata air warga sekaligus meminimalisasi risiko tanah longsor.
Perjalanan riset kemudian bergeser ke Situs Geger Emas di Desa Ciomas, Kecamatan Panjalu, wilayah yang telah mengantongi status Cagar Budaya Kabupaten Ciamis sejak 2022.
Di Geger Emas, regulasi adat setempat melarang keras penyadapan Pohon Aren (Nira). Bahkan, kayu dari pohon yang roboh karena faktor alam tidak boleh dimanfaatkan, dan wajib dibiarkan melapuk secara alami untuk menjaga siklus hara.
”Ada ritual penghijauan berkala yang dilakukan masyarakat di luar areal inti situs. Langkah konsisten ini juga menjadi modal penting dalam pengusulan Geger Emas sebagai Warisan Budaya Tak Benda (WBTB) Jawa Barat,” tambah Dian.
Pangrumasan di Ciamis Disiapkan untuk Kajian Cagar Budaya
Selain Geger Emas, tim riset juga mengevaluasi Situs Pangrumasan di Kecamatan Banjarsari. Data komprehensif dari BRIN ini nantinya akan dijadikan fondasi ilmiah untuk penetapan status cagar budaya Pangrumasan pada 2027 mendatang.
Sejumlah titik vital lain seperti kawasan lereng Gunung Sawal, Karangkamal, hingga Situs Balaniksa di Bojongmengger (Cijeungjing) turut disisir, agar keberadaannya di bantaran sungai dan lembah tidak terancam akumulasi erosi.
Bagi Dian, predikat Ciamis sebagai Kota Seribu Situs membawa konsekuensi logis. Pengelolaan situs budaya tidak boleh dilepaskan dari tata lingkungan di sekitarnya.Menurutnya, kunci utama dari daya tahan ekosistem ini terletak pada kesadaran kolektif masyarakat lokal.
Baca Juga: Dua Museum di Ciamis Mendapatkan NPNM, Bukti Pengakuan Pelestarian Budaya Galuh
”Jika masyarakat tidak peduli, benteng alam ini pasti sudah tergerus zaman. Kunci utamanya adalah pemeliharaan berkelanjutan. Bukan hanya pada fisik situsnya, tetapi pada ekosistem pendukungnya agar memberi manfaat ekonomi dan keselamatan bagi warga,” pungkasnya. (Ferry/R5/HR-Online/Editor: Adi Karyanto)

4 hours ago
9

















































