tirto.id - Rasa kecewa Dala terbayarkan seketika saat kabar kepastian perjalanan umrahnya yang molor selama tiga bulan akhirnya menemukan titik terang. Perempuan berusia 23 tahun ini seharusnya berangkat pada November 2024 lalu. Namun, dengan alasan masalah pada pembuatan paspor dan sulit mendapatkan hotel, agen travel yang dipakainya baru dapat memberangkatkan pada 22 Februari 2025.
Kondisi Dala terbilang beruntung, pasalnya di luar sana masyarakat berbondong-bondong memburu ibadah umrah pada Ramadhan meskipun harus merogoh kocek yang lumayan dalam karena tingginya peminat. Terlebih, banyak masyarakat muslim mempercayai keutamaan ibadah pada bulan suci Ramadhan, utamanya dalam mengejar malam Lailatul Qadar atau malam yang disebut lebih baik daripada seribu bulan.
Meskipun keberangkatan ini tak sesuai rencana awal, Dala menyebut hal ini bukan masalah besar sebab penundaannya menjadi sebuah rezeki yang diinginkan banyak umat muslim di seluruh dunia. Dia tak menyangka, penantian yang dulu dianggapnya harapan kosong kini berganti haru. Apalagi, keberangkatannya bersama kakak dan bibinya itu memakai tarif umrah normal seperti pada bulan lainnya.
“Akhirnya berangkat di Februari kemarin. Saya ambil baiknya, karena mungkin rezeki dapat Ramadhan di sana,” ujar Dala bercerita kepada Tirto pada (16/3/2025).
Dala berangkat tepat sepekan sebelum masuk Ramadhan dalam rombongan yang berisi 44 jemaah dari Indonesia. Setelah perjalanan yang cukup panjang, Mekkah menyambutnya dengan lautan manusia. Jemaah dari berbagai negara berbondong-bondong mendatangi Mekkah dan mengisi setiap sudut Masjidil Haram, bahkan Dala berada pada titik merasa kesulitan menemukan tempat untuk melaksanakan salat walau telah datang lebih jauh lebih awal.
Perasaan haru menyelimuti dirinya, semua yang dulu hanya pada angannya kini nampak secara nyata. Teriknya matahari di Mekkah kala itu bahkan tak mengganggu kenyamanan ibadahnya sama sekali. Alih-alih merasa kepanasan dan bercucuran keringat, Dala malah merasakan sejuk kala menjalankan ibadah di tanah suci itu.
“Karena itinerary travel kami (ke) Mekkah dulu baru ke Madinah, saya cukup kaget saat tiba di Mekkah karena padatnya jemaah-jemaah, banyak sekali,” ujarnya.
Setelah melaksanakan rangkaian umrahnya di Mekkah, Dala kemudian melanjutkan ibadah di tempat kedua, yaitu Madinah. Di kota ini barulah dia merasakan atmosfer Ramadhan dengan cara yang tak pernah ia alami sebelumnya. Duduk di antara ribuan jemaah sambil menunggu pembagian takjil dan berkumandangnya azan, melaksanakan salat tarawih secara berjamaah, tadarus Al-Qur’an, hingga menghabiskan malam dengan beritikaf bersama jemaah lainnya dari seluruh penjuru dunia.
Namun, saat hari pertama melaksanakan tarawih, Dala merasakan dingin yang tak biasa. Malam itu, suhu di Madinah turun hingga mencapai angka 14 derajat celcius. Hembusan angin juga seperti tak memberi ampun, mengayun mengikuti setiap ayat yang dilantunkan oleh imam salat.
“Kebetulan Tarawih pertama saya di bagian pelataran Masjid Nabawi, dinginnya malam itu sampai 14 derajat dan anginnya itu membuat semakin terasa dingin. Tarawih di sana kan 8 rakaat ditambahkan dengan witir 2 rakaat ditambah 1 rakaat. Meskipun bacaan imamnya panjang tapi tidak terasa capeknya,” tutur Dala.
Berbeda dengan Dala yang tak khusus merencanakan ibadah umrah saat Ramadhan, Zaki Islami, justru sengaja memilih bulan suci sebagai waktu perjalanan ibadahnya. Dia mempercayai bahwa umrah yang dilakukan pada Ramadhan memiliki keutamaan khusus dan nilai spiritual yang lebih besar dibandingkan waktu lainnya.
“Menjalankan ibadah umrah di Ramadhan banyak sekali pahala yang bisa diraih. Seperti salah satu hadis yang menyebutkan ‘Jika Ramadan tiba, berumrah-lah saat itu karena Umrah Ramadhan senilai dengan haji’ dan ‘Sesungguhnya Umrah di bulan Ramadhan seperti berhaji bersamaku (Nabi Muhammad SAW)’,” tutur Zaki kepada Tirto pada Selasa (18/3/2025).
Zaki sudah merencanakan keberangkatannya jauh-jauh hari dan berangkat pada 8 Maret 2025 menggunakan jasa agen travel. Bagi dia, menggunakan layanan travel lebih praktis karena segala keperluan berupa telah diurus sehingga dirinya tinggal hanya fokus mengurusi perlengkapan pribadi dan kesiapan lainnya.
Serupa dengan yang dialami Dala, Zaki juga merasakan perbedaan signifikan antara kondisi Mekkah dan Madinah. Kepadatan di Masjidil Haram yang tinggi membuat dirinya perlu datang 2 jam menjelang waktu salat agar dapat masuk dan menempati tempat. Pasalnya, jika azan telah berkumandang jemaah akan ditahan di luar oleh petugas.
“Ketika berada di Masjidil Haram, para jemaah akan ditahan oleh askar (petugas) jika datang setelah azan (berkumandang),” ujarnya.
Menjalani Ramadhan pertama kalinya di Tanah Suci, salat tarawih menjadi pengalaman baru bagi Zaki. Meskipun hanya terdiri dari 8 rakaat, dia merasa kaget karena durasi salatnya jauh berbeda dibandingkan dengan di Indonesia yang hanya sekitar 30 menit. Dia merasa perlu waktu membiasakan diri dengan durasi dan sistem tarawih yang lebih lama ini.
“Di Mekkah dan Madinah bisa sampai dua jam,” ujarnya.
Tren Umrah Meningkat, Harga Naik Signifikan
Fenomena kepadatan jemaah yang dialami Dala dan Zaki sejalan dengan data yang dihimpun Asosiasi Muslim Penyelenggara Haji dan Umrah Republik Indonesia (AMPHURI). Sekjen AMPHURI, Zaki Zakaria, mengatakan permintaan umrah 2025 meningkat drastis dibandingkan tahun sebelumnya. Sejak Januari hingga awal Maret, jemaah terus mengalami penambahan hingga ketersediaan tiket dan hotel semakin menipis.
Lonjakan jemaah juga disebut terus terjadi hingga mencapai puncaknya pada 10 hari terakhir Ramadhan. Di mana mayoritas umat Islam dari penjuru dunia berlomba-lomba meraih Lailatul Qadar di 27 Maret mendatang.
“Bahkan ada media internasional melaporkan bahwa di 10 hari pertama Ramadhan yang datang melaksanakan umrah mencapai 2 juta jemaah umrah dari seluruh dunia termasuk domestik, biasanya akan terus meningkat puncaknya nanti tanggal malam 27 Ramadhan, karena mayoritas warga Saudi dan beberapa negara Arab lainnya meyakini malam 27 Ramadhan adalah malam Lailatur Qadar,” ujar Zaki saat dihubungi Tirto pada Selasa (18/3/2025).
Tingginya peminat ibadah umrah berdampak langsung pada tingginya biaya perjalanan, termasuk pada harga tiket dan akomodasi yang naik sekitar 3 hingga 7 persen dibandingkan tahun lalu. Melambungnya harga tentu menjadi tantangan bagi penyelenggara haji dalam memberikan pemahaman kepada para jemaah.
“Harga yang lebih mahal dari bulan-bulan yang lain, khususnya 10 hari terakhir Ramadhan adalah periode super high season/peak season, di mana harga hotel paling mahal dalam satu musim. Jemaah perlu memahami kenapa harga umrah ada kenaikan,” ujarnya.
Konsul Haji KJRI Jeddah, Nasrullah Jasam, menilai lonjakan angka jemaah umrah tak terlepas dari kemudahan yang diberikan Arab Saudi untuk melancarkan visinya dalam meningkatkan jumlah jemaahnya pada 2030. Misalnya, Arab Saudi yang memperpanjang masa berlaku visa umrah bagi jemaah haji Indonesia dari 30 hari menjadi 90 hari. Selain itu, jemaah umroh saat ini juga diberikan kebebasan untuk mengunjungi kota selain Mekkah, Madinah, dan Jeddah.
Apabila ditelisik lebih, Nasrullah melihat Arab Saudi juga tengah gencar melakukan pembangunan museum-museum dan wisata historis. Tujuannya tentu untuk menarik wisatawan sehingga jemaah yang datang bisa memiliki banyak opsi untuk dikunjungi. Terkait dengan tingginya biaya saat puncak Ramadhan, menurut dia, hal ini sebagai hukum ekonomi karena keterkaitan dengan banyaknya permintaan pasar.
“Jadi jemaah umrah bisa jalan-jalan ke Thaif, ke Al Ula yang merupakan warisan budaya yang sangat lama, peradabannya yang sangat lama sekali, seperti Petra di Yordania dan tempat-tempat yang lain,” ujar Nasrullah saat dihubungi Tirto pada Jumat (21/3/2025).
Selain kemudahan yang ditawarkan, faktor meningkatnya jemaah umrah disebut-sebut karena masa tunggu yang lama. Pasalnya, masa tunggu haji di Indonesia yang mencapai 20 hingga 30 tahunan itu tak jarang mengubur harapan para calon jemaah lanjut usia yang pada awalnya berniat beribadah haji.
“Masa tunggu di Indonesia, 20 sampai 30 tahun gitu. Jadi mereka mungkin yang sudah sepuh memilih untuk umrah daripada ibadah haji,” katanya.
Kecelakaan Bus Umrah Jadi Pelajaran Penting
Sebuah bus yang mengangkut jemaah umrah asal Indonesia mengalami kecelakaan di Wadi Qudaid (Madinah-Mecca Road), yang berjarak sekitar 150 km dari Jeddah, Arab Saudi, pada Kamis (20/3/2025) pukul 13.30 waktu setempat atau 17.30 WIB.
Konsulat Jenderal (Konjen) Republik Indonesia (KJRI) di Jeddah, Yusron Ambari, mengatakan total WNI yang menjadi korban dalam kecelakaan tersebut sebanyak 20 orang dan enam di antaranya dinyatakan meninggal dunia. Empat korban meninggal dunia akan dimakamkan di Arab Saudi.
“Terkait dengan korban, total WNI jamaah umrah yang menjadi korban dalam kecelakaan di dalam bus tersebut ada 20 orang, termasuk 2 orang petugas muthawif dan travel. Enam di antaranya meninggal dunia dan selebihnya luka-luka,” ujar Yusron dalam konferensi pers yang digelar secara daring pada Jumat (21/3/2025).
Berdasarkan laporan Kepolisian Lalu Lintas Provinsi Mekkah dengan nomor 6003847369 tertanggal 21 Maret 2025, KJRI melaporkan bahwa kecelakaan tersebut terjadi ketika sebuah Jeep Land Cruiser double cabin yang melaju dari arah berlawanan melewati median jalan dan bertabrakan dengan bus yang mengangkut jamaah umrah asal Indonesia.
Benturan tersebut menyebabkan bus terguling dan kedua kendaraan terbakar. Jeep dengan plat nomor Qatar tersebut dikemudikan oleh seorang warga negara Pakistan dan seorang penumpang warga negara Bangladesh. Keduanya juga meninggal dunia di lokasi kejadian.
Menteri Agama (Menag), Nasaruddin Umar, mengatakan bahwa kejadian ini akan menjadi acuan dalam evaluasi. Dia menyebut akan memperketat regulasi terkait dengan sopir untuk menghindari hal yang tak diinginkan.
“Itu akan jadi acuan kita. Kan ada regulasi kita supir Makkah-Madinah harus dua orang supir. Enggak boleh sopir tunggal, ngantuk segala macam. Jalanannya licin luas begitu, walau ada pembatasan kilometernya, tapi namanya ngantuk ya,” ujar Nasaruddin kepada wartawan di Istana Kepresidenan, Jakarta, Jumat (21/3/2025).
Di sisi lain, Konsul Haji KJRI Jeddah, Nasrullah Jasam, menilai keamanan berkendara di Arab Saudi sebenarnya memiliki regulasi yang ketat terkait kelayakan operasional, apalagi pada Ramadhan di mana Arab Saudi tengah diminati para jemaah yang hendak beribadah. Namun, kecelakaan maut ini tetap akan menjadi pelajaran penting dan perbaikan bagi pemerintah Arab Saudi.
“Saya kira ini menjadi pelajaran penting ya. Sebetulnya keamanan di Arab Saudi sangat luar biasa ketat ya, untuk kendaraan juga demikian. Kendaraan yang beroperasi harus dipastikan yang lulus uji KIR, speed-nya juga dibatasi untuk bus. Ya memang ini bagian dari kecelakaan yang tidak kita inginkan ya. Mudah-mudahan ke depan tidak ada lagi,” ujar Nasrullah, Selasa.
tirto.id - News
Reporter: Rahma Dwi Safitri
Penulis: Rahma Dwi Safitri
Editor: Anggun P Situmorang