tirto.id - Memang sudah jadi kodrat manusia untuk tidak pernah puas. Di saat menganggur, mereka mengeluh karena tak punya pekerjaan. Lalu, begitu sudah memiliki pekerjaan, keluhan tidak bakal serta merta berhenti begitu saja. Beban terlalu berat, jam kerja terlalu panjang, lingkungan kerja tidak menyenangkan; hal-hal tersebut kerap kali dikeluhkan oleh para pekerja.
Mungkin kita bisa dengan mudah nyeletuk, "Kalau memang kau tidak bahagia, kenapa tidak resign saja?" Akan tetapi, agi banyak orang, situasinya tidak sesederhana itu. Ada tanggungan yang harus mereka penuhi. Basanya, mereka yang enggan resign meski tidak bahagia ini adalah orang-orang yang mendapat kompensasi finansial cukup bagus dari tempat mereka bekerja. Orang-orang ini merasa sayang meninggalkan pekerjaannya karena bayarannya terlalu bagus untuk ditinggalkan.
Fenomena inilah yang kemudian dinamai borgol emas (golden handcuff), yakni situasi ketika seseorang terjebak dalam pekerjaan yang tidak disukainya karena profesi tersebut mampu menjamin kesejahteraan mereka secara finansial. Orang Melayu punya pepatah jitu untuk menggambarkan kegalauan macam ini: "hidup segan, mati tak mau".
Awalnya, fenomena borgol emas hanya berlaku bagi orang-orang bergaji tinggi saja. Namun, lambat laun, seiring dengan makin buruknya situasi ekonomi dan sulitnya mencari pekerjaan, situasi tersebut juga bisa membelenggu mereka yang sebetulnya bergaji pas-pasan. Sebab, bagi mereka, risiko yang dihadapi ketika resign jauh lebih besar ketimbang ketidakpuasan yang sehari-hari mereka hadapi.
Lebih dari Sekadar Gaji
Fenomena borgol emas bukan hal baru. Setidaknya, sejak 1976, istilah tersebut sudah dikenal untuk menggambarkan situasi semacam itu. Bagi perusahaan, mengikat pekerjanya dengan borgol emas merupakan strategi untuk menghindari tingginya angka turnover, yang pada akhirnya bakal merugikan perusahaan dalam jangka panjang.
Borgol emas yang mengekang seorang pekerja bisa lebih dari sekadar gaji memadai. Tak jarang pula perusahaan memberikan kompensasi lain yang membuat pekerja merasa sayang untuk resign, misalnya tunjangan kesehatan, bonus tahunan, saham perusahaan, serta tabungan pensiun. Sebenarnya bagus apabila perusahaan memberikan itu semua. Artinya, mereka memberikan penghargaan tinggi kepada pekerja.
Namun, tentu saja, tidak semua pekerja merasakan hal yang sama di sebuah perusahaan. Bisa saja, seorang pekerja merasa tidak cocok dengan budaya kerja di dalamnya. Bisa jadi pula, ada pekerja yang merasa kemampuannya tidak tersalurkan dengan baik. Perasaan-perasaan seperti ini tidak bisa dikontrol begitu saja hanya dengan gaji dan benefit menggiurkan.
Namun, sekali lagi, wabil khusus di situasi perekonomian saat ini, ketika mencari pekerjaan baru tidaklah semudah membalikkan telapak tangan, para pekerja bisa saja memilih untuk menelan semua ketidakpuasan karena taruhannya terlalu besar.
Dari sini muncullah dilema: apa yang seharusnya dikejar sang pekerja? Stabilitas finansial yang mengorbankan fisik dan mental atau kepuasan pribadi yang bisa saja membawa guncangan finansial bagi kehidupannya?
Mengapa Orang Memilih Bertahan?
Tidak bisa dimungkiri, keamanan finansial adalah pertimbangan utama seseorang untuk bekerja. Ini membuat banyak orang tidak bekerja sesuai renjana (passion). Banyak pula yang bahkan tidak bekerja sesuai jurusan studinya. Sebab, pada akhirnya, mereka berkeyakinan, bersikap realistis adalah langkah paling aman. Di saat lapangan pekerjaan sesuai renjana dan bidang studi tak ada yang mampu memberikan keamanan finansial, orang akan mencari jalan lain untuk bertahan hidup.
Hal yang sama berlaku ketika seseorang sudah menjadi pekerja. Seiring dengan makin bertambahnya usia, tanggungan seseorang biasanya akan makin besar. Dari yang tadinya hanya mencukupi diri sendiri, misalnya, ketika sudah menikah, seseorang mesti menghidupi keluarganya. Belum lagi jika kita bicara soal tanggungan lain, seperti cicilan rumah, kendaraan, dan kebutuhan-kebutuhan tak terduga. Inilah yang, pada akhirnya, memunculkan fenomena borgol emas.
Selain soal kebutuhan, ada faktor psikologis yang dikenal sebagai sunk cost fallacy, yakni keyakinan bahwa ketika seseorang sudah menghabiskan waktu bertahun-tahun dalam satu karier, meninggalkannya berarti menyia-nyiakan investasi tersebut.
Ketakutan akan perubahan juga berperan penting. Banyak orang yang telah lama berada di satu perusahaan merasa bahwa mencari pekerjaan baru adalah sesuatu yang menakutkan. Ada kekhawatiran bahwa mereka mungkin tidak akan diterima di tempat lain atau sukar memulai dari awal dengan gaji lebih rendah dan sedikit fasilitas.
Terakhir, yang tak kalah penting adalah faktor sosial. Di banyak budaya, termasuk di Indonesia, pekerjaan dianggap sebagai bagian penting dari status sosial seseorang. Memiliki pekerjaan stabil dengan penghasilan yang baik sering kali menjadi kebanggaan bagi keluarga dan lingkungan sekitar. Tekanan sosial untuk tetap dalam pekerjaan yang "baik" ini membuat banyak orang bertahan meskipun mereka merasa tidak bahagia.
Ilustrasi golden handcuff. FOTO/iStockphoto
Apa Kata Pakar?
Profesor Rubab Jafry O’Connor dari Carnegie Mellon University menjelaskan bahwa borgol emas bukan sekadar tentang uang, tetapi juga bagaimana perusahaan merancang sistem insentif yang membuat karyawan merasa sulit untuk keluar. Bonus tahunan yang besar, saham perusahaan yang hanya bisa dicairkan setelah jangka waktu tertentu, serta kenaikan gaji yang stabil, membuat karyawan merasa kehilangan sesuatu jika keluar dari pekerjaan yang telah lama dilakoninya.
“Selama organisasi-organisasi masih ada, sudah banyak perusahaan yang membayar gaji tinggi untuk mempertahankan pekerja terbaiknya," ujarnya kepada BBC.
Selain untuk mempertahankan retensi pekerja, borgol emas, menurut Jafry O'Connor, juga menjadi alat bagi perusahaan untuk melecut karyawannya agar bekerja semaksimal mungkin.
“Jika saya membayar kamar di Fairmont, saya mengharapkan lebih dari jika saya menginap di Motel 6. Jadi, dengan gaji yang lebih besar, muncul pula ekspektasi yang lebih besar: Anda akan diberi kompensasi atas waktu dan energi ekstra yang harus Anda curahkan untuk pekerjaan itu," jelasnya.
Sepintas, ini terlihat seperti praktik yang adil. Namun, dari situ, muncul efek samping psikologis yang tak bisa dipandang enteng. Banyak pekerja mengalami stres dan kelelahan kronis, tetapi tetap bertahan karena takut kehilangan manfaat finansial. Dalam jangka panjang, hal ini dapat berdampak pada kesehatan mental dan fisik, meningkatkan risiko penyakit seperti hipertensi, depresi, dan gangguan kecemasan.
Mencari Jalan Keluar
Borgol emas sebenarnya tidak selamanya negatif. Sekali lagi, tidak semua orang merasa tidak puas atas pekerjaan yang mereka lakukan. Bahkan, misalnya, orang-orang yang tidak bekerja sesuai renjana tetapi mendapat gaji besar justru bisa tumbuh mencintai bidang barunya. Namun, apabila tekanan yang muncul dari borgol emas sudah melewati batas, ya, mau tidak mau harus ada rencana untuk mencari kebebasan.
Keluar dari borgol emas bukan perkara mudah. Maka dari itu, hal pertama yang harus dilakukan adalah memastikan keamanan finansial dalam jangka pendek dan menengah. Dengan kata lain, seseorang mesti punya tabungan cukup untuk mengambil risiko yang ada. Tak cuma untuk bertahan hidup, kita juga perlu memastikan tabungan itu cukup untuk meningkatkan atau belajar keterampilan baru, yang memungkinkan seseorang bekerja di bidang lain.
Meningkatkan atau belajar keterampilan baru merupakan cara ampuh untuk mencari kesempatan di bidang yang sama sekali baru. Banyak orang merasa terjebak dalam pekerjaan mereka karena merasa tidak memiliki kemampuan lain yang bisa dijual di pasar kerja. Dengan mengikuti kursus, mendapatkan sertifikasi tambahan, atau memperluas jaringan profesional, seseorang bisa lebih percaya diri dalam mencari peluang baru.
Lalu, apakah dengan begini seorang pekerja bisa lepas dari borgol emas hanya dengan keluar dari pekerjaannya? Tidak juga. Sebenarnya ada langkah-langkah lain yang bisa diambil, misalnya dengan meminta tanggung jawab baru yang dirasa lebih menarik dan menantang, meminta mentor atau bahkan anak didik baru yang dirasa bisa memberikan perspektif baru, atau merancang ulang cara kerja yang selama ini "gitu-gitu aja". Cara-cara tersebut biasa disebut dengan istilah job crafting.
Pada akhirnya, keputusan untuk tetap bertahan atau keluar dari pekerjaan yang tidak disukai merupakan sesuatu yang sangat personal. Tidak ada jawaban benar atau salah. Setiap orang memiliki prioritas dan kondisi yang berbeda. Namun, penting bagi setiap pekerja untuk mempertimbangkan keseimbangan antara keamanan finansial dan kepuasan dalam bekerja.
Apakah benar gaji tinggi dan manfaat kerja yang besar sepadan dengan tekanan dan ketidakbahagiaan yang dialami? Atau, adakah cara untuk mendapatkan keseimbangan yang lebih baik antara karier dan kehidupan pribadi? Apabila Anda merasa terjebak dalam situasi borgol emas, dua pertanyaan itu harus Anda jawab sebelum mengambil langkah resolusi.
tirto.id - Mild report
Kontributor: Yoga Cholandha
Penulis: Yoga Cholandha
Editor: Fadli Nasrudin