Pesantren Ciwedus Kuningan merupakan salah satu lembaga pendidikan Islam yang cukup terkenal. Dalam perjalanan sejarah pesantren di Jawa Barat, Ciwedus memiliki cerita berkaitan dengan ulama keturunan Kesultanan Banten. Sosok inilah yang kemudian membangun sekaligus mengembangkan pesantren menjadi pusat keilmuan, dakwah dan kebudayaan.
Baca Juga: Pondok Pesantren Suryalaya, Sejarah Pendirian dan Kiprahnya Sejak Era Kolonial
Menariknya, keberadaan lembaga pendidikan Islam tersebut juga tidak dapat terlepas dari perubahan sosial dan politik pada masa penjajahan. Para ulama Ciwedus di zaman penjajahan memiliki sikap tegas terhadap kolonialisme Belanda. Bahkan menjadikan pendidikan agama sebagai jalan untuk membangun ketahanan masyarakat.
Sejarah Pesantren Ciwedus dan Awal Berdirinya
Sejarah Ponpes Ciwedus bermula sekitar tahun 1715 M. Tepat ketika Sultan Tubagus Kalamudin, seorang ulama keturunan Kesultanan Banten, datang ke wilayah Kuningan. Ia memilih kawasan tersebut sebagai tempat untuk beruzlah. Beruzlah sendiri artinya mengasingkan diri sementara dari kehidupan duniawi untuk memperbanyak ibadah dan mendalami ilmu agama.
Di tempat tersebut, Tubagus Kalamudin mendirikan sebuah padepokan sekaligus surau atau mushola kecil. Tempat sederhana inilah yang kemudian menjadi cikal bakal berkembangnya kegiatan pendidikan dan dakwah Islam di Ciwedus. Mengingat seiring waktu perkembangan padepokan itu kian pesat.
Setelah Tubagus Kalamudin wafat, perjuangan pendidikan Pesantren Ciwedus Kuningan berlanjut ke keturunannya. Salah satu tokoh populer dalam perjalanan awal pesantren adalah Kyai Adroi. Ia meneruskan pengelolaan pesantren sekitar tahun 1800. Hingga akhirnya mencapai masa keemasan ketika kepemimpinan berada di tangan KH Ahmad Sobari.
Di kalangan masyarakat sekitar, KH Ahmad Sobari lebih dikenal dengan sebutan Mama Ciwedus. Sejak sekitar tahun 1881, Ciwedus berkembang menjadi salah satu pusat pendidikan Islam yang penting di wilayah Sunda. Puluhan bahkan ratusan murid datang berguru ke Pesantren Ciwedus dari berbagai penjuru.
Perjuangan Pesantren Ciwedus pada Masa Penjajahan
Keberadaan Pesantren Ciwedus Kuningan tidak hanya berkaitan dengan pendidikan agama. Pasalnya, ponpes ini juga memiliki cerita tentang sikap ulama terhadap penjajahan Belanda. Pada masa kolonial, KH Ahmad Sobari sangat tegas menolak penjajahan. Pengaruhnya terhadap masyarakat membuat pesantren tidak sekedar menjadi tempat pengajian, tetapi juga ruang untuk membangun keberanian masyarakat.
Baca Juga: Jejak Pesantren Pasambangan Jati, Pusat Pendidikan Islam Tertua di Cirebon
Sikap anti-kolonial tersebut menjadi bagian penting dari sejarah pesantren di Jawa Barat. Pendidikan agama yang lembaga ini berikan kepada santri membentuk pemahaman bahwa ilmu tidak hanya untuk kepentingan pribadi. Melainkan juga untuk menjaga martabat dan kehidupan masyarakat.
Dengan posisi tersebut, Ciwedus kian terlihat sebagai tempat yang menegaskan bagaimana pesantren dan ulama Sunda memainkan peran sosial penting. Terutama di tengah perubahan politik akibat kolonialisme. Bahkan, ketika mendapat pembatasan aktivitas dari pemerintah Belanda, para santri dan guru tidak lantas takut.
Estafet Kepemimpinan dari Generasi ke Generasi
Salah satu kekuatan Pesantren Ciwedus Kuningan adalah keberlangsungannya melalui estafet kepemimpinan keluarga dan keturunan pendiri. Setelah Sultan Tubagus Kalamudin membuka cikal bakal pesantren, kepemimpinan kemudian berlanjut oleh generasi berikutnya. Kiai Adroi menjadi tokoh yang melanjutkan tradisi pendidikan tersebut pada sekitar awal abad ke-19.
Puncak perkembangan terjadi pada masa KH Ahmad Sobari atau Mama Ciwedus. Pada periode sekitar 1881 hingga 1916, ribuan santri dari berbagai wilayah Jawa Barat datang untuk belajar. Kajian yang ia berikan mencakup ilmu fiqih, tasawuf, Al Quran, serta berbagai pengetahuan keislaman lainnya.
Salah satu kegiatan yang menarik sekaligus ikonik adalah pengajian Rabu pagi. Kegiatan ini tidak hanya diikuti oleh santri yang tinggal di pesantren, tetapi juga masyarakat umum dari berbagai daerah. Hal tersebut menunjukkan besarnya pengaruh Ciwedus sebagai pusat pendidikan serta dakwah Islam.
Tetap Lestari hingga Sekarang
Warisan Pesantren Ciwedus Kuningan tentu tidak berhenti pada bangunan atau nama besar para pendahulunya saja. Tradisi keilmuan dan kegiatan keagamaan terus dipertahankan oleh generasi penerus. Berbagai aktivitas terutama perayaan masih lestari di lingkungan pondok pesantren hingga sekarang.
Salah satu tradisi terkenal sejak dulu adalah Sedekah Mulud. Ini merupakan kegiatan bersedekah secara bersama-sama dalam rangka memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW pada 12 Rabiul Awal. Tradisi tersebut memperlihatkan perpaduan antara pendidikan agama, kepedulian sosial dan kebudayaan masyarakat Sunda.
Selain itu, warisan Ciwedus juga berkaitan dengan pengembangan bahasa dan sastra Sunda sebagai media dakwah. Penggunaan bahasa lokal dari Jawa Barat itu bertujuan untuk menyampaikan ajaran agama sehari-hari. Harapannya agar lebih mudah masyarakat pahami sekaligus mengenalkannya pada santri dari daerah lain.
Baca Juga: Sejarah Pondok Pesantren Tarbiyatut Tholabah, Ponpes Tertua di Kota Soto
Pesantren Ciwedus Kuningan telah bertahan lebih dari tiga abad perjalanan. Kekuatannya terletak pada kemampuan mempertahankan ilmu, tradisi dan nilai-nilai Islam sambil tetap berakar kuat pada masyarakat Sunda. Konsistensinya membuat Pesantren Ciwedus punya warisan yang jauh lebih luas daripada sekadar lembaga pendidikan di Kuningan. (R10/HR-Online)

20 hours ago
13

















































