Perang Cina di Tanjung Pura, Wawacan Pemberontakan Cina di Purwakarta

7 hours ago 6

Perang Cina di Tanjung Pura atau ‘Carita Perang Cina di Tanjung Pura Kabupaten Purwakarta’ merupakan sebuah wawacan, pengarangnya ialah Hadji Moehammad Oemar. Ia adalah pengiring bupati Cianjur R.A.A. Prawira di Reja I. Wawacan atau carita tersebut berbentuk puisi tembang yang jumlahnya mencapai 309 pada.

Baca Juga: Perjalanan Kerajaan Sumedang Larang, Mulai Masa Kejayaan hingga Keruntuhannya

Dangding atau puisi tembang terdiri dari Asmarandana (30 bait atau 30 pada), Kinanti (51 pada), Durma (60 pada), Sinom (36 pada) dan Asmaradana lagi (132 pada).

Sejarah Perang Cina di Tanjung Pura

Naskah dari puisi tembang pada tanggal 14 Agustus 1864 selesai penulisannya dalam kertas pabrik dan bercap dengan tebal 74 halaman. Kemudian di setiap halaman terdapat 21 baris dan ukuran penulisannya 27 x 18 cm.

Hurufnya memakai Aksara Cacarakan dan Latin dalam Bahasa Sunda. Kini, naskah tersimpan di bagian manuskrip Perpustakaan Nasional RI, di jakarta Nomor Kode Sd. 108.

Pelaku Sejarah Peristiwa Perang di Tanjung

Dalam naskah tersebut ada beberapa nama pelaku sejarah yang terlibat, antara lain.

  • Agus Aliun
  • Andeng Abidin
  • Ajengan (K.H.R. Moehammad Joesoep, Baing Yusuf)
  • Anggadikusuma
  • Arya Prawirawinata
  • Arya Gajah
  • Arya Majah
  • Arya Tisna
  • Asep Elum
  • Asep Rabal
  • Demang Ardikusumah
  • Demang Jayadirja
  • R.A.A. Soeriawinata, Dalem Bogor Pareman
  • Tumenggung Wiranagara dan Wiryadinata

Selain pelaku sejarah, dalam naskah tersebut juga terdapat nama tempat bersejarah, seperti:

  • Bandung
  • Batusirap
  • Bogor
  • Ciputri
  • Cyanjur (Cianjur)
  • Garut
  • Purwakerta (Purwakarta)
  • Tanjung Pura

Kerusuhan oleh Orang Cina dari Purwakarta hingga Tanjung Pura

Wawacan mengisahkan kerusuhan yang dilakukan orang Cina terjadi dari kota Purwakarta hingga Tanjung Pura atau Karawang. Bangunan yang belum lama dibangun di kota Purwakarta berupa penjara, loji, rumah sakit dan gudang dibakar dan dirusak. Bahkan sejumlah toko, rumah dan bangunan lain di sepanjang jalan Purwakarta, Karawang dan Tanjung Pura rusak dan mereka jarah.

Baca Juga: Benteng Speelwijk Banten, Mengulas Jejak Kekuasan Belanda Tempo Dulu

Pasukan dari Batavia (Jakarta), Cianjur, Buitenzorg (Bogor), Bandung dan Karawang maju menumpas kerusuhan tersebut. Mereka adalah pasukan berjalan kaki, pasukan berkuda, serdadu belanda hingga prajurit pribumi. Akhirnya, pasukan perusuh dikalahkan pasukan yang dipimpin oleh Alibasah Sentot Prawirodirjo.

Pangeran Alibasah Sentot Prawirodirdjo

Nama Alibasah ini muncul dalam peristiwa bersejarah, yakni sebagai panglima perang (Alibasah) Perang Diponegoro tahun 1825-1830. Kemudian ia menyerahkan diri sebagai panglima Perang tanggal 17 Oktober 1829.

Setelah itu, masuk dinas ketentaraan kolonial Hindia Belanda. Alibasah sempat ikut serta dalam Perang Padri di Minangkabau tahun 1821-1837 dengan pemimpin Imam Bonjol.

Dalam naskah ‘Carita Perang Cina di Tanjung Pura Kabupaten Purwakarta’ menyebut Pangeran Alibasah menjadi komandan pasukan. Ia membawahi empat tumenggung untuk menumpas pemberontakan orang-orang Cina tersebut. Penugasan tersebut dari Gubernur Jenderal Hindia Belanda.

Pasukan terdiri dari 50 tentara kavaleri berkuda pribumi dan 250 tentara infanteri pribumi. Awalnya terdapat 400 orang pasukan kavaleri berkuda Alibasah. Lalu tambah pasukan infanteri 600 orang, sehingga gelap 1.000 orang pasukan pada Perang Diponegoro.

Kaum Pemberontak Berhasil Dihancurkan

Dalam buku ‘Wawacan Carita Perang Cina di Tanjung Pura Kabupaten Purwakarta’ menurut Edi Suhardi Ekadjati dan dalam buku ‘Ensiklopedi Sunda’ Ajib Rosidi, pasukan Alibasah berangkat dari Batavia. Kemudian menyusuri pantai Utara hingga sampai Tanjung Pura.

Alibasah beserta pasukannya sesudah menyeberangi sungai Citarum bagian hilir bertemu rombongan pemberontak orang Cina. Lalu terjadilah pertempuran dan kaum pemberontak kekuatannya hancur.

Dalam pertempuran tersebut, 600 pemberontak tewas di tanjung Pura. Kemudian sisa kaum pemberontak lainnya tertangkap dan mendapat hukuman mati oleh pasukan Priangan.

Namun pada halaman berikutnya buku tersebut tertulis kekeliruan penanggalan. Jadi, peristiwa pemberontakan terjadi di masa pemerintahan R. Adipati Prawiradirdja I, yakni sebagai bupati Cianjur. Lalu keterangan peristiwa tersebut pada masa pemerintahan R. Adipati  Prawiradirdja II baru selesai dikerjakan. 

Penanggalan dalam teks carita tak lagi ada penyebutan tanggal peristiwa kronologis. Akan tetapi hanya keterangan waktu seperti, beberapa hari berikutnya, pagi hari, siang hari, petang hari dan malam hari.

Baca Juga: Perjalanan Kilang Minyak Balongan Indramayu hingga Pernah Meledak Hebat

Sumber manuskrip lain dari wawacan tersebut adalah koleksi Cornelis Marinus Pleyte di Bagian Manuskrip Melayu Perpustakaan Nasional RI nomor inventarisasi Plt. 46 Peti 121. Sumber sekunder lainnya adalah dokumen cetak dalam buku karya G. de Seriere. Naskah Carita Perang Cina di Tanjung Pura mengisahkan peristiwa pemberontakan orang Cina di wilayah Purwakarta. Selain itu, terjadi di Tanjung Pura, Karawang dan Dawuan. Dari berbagai dokumen cetak dan arsip terkait Carita Perang Cina di Tanjung Pura ini merupakan ringkasan dari naskah asli. (R10/HR-Online)

Read Entire Article
Berita Rakyat | Tirto News |