tirto.id - Dunia perfilman Indonesia berduka atas kepergian aktor senior Ray Sahetapy. Pria bernama lengkap Ferenc Raymond Sahetapy tersebut meninggal dunia di RSPAD Gatot Soebroto, Jakarta Pusat, pada Selasa, 1 April 2025, pukul 21.04 WIB.
Kabar duka ini disampaikan kepada publik oleh keluarganya melalui unggahan di media sosial. Menantunya, Merdianti, mengonfirmasi kabar ini melalui Instagram dengan menuliskan, "Innalilahi wa innailaihi rojiun. Telah berpulang Ayah, Kakek kami, Farence Raymond Sahetapy (Ray Sahetapy) bin Pieter Sahetapy pada pukul 21.04 WIB. Kami mohon doanya, mohon dimaafkan segala kesalahan."
Selain itu, anaknya yang lain, Surya Sahetapy, juga mengunggah pesan perpisahan yang menyentuh hati. "Selamat jalan, Ayah! We always cherish the memories of our time with you. Titip salam cinta dan kangen ke kak Gisca!" tulisnya dalam unggahan di Instagram.
Mantan istrinya, Dewi Yull, juga mengabarkan kabar duka ini melalui unggah di Instagram pribadinya dengan menulis "inna lillahi wa inna illahi rojiun telah berpulang Ayah dari anak2ku".
Kabar kepergian Ray Sahetapy menyisakan kesedihan mendalam bagi keluarga, sahabat, dan para penggemar yang mengagumi dedikasi dan bakatnya dalam dunia perfilman. Kepergian Ray Sahetapy meninggalkan duka, tetapi karya-karyanya akan terus dikenang oleh pencinta film Indonesia.
Profil dan Kiprah Ray Sahetapy
Ray Sahetapy lahir dengan nama lengkap Ferenc Raymond Sahetapy pada 1 Januari 1957 di Donggala, Sulawesi Tengah. Ia berasal dari keluarga berdarah campuran Sulawesi dan Maluku. Sejak kecil, Ray sudah menunjukkan ketertarikannya pada dunia seni, terutama seni peran. Ketika remaja, ia mulai aktif dalam berbagai kegiatan teater di sekolah, yang semakin memperkuat minatnya di bidang ini.
Setelah menyelesaikan pendidikan dasarnya, Ray memutuskan untuk merantau ke Jakarta demi mengejar impiannya sebagai aktor. Ia kemudian masuk ke Institut Kesenian Jakarta (IKJ), sebuah lembaga pendidikan seni bergengsi di Indonesia. Di IKJ, Ray mempelajari berbagai aspek seni peran, termasuk teater dan film. Di sinilah ia bertemu dengan banyak seniman muda lainnya yang kelak menjadi tokoh besar di industri perfilman Indonesia.
Karier Ray Sahetapy dimulai dari panggung teater. Sebagai mahasiswa IKJ, ia aktif dalam berbagai pementasan dan mulai dikenal di kalangan komunitas teater sebagai aktor yang memiliki kedalaman dalam membawakan peran. Keahlian aktingnya yang kuat membawanya ke dunia perfilman, dan ia mulai mendapatkan peran kecil di beberapa film layar lebar.
Kesempatan besar datang ketika ia mendapatkan peran utama dalam film Gadis (1980), sebuah film yang membuktikan bakat aktingnya di layar lebar. Dalam film ini ia beradu akting dengan Dewi Yull, yang kemudian menjadi istri pertamanya.
Puncak karier Ray Sahetapy terjadi pada era 1980-an hingga 1990-an, di mana ia membintangi berbagai film yang menjadi bagian penting dari sejarah perfilman Indonesia. Beberapa film terkenalnya antara lain Noesa Penida (1988), yang menggambarkan kehidupan masyarakat Bali dan mendapat banyak pujian, serta Ponirah Terpidana (1984), yang memperlihatkan sisi emosional Ray sebagai aktor.
Pada era 2000-an, meskipun industri film Indonesia mengalami perubahan besar dengan berkembangnya genre aksi dan horor, Ray tetap beradaptasi dengan baik dan terus mendapatkan peran dalam film-film baru. Salah satu peran yang membawa namanya ke tingkat internasional adalah sebagai salah satu tokoh antagonis dalam film The Raid (2011), yang sukses besar di pasar internasional dan semakin memperkenalkan Ray ke dunia luar.
Selama kariernya ia telah meraih penghargaan sebagai Pemeran Pendukung Pria Terbaik dalam Indonesian Movie Actors Awards 2013 untuk perannya dalam film The Raid. Ia juga meraih penghargaan sebagai Pemeran Pembantu Pria Terpuji Film Bioskop dalam Festival Film Bandung 2014 untuk perannya dalam film 2014: Siapa di Atas Presiden?.
Di luar layar, kehidupan pribadi Ray Sahetapy juga menjadi sorotan. Setelah film Gadis (1980), pada tahun 1981ia menikah dengan lawan mainnya, Dewi Yull. Pernikahan mereka dikaruniai empat orang anak. Salah satu anak mereka Gisca Sahetapy telah meninggal dunia pada tahun 2010 karena sakit radang otak. Sayangnya, setelah lebih dari 20 tahun bersama, rumah tangga pasangan ini berakhir dengan perceraian pada tahun 2004. Setelah bercerai dari Dewi Yull, di tahun yang sama Ray Sahetapy menikah untuk kedua kalinya dengan Sri Respatini Kusumastuti.
Selain menjadi aktor, Ray juga aktif berbagi ilmu dengan generasi muda. Ia sering mengajar dan memberikan pelatihan akting bagi para aktor pemula. Dengan pengalamannya yang luas, ia menjadi mentor bagi banyak aktor muda yang ingin sukses di dunia hiburan.
Hingga saat ini, Ray Sahetapy tetap menjadi salah satu aktor senior yang dihormati di industri perfilman Indonesia. Ia dikenal sebagai aktor yang total dalam berakting dan selalu memberikan performa terbaiknya dalam setiap peran.
Dengan lebih dari 40 tahun karier di dunia seni peran, Ray telah membuktikan bahwa dirinya tidak hanya memiliki bakat, tetapi juga dedikasi dan kerja keras. Kiprahnya dalam industri perfilman Indonesia akan terus dikenang.
tirto.id - Aktual dan Tren
Kontributor: Astam Mulyana
Penulis: Astam Mulyana
Editor: Balqis Fallahnda & Yulaika Ramadhani