Kulit kayu masoi merupakan salah satu rempah asli Indonesia yang menyimpan jejak panjang dalam perdagangan Nusantara. Berasal dari tanah Papua, kulit kayu masoi punya harga sangat tinggi sejak masa lampau. Pemanfaatan komoditas ini bahkan berkaitan erat dengan sejarah kolonial Belanda.
Baca Juga: Sejarah Rempah Kemukus, Komoditas Nusantara yang Pernah Kuasai Pasar Eropa
Pada masa kolonial Belanda, masoi menjadi komoditas yang menarik perhatian karena nilai sekaligus kegunaannya. Keberadaan rempah tersebut memperlihatkan bahwa kekayaan Nusantara tidak hanya berasal dari pala, cengkeh, atau lada. Papua turut menyimpan tanaman aromatik yang pernah memiliki posisi krusial di pasar internasional.
Mengenal Kulit Kayu Masoi
Kulit masoi atau mesoyi berasal dari kayu pohon Cryptocarya massoy yang termasuk dalam famili Lauraceae. Famili tersebut juga menaungi sejumlah tanaman aromatik lain. Tak terkecuali kayu manis. Karena itu, masyarakat kerap menyebut masoi sebagai salah satu “kembaran” dari kayu manis. Meski demikian, keduanya tetap berbeda.
Pohon masoi dapat tumbuh di kawasan Papua serta menjadi bagian dari kekayaan hayati wilayah tersebut. Masyarakat memanfaatkan bagian kulit batangnya sebagai bahan rempah. Kulitnya memiliki aroma hangat yang kuat dan karakter aromatik khas. Secara fisik, kulit masoi memiliki tekstur lebih tebal dengan serat relatif kasar.
Karakter itu membuatnya berbeda dari kulit kayu manis yang lebih umum digunakan dalam masakan. Aroma masoi menjadi salah satu keunggulan utamanya. Kulit kayu ini mengandung minyak atsiri, termasuk massoia lactone, senyawa yang memberikan karakter aroma khas. Kandungan ini pula yang membuat masoi memiliki nilai dalam berbagai pemanfaatan tradisional.
Rempah Masoi Tarik Atensi Bangsa Eropa
Sejarah kulit kayu masoi tidak dapat dipisahkan dari jaringan perdagangan rempah di Nusantara. Masyarakat kepulauan Maluku, termasuk pedagang dari Seram, disebut telah memperdagangkan masoi dari wilayah Papua sebelum masuknya kolonialisme modern. Jalur perdagangan tersebut menunjukkan hubungan erat antara Papua dan wilayah kepulauan lainnya.
Baca Juga: Rempah-rempah yang Dicari Bangsa Eropa, Salah Satunya Kunyit
Masoi tidak hanya menjadi komoditas lokal, tetapi juga bergerak mengikuti jaringan perdagangan antarpulau. Ketika Belanda memperluas pengaruhnya di Nusantara, berbagai komoditas aromatik bernilai ekonomi menjadi perhatian. Kulit kayu masoi termasuk salah satu rempah yang memiliki nilai karena aroma dan kandungan minyak atsirinya.
Permintaan terhadap masoi kemudian membuat tanaman tersebut memiliki posisi tersendiri dalam perdagangan. Sejarahnya memperlihatkan pola yang serupa dengan banyak rempah Nusantara lainnya. Kekayaan alam lokal dapat berubah menjadi komoditas perdagangan ketika memiliki nilai bagi masyarakat dari wilayah lain.
Manfaat Kulit Masoi Sejak Masa Lampau
Masyarakat telah mengenal kulit kayu masoi jauh sebelum rempah ini menjadi bagian dari perdagangan pada masa kolonial. Penggunaannya berkembang dalam berbagai kebutuhan. Apalagi mengingat karakter aromatik serta kandungan alaminya yang luar biasa. Beberapa manfaat umum sejak masa lampau meliputi:
1. Sebagai Bahan Obat Tradisional
Kulit kayu masoi secara turun-temurun masyarakat manfaatkan sebagai bahan ramuan tradisional. Masyarakat menggunakannya dalam campuran herbal untuk membantu meredakan sejumlah keluhan. Misalnya saja pegal-pegal dan nyeri pada persendian. Masoi juga dapat menjadi salah satu bahan campuran jamu.
Pemanfaatan tersebut memperlihatkan bagaimana masyarakat dahulu mengolah tanaman hutan menjadi bagian dari pengobatan tradisional. Meski demikian, penggunaan tradisional tersebut tidak dapat disamakan dengan bukti khasiat medis modern. Penelitian mengenai kandungan masoi masih terus berkembang untuk memahami potensinya secara lebih mendalam.
2. Jadi Bahan Wewangian dan Pewarna
Selain pengobatan tradisional, rempah masoi juga berguna sebagai bahan wewangian. Aromanya yang kuat membuat rempah ini dapat masyarakat olah dalam pembuatan ratus atau berbagai kebutuhan pengharum tradisional. Bagi bangsa Eropa di masa lalu, bahan-bahan aromatik seperti masoi tentu mampu memenuhi kebutuhan industri berbasis minyak atsiri.
Pada masa lalu, masyarakat juga memanfaatkan masoi sebagai bahan pewarna merah kecoklatan. Pemanfaatan tersebut menambah nilai ekonominya karena satu jenis tanaman dapat memenuhi kebutuhan yang berbeda-beda. Ini membuat peluangnya di pasar internasional pun semakin terbuka lebar.
Baca Juga: Jejak Sejarah Rempah Kapulaga hingga Menyebar ke Seluruh Dunia
Pada akhirnya, masoi bukan hanya kulit dari kayu yang menghasilkan aroma khas. Lebih dari itu, kulit kayu masoi menyimpan rahasia luar biasa di masa lampau hingga sekarang. Di era modern, tanaman rempah ini masih bisa ditemukan di sejumlah wilayah Papua. Termasuk Nabire, Kaimana, Fakfak, Manokwari, Merauke dan Jayapura. (R10/HR-Online)

4 hours ago
8

















































