tirto.id - Hari Raya Idul Fitri 2025 ini adalah lebaran tahun kedua Fiqih (29) di Bendigo, Victoria, Australia. Tak seperti di Indonesia, yangmomen perayaannya sudah terasa sejak awal puasa, di Bendigo, ia harus membangun kemeriahan Ramadhan sendiri bersama teman-temannya.
Untungnya, kata Fiqih, di kota Bendigo yang kecil, ada komunitas Muslim yang terbilang besar. Komunitas itu berisi para pemeluk Islam se-Bendigo, yang notabene tak cuman orang-orang Indonesia.
“Jadi tahun lalu tuh kami, sama teman-teman disini ya, salat Ied. Terus biasa aja salam-salaman sama teman-teman orang Indonesia atau orang Indonesia yang udah lama di sini. Salam-salam, terus foto-foto gitu aja sih,” kisah Fiqih saat dihubungi Tirto, Jumat (21/3/2025) malam waktu Bendigo.
Meski dianggap seru, Fiqih tetap merasa sedih lantaran teringat keluarganya yang tinggal di Indonesia. Apalagi, tahun lalu adalah kali pertama Fiqih berlebaran di negeri orang. “Ya itu, terus kayak sedih aja sih kayak menangis dulu gitu di toilet, biar nggak keliatan orang,” katanya.
Tapi, satu hal yang cukup mengobati rasa sendunya adalah adanya open house yang digelar komunitas muslim Indonesia. Sebab, di situ Fiqih bisa mencicipi opor ayam, yang dibawa orang lain secara potluck. Sebagian besar muslim rasanya sepakat, makanan bersantan ini hampir tak boleh absen tersaji di meja makan saat musim lebaran tiba. Disiram ke potongan ketupat, semangkuk opor ayam pun siap disantap.
“Di sini kalau lebaran cuma gitu doang sih. Soalnya kalau weekday juga kan ya jadi nggak libur kan. Jadi habis salat kayak ada yang pada kerja gitu-gitu. Tapi kalau misalnya setiap weekend di bulan Ramadhan itu si komunitas [Muslim] ini bikin buka bareng. Jadi kayak minggu pertama komunitas Indonesia, Malaysia, Singapura yang ASEAN lah. Terus selanjutnya kayak Afghanistan. Minggu selanjutnya Pakistan gitu,” sambung Fiqih.
Meski tahun ini sudah memasuki tahun kedua merayakan hari raya di Negeri Kangguru, Fiqih bilang, lebaran mendatang kemungkinan tetap akan terasa pilu. Tapi, tak seperti tahun lalu di mana ia tetap bekerja saat siang hari, di hari H lebaran nanti Fiqih berencana mengambil cuti.
Di belahan bumi lain sekira 16 ribu kilometer (km) dari tempat Fiqih tinggal, tepatnya di Den Haag, ada juga Zahra, yang akan menyambut Idul Fitri perdananya di luar negeri. Lebaran tahun ini merupakan perayaan yang berbeda buat Zahra, lantaran ini kali pertama dirinya tak mudik atau pulang ke kampung halaman.
“Rasanya mixed feeling sih, ada penasarannya karena akan ngerasain experience baru, nggak template kayak biasanya yang lebarannya mudik, ketemu keluarga besar terus balik ke perantauan lagi. Tapi ada juga sedihnya, karena gak bisa ngerayain dan ngerasain meriahnya lebaran di kampung halaman,” kisah Zahra kepada jurnalis Tirto, Sabtu (22/3/2025).
Hal penting lainnya, sepenuturan Zahra, yang berasal dari Jawa Timur, ia jadi tak bisa mencomot makanan yang cuma ada sewaktu lebaran, seperti madu mongso (makanan khas Jawa Timur yang umumnya jadi suguhan lebaran). Kue ini dibungkus mirip permen dan punya tekstur kenyal seperti dodol.
“Kebetulan lebaranku dimeriahkan oleh tugas-tugas. Walaupun kuliah tatap mukanya udah libur, tapi kami di sini ada beberapa tugas yang deadline-nya pas hari H lebaran [tanggal 30 Maret], dan beberapa hari setelahnya. Jadi kesibukan utama mahasiswa sini dalam menyambut lebaran kayaknya akan nugas,” kata Zahra, sedikit meringis.
Perempuan berusia 26 tahun ini berencana salat Ied di masjid Indonesia di Den Haag, yang bernama Al-Hikmah. Selepas salat, Zahra menjadwalkan family time bersama keluarganya di Indonesia lewat telepon video.
“Kayaknya mahasiswa Indonesia lain yang tinggal nggak terlalu jauh dari masjid juga akan ke sana [Al-hikmah], biar ngerasain salat Ied kayak di Indonesia, khutbahnya pakai bahasa Indonesia dan ketemu orang-orang Indonesia lainnya,” sambungnya.
Zahra bilang, ia pun bergabung dengan beberapa komunitas muslim Indonesia, di antaranya Pengurus Cabang Istimewa Nahdlatul Ulama (PCINU) Belanda dan Tombo Ati, yang selama Ramadhan aktif mengadakan kajian dan menyediakan iftar di masjid.
“Tapi setahu aku untuk lebaran mereka di hari H akan berkumpul di KBRI [Kedutaan Besar Republik Indonesia] aja sih, ikut open house di sana. Biasanya kalaupun ada halal bihalal atau acara lainnya, dibikin beberapa hari setelah lebaran, tergantung hasil musyawarah di komunitas masing-masing,” kata Zahra.
Keterpisahan dari Budaya dan Keluarga Timbulkan kesedihan
Pengalaman menjalani hari raya jauh dari kampung halaman memang diwarnai perasaan yang kompleks. Peneliti psikologi sosial dari Universitas Indonesia (UI), Wawan Kurniawan, mengatakan, perasaan campur aduk yang dialami oleh diaspora Indonesia merupakan manifestasi dari disonansi emosional, di mana individu mengalami konflik antara identitas sosial yang melekat dan situasi baru yang dihadapi
“Dalam konteks psikologi sosial, ini bisa dijelaskan melalui Social Identity Theory, di mana seseorang menginternalisasi kelompok asalnya sebagai bagian dari dirinya, sehingga keterpisahan dari budaya dan keluarga menimbulkan kesedihan serta kehilangan,” kata Wawan saat dihubungi lewat aplikasi perpesanan, Selasa (25/3/2025).
Di sisi lain, ia menyebut teori Acculturation juga menjelaskan, dalam situasi baru, individu memiliki kecenderungan untuk mengeksplorasi dan menyesuaikan diri dengan budaya asing, yang dapat memicu rasa penasaran dan keterbukaan terhadap pengalaman baru.
Wawan menjelaskan soal dual-process model of acculturation, yang menunjukkan bahwa individu sering kali berusaha mempertahankan identitas budaya asalnya sambil mencoba memahami budaya baru. Dengan kata lain, mereka mengalami hibriditas identitas, yang membuat emosi mereka bercampur antara kehilangan dan antisipasi akan pengalaman baru.
Itulah mengapa, Muslim di negara asing memilih untuk ikut berbaur di komunitas penganut Islam. Menurut Wawan, hal ini merupakan bentuk in-group favoritism, di mana individu cenderung mencari dan memperkuat hubungan dengan mereka yang memiliki identitas sosial serupa.
Wawan bilang, manusia mendefinisikan dirinya melalui kelompok sosialnya, sehingga dalam kondisi keterasingan, mereka mencari kesamaan normatif untuk mengurangi perasaan terisolasi.
“Selain itu, teori Uncertainty Reduction menunjukkan bahwa dalam lingkungan yang asing, manusia cenderung mencari kelompok dengan nilai yang sudah familiar sebagai strategi untuk mengurangi ketidakpastian sosial,” lanjut Wawan.
Ia melihat pengalaman lebaran di luar negeri sebagai cerminan proses adaptasi budaya yang kompleks. Sisi positifnya, individu yang mengalami perayaan di lingkungan baru akan lebih bisa mengembangkan kompetensi antarbudaya, alias kemampuan untuk memahami dan menyesuaikan diri dengan norma sosial yang berbeda.
Orang-orang berjalan di luar Bank of England di distrik keuangan Kota London, Kamis, 13 Oktober 2022. (Foto AP/Alberto Pezzali)
“Pengalaman ini juga memperkuat resiliensi psikologis, karena mereka harus mengelola nostalgia kolektif sambil tetap terbuka terhadap pengalaman baru. Dalam teori bicultural identity integration, individu yang dapat mengelola identitas ganda (Indonesia-Muslim dan budaya lokal) cenderung memiliki fleksibilitas kognitif yang lebih tinggi dan pemahaman yang lebih luas tentang dunia,” kata Wawan.
Namun, tantangannya adalah emotional labor, yaitu usaha untuk mengelola emosi agar tetap terlihat bahagia meskipun mengalami homesickness. Kata Wawan, individu yang tidak memiliki cukup sumber daya sosial bisa mengalami tekanan psikologis yang lebih besar dalam menyesuaikan diri.
Begitu pula mereka yang terlalu terikat dengan komunitas asalnya, maka bisa mengalami kesulitan dalam berinteraksi dengan masyarakat lokal, yang berpotensi menghambat proses integrasi sosial mereka di negara asing.
Aspek Spiritual yang Tidak Terpenuhi
Pengamat sosial dari Universitas Indonesia (UI), Rissalwan Habdy Lubis, juga menambahkan perspektif lain dalam melihat kompleksitas emosi diaspora Indonesia berlebaran di luar negeri. Menurut Rissalwan, hal itu bisa ditarik ke tiga peristiwa dalam “mudik”.
Pertama, peristiwa spiritual, kedua peristiwa sosial budaya, dan terakhir yaitu peristiwa ekonomi. Jadi, kata Rissalwan, bagi diaspora Indonesia, peristiwa spiritual ini tidak terjawab lantaran spiritualitas itu muncul hanya ketika dia kembali ke tempat asal-usul dia.
“Kalau ekonominya bisa, ekonomi sosial budayanya bisa. Dia tetap bisa berinteraksi, tetap bisa merasakan kuliner, kampung halaman gitu. Tapi dia tidak bisa kembali ke asal-muasalnya dia, di origin-nya dia tuh di kampungnya, di rumah dia dulu dibesarkan,” ungkap Rissalwan ketika dihubungi Tirto, Senin (24/3/2025).
Sementara lebaran adalah momen kembali ke asal-usul kita. Dengan demikian, ketika tidak berkesempatan atau tidak punya peluang untuk bisa kembali ke kampung halaman, tentu seseorang akan mencoba merayakan momen spesial itu di tempat mereka berada dengan orang-orang yang kurang lebih sama, misalnya komunitas muslim.
“Kalau dibilang lebaran itu tradisi Islam ya. Memang itu momen-momen keagamaan Islam, tapi tradisinya beda-beda tiap negara. Jadi kalau di negara lain, misalnya lagi sekolah di Australia, lagi sekolah di Amerika, pastinya beda. Cuma kan sekarang ketolongnya begini, diaspora-diaspora ini kan tetap bisa berkumpul pada saat lebaran itu pasti di kedutaan,” kata Rissalwan.
Dengan begitu kunci bagi diaspora adalah di populasi penduduknya. Kalau individu berdiaspora ke tempat yang mayoritas muslim Indonesianya banyak, maka mereka akan cenderung merasa aman, sebab kemungkinan besar ada masjid dan ada makanan yang serupa.
Lain halnya jika seseorang berdiaspora ke tempat-tempat dengan KBRI yang tidak memadai.
Maka, ia mungkin terpaksa harus bergabung dengan komunitas muslim lain, seperti komunitas muslim dari Lebanon atau Pakistan.
“Lebaran itu nggak religius. Bahkan yang religius itu kecenderungannya sosial budaya. Baju koko, tentang peci, pakai sarung. Religius kan tentang simbol, tapi kalau spiritualitas nggak kelihatan. Kita dengan masa lalu kita, kontemplasi, jadi kita merasa bahwa kita ada di posisi sekarang itu karena masa lalu kita, karena orang-orang di masa lalu kita. Kan gitu kan lebaran,” ungkap Rissalwan, saat mendiskusikan soal aspek spiritualitas dalam merayakan lebaran.
Oleh karenanya, sisi spiritual jadi hal yang tidak tergantikan ketika tak pergi ke kampung halaman saat hari raya. Sementara aspek lain seperti sosial budaya dan ekonomi pasti bisa tertutupi. Faktor ini lah yang barangkali bisa dipakai dalam melihat fenomena diaspora Indonesia berlebaran di negara orang.
tirto.id - Sosial budaya
Reporter: Fina Nailur Rohmah
Penulis: Fina Nailur Rohmah
Editor: Farida Susanty