Pengaruh Matahari Terhadap Iklim Bumi di Masa Lalu

5 hours ago 8

NASA baru-baru ini melakukan penelitian yang berkaitan dengan pengaruh matahari terhadap iklim Bumi. Nyatanya matahari tak hanya menyediakan panas dan cahaya. Peranannya lebih dari itu.

Baca Juga: Misteri Kekuatan Panas Neptunus Sebagai Penggerak Badai Tercepat

Matahari rupanya turut mempengaruhi kondisi Bumi maupun iklimnya di masa lalu. Hal ini lantaran aktivitas matahari sekaligus perjalanan tata surya dalam melalui lingkungan antarbintang. Untuk informasi selengkapnya, cek di sini.

Pengaruh Matahari Terhadap Iklim Bumi Disorot

Ada dua penelitian yang NASA danai soal kemungkinan matahari bisa mempengaruhi iklim Bumi. Adapun salah satu penelitiannya ialah perjalanan gelembung yang melindungi tata surya ataupun heliosfer saat melewati galaksi. Peristiwa tersebut bisa mempengaruhi kondisi iklim yang ada di Bumi.

Heliosfer itu sendiri yakni gelembung pelindung yang pembentukannya dari aliran anginnya matahari. Di dalam aliran tersebut ada partikel bermuatan. Peranannya amat penting sebab bisa melindungi tata surya dari kawasan antarbintang.

Lebih lanjut, heliosfer bergerak mengitari inti galaksi Bima Sakti. Bahkan juga melewati sejumlah wilayah. Fenomena tersebut setidaknya berlangsung hingga 4,6 miliar tahun.

Pemodelan NASA

Jika meninjau pemodelan NASA soal pengaruh matahari terhadap iklim Bumi, sang surya ternyata melewati awan gas maupun debu antarbintang selama 3x. Lingkungannya sangat dingin. Fenomena tersebut setidaknya terjadi dalam jutaan tahun belakangan ini.

Baca Juga: Ilmuwan Ungkap Misteri Hilangnya Perak Matahari, Kok Bisa?

Karena tekanan awan antarbintangnya padat, akhirnya heliosfer mengalami penyusutan. Akibatnya, ukuran heliosfer jadi lebih kecil daripada orbit Bumi. Pada akhirnya, Bumi jadi di luar batas perlindungan heliosfer sehingga terkena lingkungan antarbintang berbeda.

Kondisi tersebut membuat kandungan uap air yang ada di atmosfer jadi meningkat. Hal ini membuat dinamika atmosfer atas jadi berubah. Pada akhirnya, ilmuwan meyakini perubahan tersebut mempengaruhi iklim purba, tak terkecuali zaman es.

Penelitian ini sendiri datangnya dari SHIELD yang tak lain adalah bagian dari inti sains DRIVE milik NASA. Hasil penelitiannya sudah terbit di Annual Review of Astronomy and Astrophysics pada 21 Agustus.

Penelitian Kedua

Selain penelitian pertama yang jadi sorotan kalangan ilmuwan, ada pula penelitian kedua soal pengaruh matahari terhadap iklim Bumi. Penelitian ini dari Vladimir Airapetian di Pusat Penerbangan Antariksa Goddard NASA. Penelitian tersebut sudah terbit di Astrophysical Journal Letters.

Dalam penelitian ini, kalangan ilmuwan menyoroti kondisi matahari purba atau muda yang redup. Setidaknya pada 3 miliar tahun yang lalu, matahari memiliki 70% tingkat kecerahan daripada kecerahannya saat ini. Karena kondisi tersebut, sudah semestinya Bumi membeku.

Akan tetapi, hal tersebut tak terjadi lantaran letusan bintang-bintang muda yang mirip dengan matahari. Letusan yang berlangsung secara teratur tersebut menghasilkan superflare besar-besaran. Fenomena ini melontarkan partikel dengan energi tinggi ke segala penjuru arah.

Menurut penjelasan Vladimir Airapetian, apabila matahari muda juga demikian, maka lontaran partikel dengan energi tinggi tersebut bisa memicu reaksi kimia. Pada akhirnya, hal tersebut membuat Bumi purba jadi mengalami pemanasan. Untuk meniru kondisi ini, tim peneliti membuat simulasi atmosfer Bumi.

Simulasi Atmosfer Bumi

Dalam membuat simulasi atmosfer yang berkaitan dengan pengaruh matahari terhadap iklim Bumi, tim peneliti mencampur amonia, nitrogen molekuler, karbon monoksida dan karbon dioksida. Setelah itu, tim peneliti menembakkan proton langsung ke dalam campuran tersebut. Dari sini kalangan peneliti bisa tahu bahwa paparan protonnya dapat memproduksi nitrogen oksida.

Nitrogen oksida tak lain adalah gas rumah kaca dengan 300 kali lipat lebih kuat jika kita bandingkan dengan karbon dioksida. Kandungan tersebut bisa membantu planet Bumi untuk mempertahankan panasnya. Keberadaan radiasi UV yang intens dari matahari mungkin saja bisa menguraikannya.

Akan tetapi, nyatanya nitrogen oksida sebanyak 10% saja sudah bisa menghangatkan kawasan khatulistiwa Bumi setidaknya 5 derajat Celcius tepat di atas titik beku air. Kondisi ini bisa membuat proses prebiotik sintetis jadi lebih cepat.

Pada akhirnya, peristiwa tersebut bisa menciptakan rantai asam amino yang kompleks. Hal ini tak lain untuk membentuk protein. Kehidupan makhluk hidup pun bisa berlangsung karenanya.

Baca Juga: Matahari Buatan China EAST Berhasil Lampaui Batas Greenwald

Berkaitan dengan pengaruh matahari terhadap iklim Bumi nyatanya terlihat di masa lalu. Adanya pengaruh aktivitas matahari terhadap iklim Bumi ini memperlihatkan bahwa hubungan keduanya jauh lebih rumit. Untuk mengungkap hal menarik lainnya tentang hubungan matahari dan Bumi, tentu membutuhkan penelitian secara lebih lanjut. (R10/HR-Online)

Read Entire Article
Berita Rakyat | Tirto News |