Nokdiak Moncong Pendek, Mamalia Bisa Bertelur

5 days ago 14

Membicarakan tentang hewan yang unik, nokdiak moncong pendek bisa menjadi salah satu contohnya. Hewan ini merupakan mamalia dan termasuk dalam kelompok monotremata, yaitu mamalia yang bertelur. Mereka ini menjadi salah satu jenis mamalia primitif yang melanjutkan proses reproduksi dengan cara bertelur (ovovivipar).

Ketika nokdiak melahirkan anak, prosesnya sama seperti mamalia lainnya. Meski terlihat mirip dengan landak, nokdiak ini sebenarnya berasal dari keluarga yang berbeda. Di Indonesia sendiri, spesies purba ini bisa manusia temukan di wilayah Jayapura, terutama di area kaki Gunung Cyclops. 

Baca Juga: Penemuan Fosil Sayap Capung Zaman Dinosaurus

Selain itu, nokdiak sering disebut juga ekidna. Pada daerah asalnya, hewan ini sangat masyarakat hormati seolah-olah seperti raja. Masyarakat di Kampung Ormu Wari, Distrik Raveni Rara, Kota Jayapura, telah memandang hewan mamalia mirip landak ini sebagai sesuatu yang sakral.

Morfologi Nokdiak Moncong Pendek

Sekilas ketika melihatnya, hewan ini tampak seperti landak kecil dengan adanya duri yang menutupi sebagian besar tubuhnya. Duri tersebut merupakan evolusi dari rambut yang hewan mamalia miliki. Panjang durinya berkisar antara 50 mm dan memiliki berbagai warna, mulai dari kuning kecokelatan, cokelat kemerahan, hingga warna hitam.

Nokdiak moncong pendek juga terkenal dengan nama latin Tachyglossus aculeatus. Nama tersebut bisa mencerminkan karakteristiknya di mana “Tachyglossus” artinya adalah lidah yang cepat. Sedangkan “aculeatus”, itu berarti memiliki duri. Meski begitu, duri-duri tersebut tidak menjangkau wajah, kaki, dan tangan hewan mamalia ini. 

Di area tersebut, hanya ditemukan rambut dengan warna cokelat kemerahan. Kemudian, wajah nokdiak memiliki penampilan yang lucu. Bagian mulutnya hanya bisa membuka hingga 5 mm dengan diameter sekitar 9 mm. Unik, bukan?

Ukuran Tidak Besar

Selain itu, ukuran nokdiak tidak besar. Hewan mamalia bertelur ini memiliki panjang sekitar 30 hingga 45 cm, lalu beratnya berkisar antara 2-7 kg. Mereka juga memiliki moncong sekitar 75 mm berbentuk pipi. Sebagai informasi, nokdiak moncong pendek memiliki kerabat, yakni hewan nokdiak moncong panjang. 

Kaki belakang nokdiak tersebut memiliki cakar melengkung yang dapat memungkinkan untuk menggali. Adanya cakar tersebut, mereka bisa melindungi diri dari bahaya dengan cara menggali lubang untuk melarikan diri. Ini persis seperti landak.

Habitat dan Distribusi Nokdiak dengan Moncong Pendek

Untuk habitatnya, nokdiak moncong pendek dapat manusia temukan di Australia dan beberapa bagian wilayah Papua, Indonesia. Di wilayah Bumi Cendrawasih, mamalia bertelur ini umumnya ada di daerah pantai dan juga dataran tinggi di sebelah barat daya. 

Baca Juga: Penemuan Tengkorak Norselaspis atau Ikan Purba Aneh

Mereka berbeda dengan nokdiak moncong panjang karena hanya berada di tempat tertentu, namun penyebaran nokdiak ini memang cukup luas. Status konservasinya termasuk dalam kategori “least concern” atau risiko rendah.

Dalam lingkungan alaminya, setidaknya ada lima subspesies T. aculeatus yang telah para ahli idetifikasikan. Nama-nama serta distribusi subspesies tersebut adalah sebagai berikut ini.

  1. Subspesies a. multiaculeatus terdapat di Pulau Kanguru,
  2. Subspesies a. setosus ini ada di Tasmania serta beberapa pulau di Selat Bass,
  3. Subspesies a. acanthion dapat manusia temukan di Teritorial Utara Australia dan Australia Barat,
  4. Subspesies a. Aculeatus telah tersebar di Queensland, New South Wales, Australia Selatan, dan Victoria,
  5. Subspesies a. lawesii ada di wilayah pantai dan juga dataran tinggi New Guinea. Selain itu, ada kemungkinan juga mereka berada di hutan hujan tropis bagian utara Queensland.

Perilaku dan Kebiasaan Nokdiak dengan Moncong Pendek

Nokdiak moncong pendek juga mengonsumsi berbagai jenis semut dan rayap sebagai sumber makan mereka. Mereka memiliki cakar yang panjang dan tajam untuk menggali tanah, serta lidah yang sangat lengket untuk menangkap mangsa. Selain itu, lidah mereka juga bisa memanjang sampai dengan 180 mm dan mengandung glikoprotein yang tinggi. Sehingga, ini sangat efektif untuk menangkap mangsa yang bersembunyi di antara rerumputan.

Sebenarnya, T. aculeatus atau nokdiak bermoncong pendek ini adalah hewan yang aktif pada siang hari. Akan tetapi, mereka sendiri juga tidak tahan dengan suhu panas karena tidak memiliki kelenjar keringat. Sehingga, hewan-hewan tersebut pun mulai beradaptasi untuk beraktivitas di malam hari. Selain itu, hewan ini juga terkenal sebagai mungwe oleh masyarakat Daribi dan Chimbu, karena biasanya hidup sendirian.

Baca Juga: Fakta Laba Laba Laut Telah Hidup Sejak 500 Juta Tahun

Waktu untuk berkembang biak tergantung pada tempat tinggal mereka, tetapi umumnya terjadi antara bulan Mei hingga September. Ada perkiraan bahwa nenek moyang nokdiak moncong pendek ini sudah ada sejak zaman Jurassic, yakni sekitar 160 juta tahun yang lalu. Sangat luar biasa, bukan? Oleh karena itu, beberapa ahli juga mengatakan kalau bentuk mata dan struktur beberapa tulang tengkoraknya mirip dengan reptil alih-alih landak biasa. (R10/HR-Online)

Read Entire Article
Berita Rakyat | Tirto News |