Gumuk Pasir Jogja merupakan salah satu objek wisata di daerah Yogyakarta. Destinasi ini menampilkan gundukan pasir di dekat pantai yang terbentuk secara alami dalam jangka waktu lama.
Baca Juga: Benteng Speelwijk Banten, Mengulas Jejak Kekuasan Belanda Tempo Dulu
Istimewanya, Gumuk Pasir seperti ini hanya ada dua di dunia, yakni Mexico dan kawasan Pantai Parangkusumo Bantul Yogyakarta. Hal inilah yang menjadikan Gumuk Pasir Parangkusumo sebagai fenomena alam langka dan destinasi wisata unik di Yogyakarta.
Mengenal Asal Usul Pembentukan Gumuk Pasir Jogja
Saat berkunjung ke Gumuk Pasir Parangkusumo, muncul sensasi seperti berada di padang pasir atau gurun pasir yang begitu luas. Padahal, gurun pasir umumnya berada di belahan bumi timur tengah.
Fenomena terbentuknya Gumuk Pasir Parangkusumo sendiri memakan waktu yang cukup lama. Pembentukannya tersebut merupakan akibat dari aktivitas beberapa gunung yang ada di sekitar Yogyakarta.
Sekilas Tentang Gumuk Pasir Parangkusumo
Sebagai informasi, Gumuk Pasir Parangkusumo berada di sebelah barat Pantai Parangtritis, yaitu di Kelurahan Parangtritis, Kapanéwon Kretek, Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta. Destinasi wisata ini memiliki sejumlah keistimewaan terkait dengan jumlahnya yang terbatas di dunia.
Nama “Gumuk” sendiri berasal dari bahasa Jawa yang berarti gundukan-gundukan pasir yang terhampar luas. Destinasi ini menjadi salah satu warisan dunia dengan daya tarik endapan pantai mencapai ketinggian hingga 20 mpl.
Perjalanan ke Gumuk Pasir Parangkusumo bisa dilakukan dengan mudah. Sebab, akses jalan menuju lokasi sangat lebar dan sudah beraspal.
Selain itu, sudah ada transportasi umum menuju Gumuk Pasir dengan menggunakan bis. Rute yang bisa diambil yakni, Kota Yogyakarta – menuju Jalan Parangtritis – sesampainya di Parangtritis ke barat arah Pantai Depok.
Sejarah Gumuk Pasir Parangkusumo
Tak banyak yang tahu bahwa Gumuk Pasir Jogja berasal dari letusan abu vulkanik gunung. Abu tersebut terbawa oleh aliran Sungai Opak dan Sungai Progo yang mengalir hingga ke Pantai Parangtritis.
Selanjutnya, abu terombang-ambing hingga terkikis dan berubah menjadi butiran-butiran halus. Setelah berubah tersebut, akhirnya butiran-butiran halus menepi ke pantai.
Proses pembentukan Gumuk Pasir sendiri terjadi terus menerus dalam jangka waktu yang cukup lama. Akibatnya, terbentuklah gundukan pasir yang terkumpul di sepanjang pantai Parangtritis dan Pantai Depok.
Baca Juga: Menguak Asal Usul Gunung Kuda Cirebon dan Tragedi di Baliknya
Hingga kini, Gumuk Pasir Parangkusumo terus melebar dan tinggi. Hal ini disebabkan oleh tiupan angin yang terus-menerus berhembus di daerah tersebut.
Luas Mencapai 412,8 Hektare
Kawasan gumuk pasir seluas 412,8 hektare ini terdiri atas zona inti 141,10 hektare, zona penyangga barat 176,43 hektare, dan zona penyangga timur 95,27 hektare. Keunikan Gumuk Pasir Parangtritis terletak pada bentuk bulan sabit terbalik atau barchan, yang hanya ada dua di dunia, yaitu di Meksiko dan Indonesia.
Material pasir berasal dari Gunung Merapi, terbawa aliran Kali Opak dan Kali Progo, kemudian disebarkan gelombang laut di sepanjang Pantai Parangtritis. Angin tenggara yang konstan membentuk morfologi khas barchan. Kawasan ini berdekatan dengan objek wisata Pantai Parangtritis, berjarak 28 km dari Kota Yogyakarta.
Fenomena ini merupakan bagian geoheritage Yogyakarta yang terus menyusut dari 412,8 hektare pada 2017 menjadi 30 hektare. Pengelolaan berbasis masyarakat dianggap penting untuk menjaga eksistensi gumuk pasir, termasuk pengaturan zona inti, penyangga, dan pemanfaatan.
Keunikan Gumuk Pasir Parangkusumo
Gumuk Pasir Parangkusumo merupakan satu-satunya gumuk pasir dengan tipe barchan di Asia Tenggara. Gumuk barchan sendiri memiliki bentuk bulan sabit yang khas.
Karakteristiknya yang unik menciptakan pola pasir bergelompang dan berteksur lembut, serupa dengan gurun pasir di belahan dunia lain. Misalnya seperti Sahara atau Death Valley di Amerika Serikat.
Gumuk Pasir Parangkusumo memiliki pola bentuk yang berubah-ubah, sesuai musim dan kecepatan angin. Di musim kemarau, pasirnya akan lebih kering dan cenderung tinggi. Sementara saat musim hujan, bentuknya lebih rendah karena sebagian pasir yang terbawa air.
Perubahan tersebut menambah daya tarik tersendiri secara visual. Terlebih, bagi wisatawan dan fotografer yang ingin mengabadikan keindahan di Gumuk Pasir dengan baground matahari terbenam.
Manfaat Gumuk Pasir Barchan di Parangkusumo
Gumuk Pasir Parangkusumo memiliki beberapa fungsi penting. Di sisi ekologi, gunung berperan sebagai pelindung alami dari erosi pantai. Hal ini berlangsung dengan menahan angin kencang yang datang dari arah laut dan mengurangi abrasi.
Berdasarkan fungsinya tersebut, Gumuk Pasir Jogja mampu menjaga keseimbangan ekosistem di kawasan Parangtritis. Secara ilmiah, Gumuk Pasir ini menjadi lokasi penelitian alam untuk bidang geomorfologi, geologi dan lingkungan.
Para peneliti mempelajari dinamika pasir, interaksi angin hingga proses sedimentasi yang terjadi. Hal ini berguna untuk memahami lebih lanjut terkait fenomena pembentukan gumuk pasir di daerah tropis.
Studi tersebut menjadi kunci penting, terlebih melihat Gumuk Pasir Parangkusumo tergolong langka di wilayah tropis seperti Indonesia. Dengan demikian, informasi yang diperoleh dari destinasi ini bisa bermanfaat untuk menjaga kelestarian alam di wilayah pantai.
Baca Juga: Mengulas Sejarah Kerajaan Saunggalah Kuningan yang Berasal dari Keturunan Galuh
Berdasarkan keunikan bentuk dan fungsi ekologisnya, Gumuk Pasir Jogja menjadi salah satu aset berharga bagi Indonesia. Terlebih, destinasi memiliki nilai ilmiah, ekologis dan wisata yang tinggi. Dengan demikian, Gumuk Pasir Jogja ini sekaligus menjadi bukti kekayaan dan keanekaragaman alam yang harus dinikmati sekaligus dilestarikan. (R10/HR-Online)