harapanrakyat.com – Menelusuri histori industri energi panas bumi (geothermal) di Indonesia, rasanya tidak lepas dari Kawah Kereta Api di kawasan Kamojang, Kabupaten Bandung, Jawa Barat. Sumur panas bumi ini, menjadi tonggak sejarah pemanfaatan energi perut bumi di Indonesia. Namun, saat itu Ibu Pertiwi masih dalam pendudukan Belanda.
Berada di ketinggian 1.500 meter di atas permukaan laut (mdpl), pada 1926 Belanda memulai proyek yang cukup ambisius di Kamojang. Proyek ini bertujuan memanfaatkan energi panas bumi untuk kebutuhan listrik. Meskipun kala itu, Belanda juga sudah memanfaatkan tenaga air untuk menghasilkan listrik.
Pemerintahan Belanda kala itu, mulai melakukan pengeboran Kawah Kereta Api tepatnya pada 1926. Saat itu, kedalaman pengeboran sumur hanya sekitar 60 meter menusuk ke perut bumi. Meski eksperimen kolonial itu berhenti dua tahun kemudian, namun semburan uap dari kawah ini masih bisa dijumpai hingga sekarang.
Memasuki 100 tahun sejak eksplorasi energi panas bumi di Kamojang, jadi bukti jika geothermal ini jadi kekayaan alam yang sustainable (berkelanjutan). Namun, hal itu bisa dipertahankan jika faktor pelestarian alam turut terjaga dengan eksplorasi terukur. Penggunaan teknologi termutakhirkan, menjadi salah satu kunci pemanfaatan geothermal ini bisa terjaga hingga anak cucu. Tentunya hal ini menjadi salah satu solusi Asta Cita Pemerintahan Prabowo Subianto-Gibran Rakabuming Raka terkait swasembada energi.
Perjalanan sejarah mencatat, Kawah Kereta Api menjadi saksi awal lahirnya industri panas bumi di Indonesia. Pada era modern, pemerintah melalui Pertamina mulai mengeksplorasi Kamojang pada era 70-an dengan bantuan para ahli dari Selandia Baru. Hasilnya, pada 29 Januari 1983, Indonesia resmi mengoperasikan Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) Kamojang Unit 1 dengan kapasitas 30 MW. Ini merupakan pembangkit listrik tenaga panas bumi pertama di Indonesia.
Manfaatkan Energi Panas Bumi, PLTP Kamojang Produksi Listrik 235 MW
Berbicara mengenai kapasitas produksi, area Kamojang kini sudah mampu menghasilkan listrik 235 MW dari lima unit PLTP. PT PGE Kamojang mengelola 2 unit PLTP, yakni Unit 4 dan Unit 5 dengan masing-masing kapasitas mencapai 60 MW dan 35 MW. Sedangkan 3 unit PLTP lainnya dikelola Indonesia Power yang merupakan subholding PLN.
General Manager PT PGE Kamojang, I Made Budi Kusuma menuturkan, kapasitas produksi area Kamojang ini sudah terdistribusikan ke jaringan listrik Jamali atau Jawa-Madura-Bali. Bahkan, ini menjadi kontribusi mengurangi emisi karbon jutaan ton setiap tahunnya.
“Sedari dulu, kami berkomitmen mewujudkan green energy (energi hijau). Tentunya dalam mewujudkan cita-cita itu, kami tidak bisa berjalan sendiri. Kolaborasi lintas sektor menjadi salah satu kunci, terutama dengan masyarakat dalam upaya pelestarian lingkungan,” ujarnya kepada wartawan saat media gathering di Kamojang, Jumat (22/8/2025).
Menurut I Made Budi, siulan dari Kawah Kereta Api ini bukan sekadar harmoni alam belaka. Melainkan pula menandakan masih melimpahnya kandungan energi panas bumi yang belum termanfaatkan. Dengan pendekatan teknologi termutakhirkan, ia mengharapkan pemanfaatan energi panas bumi di Kamojang ini bisa bertahan hingga ratusan tahun kemudian.
“Melalui optimalisasi teknologi geothermal, maka kita bisa menjaga ketahanan energi sebagai implementasi nyata Asta Cita Presiden RI Prabowo Subianto. Memang kami juga menargetkan penambahan kapasitas produksi. Namun, hal itu perlu kajian mendalam berdasarkan manifestasi yang kami lakukan,” ucapnya.
Museum Energi, Kawah Kereta Api Jadi Lokasi Wisata Edukatif
Selain bisa melihat langsung semburan uap yang menjadi pertanda energi panas bumi, pengunjung juga bisa menikmati sejuknya udara di kawasan Kawah Kereta Api. Tak sekadar berwisata, di area PT PGE Kamojang ini juga terdapat pusat informasi PGE yang menjadi ruang wawasan mengenai geothermal.
Namun, pengunjung harus tetap berhati-hati saat mendekati lokasi Kawah Kereta Api. Sebab, semburan panas bumi ini tetap berbahaya jika didekati tanpa pengawasan.
Jenny Octaviana (19) pengunjung asal Cikarang, Kabupaten Bekasi mengaku takjub saat menginjakkan kaki di kawasan Kawah Kereta Api ini. Ia bersama keluarganya sengaja berlibur ke Kamojang tak sekadar menikmati panorama alam, melainkan juga ingin melihat langsung bukti sejarah eksplorasi energi panas bumi di Indonesia.
“Selain bisa menikmati sejuknya hawa pegunungan di Kamojang, keberadaan Kawah Kereta Api ini menjadi lokasi wisata edukatif. Saya bisa melihat langsung bukti sejarah eksplorasi panas bumi pertama di Indonesia saat masa kolonial Belanda dulu. Ternyata, hingga saat ini kawah ini masih menyemburkan uap panas bumi. Sungguh menarik,” tutur belia yang memiliki lesung pipi itu. (Ecep/R13/HR Online)