Di Balik Seporsi Seblak, Ada Perjuangan Mahasiswi Pangandaran Bantu Keluarga dan Kejar Cita-cita

19 hours ago 12

harapanrakyat.com,- Tak semua anak muda memilih menghabiskan masa kuliahnya dengan bersantai dan berkumpul bersama teman. Di tengah kesibukan menempuh pendidikan, mahasiswi Indy Rachmawati (23) asal Kabupaten Pangandaran, Jawa Barat justru memilih bekerja keras dengan berjualan seblak demi membantu keluarga sekaligus meringankan biaya kuliahnya.

Bagi Indy, pekerjaan bukan soal gengsi. Selama dilakukan dengan cara yang halal, pekerjaan tersebut layak diperjuangkan. Dengan usia yang masih muda, Indy setiap hari menjalani dua peran sekaligus. Di satu sisi, ia harus fokus menyelesaikan pendidikan sebagai mahasiswi semester enam. Di sisi lain, ia juga harus menjalankan usaha seblak yang telah dirintisnya sekitar enam bulan terakhir.

Usaha tersebut dijalankannya di Blok Ciorai, Dusun Nyalindung, Desa Masawah, Kecamatan Cimerak, Kabupaten Pangandaran. Indy merupakan anak pertama dari tiga bersaudara. Adik bungsunya masih duduk di bangku MTs. Sementara sang ayah bekerja sebagai petani.

Baca Juga: Polisi Evakuasi Wanita dari Goa Menir, Diduga Terkait Penemuan Bayi di Terminal Kalipucang Pangandaran

Kondisi keluarga itulah yang membuat Indy tergerak untuk ikut membantu sang ibu. Ia ingin meringankan beban keluarga dengan kemampuan yang dimilikinya, tanpa harus menunggu mendapatkan pekerjaan setelah lulus kuliah.

“Sudah enam bulan saya membantu keluarga melalui jualan seblak. Alhamdulillah kalau hari libur banyak pelanggan. Bisa juga diantarkan kepada orang yang pesan melalui media sosial,” kata Indy, Sabtu 8 Agustus 2026.

Saat dagangannya ramai, Indy bisa memperoleh pendapatan sekitar Rp250 ribu hingga Rp300 ribu per hari. Namun, penghasilan tersebut tidak selalu sama. Ada hari ketika pembeli membludak, tetapi ada pula saat dagangannya hanya cukup untuk menutup modal. Bahkan, tidak jarang pembeli sepi.

Namun, kondisi tersebut tidak menyurutkan semangatnya.

Bagi Indy, setiap proses dalam berjualan merupakan pengalaman berharga. Dari usaha kecil tersebut, ia belajar bagaimana mengelola uang, melayani pelanggan, mempertahankan kualitas rasa hingga menghadapi naik turunnya pendapatan.

Harga Seblak Mahasiswi Pangandaran Mulai dari Rp1.000

Untuk menjaga agar dagangannya tetap bisa dinikmati berbagai kalangan, Indy menyediakan beragam pilihan topping dengan harga yang terjangkau.

Menurutnya, bahan baku seblak relatif mudah diperoleh. Sementara topping yang dipilih pelanggan memiliki harga bervariasi, mulai dari Rp1.000 hingga sekitar Rp5.000.

“Kalau bahan bakunya gampang dicari. Kemudian topping atau bahan yang dibeli pelanggan itu dari Rp1.000 sampai Rp5.000. Tentu bervariasi harganya, tergantung kesukaan pelanggan,” paparnya.

Konsep sederhana tersebut menjadi salah satu cara Indy untuk menjangkau pelanggan dari berbagai kalangan, khususnya anak muda yang gemar menikmati makanan pedas dengan pilihan topping sesuai selera.

Meski harus membagi waktu antara kuliah dan berjualan, Indy tidak menganggap aktivitas tersebut sebagai hambatan. Justru ia menjadikan keduanya sebagai bagian dari proses menuju masa depan yang ingin diraihnya.

“Saya tentu tidak malu jualan seblak karena ini pekerjaan halal. Semoga bisa menjadi motivasi bagi teman-teman yang merasa sulit mencari pekerjaan. Saya juga sambil membantu mamah, sedangkan ayah bekerja sebagai petani,” ucap Indy.

Tak Mau Hanya Mengeluh

Indy menyadari bahwa mencari penghasilan di usia muda bukan perkara mudah. Namun, menurutnya, selalu ada peluang bagi siapa saja yang mau berusaha.

Ia memilih untuk tidak hanya mengeluhkan sulitnya mencari pekerjaan. Sebaliknya, ia mencoba menciptakan peluang dari kemampuan yang dimilikinya.

“Selagi kita bisa menggali potensi untuk mencari pendapatan, kenapa harus mengeluh. Tentu harus tetap semangat,” ungkap Indy.

Prinsip tersebut yang membuat Indy berani menekuni usaha seblak meskipun masih berstatus sebagai mahasiswa. Baginya, tidak ada pekerjaan yang terlalu kecil selama dilakukan dengan sungguh-sungguh dan memberikan manfaat. Ia juga tidak menutup mata bahwa hasil jualan setiap hari tidak selalu sesuai harapan.

“Jualan tidak setiap hari sama penghasilannya. Bisa dapat banyak, bisa sekadar balik modal, bisa juga sepi pembeli. Namun, dari situlah mental dan kesabarannya ditempa,” tuturnya.

MBG Tak Pengaruhi Penjualan

Indy juga mengaku keberadaan program Makan Bergizi Gratis (MBG) sejauh ini tidak memberikan pengaruh berarti terhadap penjualan seblaknya.

Menurutnya, produk yang dijual berbeda dengan menu dalam program tersebut. Tantangan yang lebih terasa justru berasal dari perubahan harga bahan baku, terutama daging ayam.

“Kalau adanya MBG tidak berpengaruh bagi saya, karena di MBG tidak ada seblak. Alhamdulillah jualan tetap stabil. Hanya harga daging ayam kadang naik dan kadang turun,” papar Indy.

Baca Juga: Bukan Cuma Madasari, Bupati Pangandaran Ungkap Banyak Tanah Harim Laut Bermasalah

Kisah Indy menjadi potret sederhana tentang perjuangan anak muda yang memilih untuk mandiri di tengah keterbatasan. Ia tidak menunggu kesempatan datang. Ia menciptakan kesempatan itu sendiri.

Dari sebuah usaha seblak sederhana, Indy belajar tentang arti kerja keras, tanggung jawab, kemandirian dan keberanian untuk mengambil peluang. Di balik setiap mangkuk seblak yang terjual, ada cita-cita yang sedang diperjuangkan. Ada biaya kuliah yang ingin diringankan, ada keluarga yang ingin dibantu, dan ada masa depan yang ingin diwujudkan.

Indy membuktikan bahwa kuliah dan bekerja bukan dua hal yang harus dipertentangkan. Keduanya bisa berjalan beriringan selama ada kemauan untuk mengatur waktu dan tidak mudah menyerah.

“Menurut saya jangan malu untuk bekerja, jangan gengsi memulai dari bawah, dan jangan terlalu lama mengeluh ketika peluang masih bisa diciptakan,” ucapnya.

Sebab, kata Indy pekerjaan yang halal tidak pernah membuat seseorang rendah. Justru keberanian untuk berusaha di tengah kesulitan adalah bentuk nyata dari perjuangan menuju masa depan.

Pelanggan Rela Lewati Warung Seblak Lain

Usaha yang dirintis Indy juga mendapat respons positif dari para pelanggan. Salah satunya Beby, warga Cimerak, yang sengaja datang bersama keluarganya untuk membeli seblak.

Padahal, dalam perjalanan menuju tempat Indy berjualan, Beby mengaku melewati sejumlah warung seblak lainnya. Namun, ia tetap memilih datang ke tempat Indy karena sudah merasa cocok dengan rasa dan pilihan topping yang tersedia.

Baca Juga: Bukan Sekadar Ganti Pengurus, Ini Harapan Ranting untuk Konferensi MWCNU Pangandaran

“Sebenarnya di kampung saya juga ada. Tapi saya lebih nyaman beli di sini. Rasanya enak dan bisa sesuai dengan yang saya inginkan. Saya juga sering jajan seblak di sini,” ujarnya. (Kiki/R7/HR-Online/Editor-Ndu)

Read Entire Article
Berita Rakyat | Tirto News |