harapanrakyat.com,- Lonjakan nilai tukar dolar ternyata berdampak hingga ke pelosok daerah. Di Kecamatan Banjaranyar, Kabupaten Ciamis, Jawa Barat, para peternak burung puyuh kini tengah menjerit, akibat terpukul dua kondisi ekstrem secara bersamaan. Kondisi tersebut yakni harga pakan yang terus naik, dan harga jual telur yang justru anjlok drastis.
Baca Juga: Kurs Dolar Melejit, Peternak Bebek di Purwadadi Ciamis Menjerit Harga Pakan Melambung Tinggi
Kondisi memprihatinkan ini salah satunya dirasakan oleh pengurus Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) Karya Abadi, Desa Cikaso, Kecamatan Banjaranyar. Usaha peternakan burung puyuh petelur yang mereka kelola, kini terancam gulung tikar akibat kerugian besar yang terus membayangi.
Bak Jatuh Tertimpa Tangga; Harga Pakan Naik Setiap Hari, Telur Malah Terjun Bebas
Pengurus Peternakan Burung Puyuh BUMDes Karya Abadi, Sumrodin mengungkapkan, bahwa kenaikan harga pakan saat ini sudah berada di luar kewajaran. Saat ini, harga pakan jenis layer (petelur) sudah menyentuh angka Rp 400.000 per karung isi 50 kg. Ironisnya, tren kenaikan ini diprediksi masih akan terus berlanjut.
“Setiap hari kami menerima informasi lonjakan harga pakan. Hari ini saja kami sudah mendapatkan kabar, jika harganya kembali naik Rp 400 per kilogramnya. Berarti besok pakan sudah mencapai Rp 420.000 per karungnya,” keluh Sumrodin kepada harapanrakyat.com, Senin (22/6/2026).
Baca Juga: Curhat Peternak di Kota Banjar; Pakan Terus Naik, Harga Telur Justru Turun
Sumrodin mengaku tak habis pikir dengan situasi pasar saat ini. Di saat biaya produksi membengkak akibat pakan yang mahal, harga jual telur puyuh di pasaran justru terjun bebas.
Ia mengungkapkan, bahwa harga sebelumnya Rp 29.000-Rp 32.000 per kg. Namun saat ini harga telur puyuh terjun bebas, sampai Rp 25.000 per kg. “Ini mah bukan untung, tapi kita malah tombok (rugi),” ucapnya.
Pendapatan Pekerja Turut Tergerus
Akibat ketimpangan neraca keuangan ini, dampak sosial langsung dirasakan oleh para pekerja. Pendapatan sistem bagi hasil yang diterima pekerja, kini merosot tajam hingga ke titik yang tidak manusiawi.
“Ada dua orang yang mengurus peternakan puyuh ini. Saat ini dari bagi hasil, mereka hanya kebagian Rp 20.000 per hari. Untuk besok entah bisa kebagian atau tidak, karena barusan saja sudah ada pemberitahuan kalau pakan naik lagi,” bebernya.
Ia menambahkan, jika dihitung secara matematis, kondisi operasional peternakan saat ini sudah berada dalam posisi merugi.
BUMDes Karya Abadi saat ini memelihara sekitar 5.000 ekor burung puyuh petelur. Dari jumlah tersebut, produksi telur yang dihasilkan rata-rata mencapai 40 kilogram per hari.
Sementara itu, kebutuhan pakan harian mencapai sekitar 120 kilogram. Dengan kata lain, konsumsi pakan mencapai tiga kali lipat dari jumlah produksi telur yang dihasilkan setiap harinya.
Ketidakseimbangan antara biaya pakan dan nilai penjualan telur itulah yang menyebabkan kerugian terus terjadi dan semakin sulit ditekan.
Hingga saat ini, pihak pengurus BUMDes mengaku masih buntu dan belum menemukan solusi konkret untuk menyelamatkan usaha tersebut. Upaya menyiasati biaya dengan mengoplos pakan justru berbuah simalakama.
“Kami belum mendapat solusi. Kalau pakannya tidak menggunakan jenis layer, kami takut burungnya malah mogok bertelur. Sekarang saja, sempat dicoba dioplos sedikit, hasil telurnya langsung menurun drastis,” jelas Sumrodin.
Baca Juga: Respon DKP3 Kota Banjar Soal Kenaikan Pakan Ayam Petelur yang Memberatkan Peternak
Pihaknya hanya bisa berharap ada intervensi atau keajaiban pasar, agar harga pakan tidak naik lagi atau kalau bisa kembali stabil. “Mudah-mudahan saja harga pakan bisa kembali normal, agar usaha BUMDes kami tidak sampai gulung tikar,” pungkasnya. (Suherman/R5/HR-Online/Editor: Adi Karyanto)

10 hours ago
7

















































