Menyibak Misteri Asal Usul Watu Tugu Semarang, Antara Legenda Batas Kerajaan dan Pelabuhan Kuno

2 hours ago 4

harapanrakyat.com,- Di atas sebuah bukit rimbun di Kelurahan Tugurejo, Kecamatan Tugu, Kota Semarang, berdiri tegak sebuah tugu batu atau watu andesit setinggi sekitar 2,5 hingga 4 meter. Kompleks ini sering kali salah dikenali oleh masyarakat sebagai “Candi Tugu” karena keberadaan sebuah bangunan candi di dekatnya.

Baca juga: Sejarah Candi Tugu Semarang, Perbatasan Majapahit – Pajajaran

Faktanya, candi tersebut hanyalah replika Candi Gedong Songo yang dibangun oleh pihak swasta pada tahun 1984–1985. Situs kuno yang asli dan bernilai sejarah tinggi sebenarnya adalah pilar batu lonjong menyerupai stupa di sampingnya. Pilar itu dikenal sebagai Watu Tugu.

Hingga hari ini, perdebatan mengenai asal usul Watu Tugu masih menyimpan berbagai misteri ilmiah. Bahkan masih menjadi kontroversi di kalangan sejarawan serta arkeolog.

Tapal Batas Majapahit-Pajajaran, Mitos atau Fakta Sejarah?

Tradisi lisan masyarakat setempat meyakini secara turun-temurun bahwa Watu Tugu merupakan penanda batas wilayah (tapal batas) antara dua kerajaan besar di masa lampau, yaitu Kerajaan Majapahit dan Pajajaran. Keyakinan ini didukung oleh catatan Liem Thian Joe dalam bukunya Riwajat Semarang yang terbit pada tahun 1933.

Konon, wilayah di sekitar situs tersebut dahulu merupakan lautan luas. Perbukitan Tugurejo menjadi saksi kesepakatan damai antara kedua penguasa setelah konflik bersenjata pecah di perbatasan barat Semarang.

Menurut cerita rakyat yang terdokumentasi dalam buku panduan juru kunci setempat, asal-usul perseteruan ini bermula dari konflik keluarga Raja Pajajaran, Munding Wangi. Dua putra sang raja, yaitu Raden Tanduran dan Banyak Wedi (yang kemudian dikenal sebagai Ciung Wanara), berselisih hingga menyebabkan Raden Tanduran melarikan diri ke timur. Kemudian ia mendirikan Kerajaan Majapahit.

Perselisihan berlanjut ketika pasukan Majapahit menduduki wilayah Ungaran dan pasukan Pajajaran bertahan di Kaliwungu. Akhirnya, pertempuran hebat mereda setelah kedua belah pihak sepakat menarik batas wilayah utara-selatan. Batas itu kemudian ditandai dengan pendirian monumen batu tersebut.

Baca juga: Sejarah Tugu Kujang Bogor, Simbol Kebanggaan Warga Sunda

Namun, dari sudut pandang akademis, klaim sejarah tapal batas Majapahit-Pajajaran ini perlu digali lebih dalam. Pasalnya karena minimnya bukti tertulis yang sahih. Sejarawan Semarang, Rukardi, menegaskan bahwa bukti sejarah autentik mengenai fungsi tugu ini sangatlah langka.

Satu-satunya literatur kolonial yang memuat ilustrasi singkat tentang objek purbakala ini hanyalah buku History of Java (1817) karya Thomas Stamford Raffles. Oleh karena itu, klaim batas kerajaan tersebut sejauh ini dikategorikan oleh para arkeolog sebagai dugaan atau mitos lokal belaka.

Jejak Mataram Kuno dan Teori Penambat Kapal Samudra

Hipotesis lain yang lebih rasional secara arkeologis diajukan oleh Tri Subekso, seorang arkeolog dan sejarawan asal Semarang. Ia berpendapat bahwa asal usul Watu Tugu berusia jauh lebih tua dari era Majapahit maupun Pajajaran. Berdasarkan analisis material budaya dan sisa-sisa peninggalan di sekitarnya, tugu ini diyakini berasal dari masa Kerajaan Mataram Kuno pada abad ke-8 hingga ke-10 Masehi.

Bentuk Watu Tugu yang ramping menyerupai stupa atau caitya (cetiya) mengindikasikan kuat adanya pengaruh ajaran Buddha dari masa Mataram Kuno. Stupa ini diduga berfungsi sebagai sarana peribadatan atau meditasi bagi permukiman kuno di pesisir pantai utara. Selain itu, tempat ini juga menjadi lokasi interaksi spiritual antara warga lokal dengan para pendatang dari luar pulau.

Baca juga: Menelusuri Jejak Peradaban Purba di Situs Tugu Gede Cisolok Sukabumi

Tri Subekso juga mengaitkan bentuk pilar batu ini dengan Ch’Orten dalam tradisi Buddha Tibet yang bertindak sebagai wadah persembahan keagamaan. Di samping fungsi religius, faktor geografis masa lalu menunjukkan bahwa perbukitan Tugurejo dahulu berada tepat di tepi laut purba. Hal ini terjadi sebelum terjadi sedimentasi daratan yang ekstensif.

Berdasarkan laporan penemuan jangkar kapal kuno di bawah tebing bukit pada tahun 1970-an, muncul interpretasi kuat bahwa Watu Tugu pada mulanya berfungsi sebagai pilar penambat kapal dagang yang merapat di pelabuhan kuno Bukit Pragota. Bahkan, Tri Subekso juga mengajukan hipotesis alternatif. Ia menduga tugu ini bertindak sebagai tiang penunjuk waktu (sundial) di masa lampau. Hal ini merujuk pada catatan perjalanan utusan kekaisaran Tiongkok yang dikompilasi oleh Groeneveldt dalam bukunya Nusantara (1880).

Jejak Kolonial Belanda dan Revitalisasi Situs Hari Ini

Meskipun asal-usul pembangunannya masih diperdebatkan, catatan sejarah modern mencatat keberadaan situs ini sejak akhir abad ke-19. Arkeolog kolonial Verbeek mencatat penemuan Watu Tugu pertama kali pada tahun 1891. Saat itu tugu ini digambarkan sebagai sisa-sisa fondasi persegi dengan pilar puncak.

Struktur batu andesit ini sempat runtuh akibat faktor alam yang tidak diketahui sebelum akhirnya dipugar kembali pada tahun 1938 oleh jawatan purbakala kolonial Belanda (Oudheidkundige Dienst) atas prakarsa sejarawan J. Knebel. Proses pemugaran tersebut diabadikan dalam prasasti yang dipahat pada umpak beton penopang tugu.

Terdapat empat prasasti di sekeliling umpak tersebut, yakni dua berbahasa Belanda dengan huruf Latin, dan dua berbahasa Jawa dengan aksara Jawa. Prasasti tersebut menjelaskan bahwa tugu ini didirikan kembali oleh Dinas Purbakala menggunakan bantuan biaya dari Pemerintah Desa Tugurejo (Toegoeredjo). Di dekat tugu, juga ditemukan pahatan tapak kaki misterius yang diduga menjadi bagian dari prasasti kuno tersebut.

Baca juga: Sejarah Tugu Lonceng Cilebut, Situs Peninggalan Belanda

Setelah puluhan tahun status kepemilikan lahannya mengambang karena berada di area sengketa milik perusahaan swasta, secercah harapan muncul bagi kelestarian Watu Tugu. Pada Agustus 2022, PT Tanah Mas Panggung secara resmi menandatangani kesepakatan hibah lahan cagar budaya ini kepada Pemerintah Kota Semarang di bawah kepemimpinan Wali Kota Hendrar Prihadi.

Langkah hibah ini diharapkan dapat mengakhiri masa-masa tidak terawatnya situs purbakala ini. Selain itu, proses ini membuka jalan bagi revitalisasi total kawasan Watu Tugu sebagai destinasi wisata sejarah, edukasi, sekaligus pelestarian warisan peradaban masa lalu di Kota Semarang. (Muhafid/R6/HR-Online)

Read Entire Article
Berita Rakyat | Tirto News |