Benteng Speelwijk Banten, Mengulas Jejak Kekuasan Belanda Tempo Dulu

5 days ago 17

Benteng Speelwijk Banten merupakan tempat bersejarah yang menjadi salah satu destinasi wisata menarik di Indonesia. Tempat bersejarah ini memiliki nilai historis kaya dengan gaya arsitektur menawan yang menjadi saksi bisu dari masa lampau. 

Baca Juga: Perjalanan Keramik Plered Purwakarta Hingga Go Internasional

Mengenal Jejak Sejarah Benteng Speelwijk Banten

Benteng Speelwijk merupakan benteng pertahanan bersejarah hasil pembangunan pemerintah kolonial Belanda. Benteng pertahanan ini berada di wilayah Kampung Pamarican. Lebih tepatnya berada di Desa Banten, Kecamatan Kasemen, Kota Serang, Provinsi Banten.

Fakta yang cukup mengenaskan bahwa Benteng Speelwijk ini merupakan saksi bisu dari politik tipu daya Belanda. Tipu daya pemerintah kolonial pada masa itu, akhirnya memicu konflik internal di kesultanan Banten. Akhirnya, perang antara ayah dan anak, yakni Sultan Ageng Tirtayasa dan Sultan Haji tak bisa terelakkan lagi. 

Penamaan Benteng Speelwijk

Benteng Speelwijk diambil dari nama Cornelis Janszoon Speelman, Gubernur Jenderal Hindia Belanda. Tokoh tersebut mulai menjabat mulai tahun 1681 hingga 1684. 

Saat itu, seorang arsitek Belanda bernama Hendrick Loocaszoon Cardeel merancang Benteng Speelwijk dengan lokasi strategis. Bangunan ini berdiri di pusat pemerintahan Kesultanan Banten pada masa itu. 

Pembangunan benteng Benteng Speelwijk Banten dilaksanakan dalam tiga fase utama antara tahun 1681 hingga 1731. Sementara itu, periode awal konstruksi benteng ini terjadi pada tahun 1681 hingga 1684. 

Sejarah Benteng Speelwijk

Benteng Speelwijk berdiri pada era pemerintah kolonial Belanda pada abad ke-17. Benteng pertahanan ini merupakan bagian dari sistem pertahanan dan pusat pengawasan perdagangan di wilayah Banten. 

Pembangunan utamanya berlangsung sekitar tahun 1667 hingga 1682. Saat pembangunan tersebut, Sultan Abu Nasr Abdul Qohhar (Sultan Haji) merupakan tokoh yang berkuasa, mulai dari tahun 1681 hingga 1684. 

Periode tersebut menandai kerjasama antara kesultanan dengan Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC). Kerjasama ini terjalin dalam rangka menyelesaikan konflik internal di Banten. 

Benteng Speelwijk sendiri menjadi saksi penting dalam konflik antara Sultan Ageng Tirtayasa dengan putranya, Sultan Haji. Saat itu, Sultan Haji mendapatkan dukungan penuh oleh pemerintah Belanda. Konflik keduanya akhirnya menyebabkan kemunduran dari Kesultanan Banten. 

Perluasan benteng kemudian berlanjut pada tahun 1685 dan 1731. Pembangunan tersebut berada di bawah pemerintahan Sultan Haji. 

Baca Juga: Perjalanan Kilang Minyak Balongan Indramayu hingga Pernah Meledak Hebat

Saat itu, Benteng Speelwijk memiliki fungsi ganda. Tak hanya sebagai instalasi militer saja, benteng juga menjadi pusat administrasi dan perdagangan VOC. 

Lebih tepatnya, Benteng Speelwijk Banten berfungsi sebagai pusat pertahanan dan pengawasan jalur perdagangan Belanda. Selain itu, benteng juga menjadi pusat untuk mengontrol akses menuju ke Pelabuhan Banten. 

Pedihnya, proses pembangunan Benteng Speelwijk melibatkan tenaga kerja dari etnis Tionghoa dengan upah rendah. Sementara struktur benteng berdiri di atas bekas tembok Keraton Surosowan. 

Arsitektur Benteng Speelwijk

Secara keseluruhan, Benteng Speelwijk mengusung desain dengan perpaduan antara gaya arsitektur Eropa dan elemen lokal. Rancangan arsitektur saat itu mampu menghasilkan struktur pertahanan yang fungsional, sekaligus memiliki nilai strategis untuk pengawasan perdagangan di Banten. 

Benteng pertahanan ini memiliki denah persegi panjang berukuran 70 x 70 meter. Desain benteng memiliki bentuk tidak simetris. Terdapat bastion di setiap sudutnya dan dikelilingi tembok pertahanan dengan tinggi kurang lebih tiga meter. 

Sebagai informasi, bastion merupakan sudut atau penjuru yang dibangun menjorok keluar pada dinding benteng. Bastion populer dengan sebutan katelum, baluwarti, baluwara hingga selekoh. 

Material Konstruksi Benteng Speelwijk

Benteng Speelwijk menggunakan material konstruksi utama dari batu bata dan batu alam tebal. Material ini semakin kuat dengan adanya sistem parit pertahanan selebar 1.5 hingga 2 meter. 

Di dalam kompleks Benteng Speelwijk Banten, terdapat berbagai fasilitas pendukung. Misalnya seperti gudang senjata, kantor administrasi, gereja serta bangunan residensial bagi perwira. Sayangnya, sebagian fasilitas pendukung tersebut kini hanya tersisa pondasinya saja. 

Lebih lanjut, Benteng Speelwijk mengusung desain arsitektur dengan perpaduan aspek penting. Di antaranya adalah pertahanan, estetika dan fungsi administratif, termasuk menara pengawas serta ruang bawah tanah untuk logistik.

Sebagai warisan arsitektur kolonial, Benteng Speelwijk mempresentasikan sistem pertahanan Belanda yang diadaptasi dengan kondisi lokal. Benteng ini juga sekaligus berfungsi sebagai pusat kendali politik dan militer VOC pada masa Kesultanan Banten. 

Baca Juga: Tugu Batalyon Beruang Merah, Penghadang Musuh dari Sektor Tasikmalaya Selatan

Tembok-tembok kokoh dari Benteng Speelwijk Banten sendiri masih bisa dinikmati keindahannya. Di Benteng Speelwijk Banten ini, pengunjung bisa menikmati sejarah kelam masa lalu yang mengakibatkan konflik di Kesultanan Banten, hingga akhirnya runtuh termakan tipu daya kolonial Belanda. (R10/HR-Online)

Read Entire Article
Berita Rakyat | Tirto News |