Sejarah Candi Menggung, Punden Berundak Misterius di Tawangmangu

2 hours ago 4

harapanrakyat.com,- Sejarah Candi Menggung bermula dari penemuan situs arkeologi penting yang terletak di lereng Gunung Lawu, Kabupaten Karanganyar. Lokasi punden berundak ini berada di Dusun Nglurah, Kecamatan Tawangmangu, pada ketinggian seribu meter di atas permukaan laut.

Baca juga: Sejarah Candi Planggatan, Jejak Majapahit di Lereng Lawu

Situs tersebut memiliki kaitan erat dengan peradaban Hindu serta menyimpan berbagai artefak kuno yang sangat mempesona bagi peneliti. Keberadaan struktur bebatuan bertingkat ini menunjukkan adanya akulturasi antara tradisi lokal megalitikum dengan pengaruh budaya dari masa klasik.

Oleh karena itu, masyarakat sekitar tetap melestarikan tradisi luhur yang menghubungkan kehidupan masa kini dengan warisan para leluhur. Catatan mengenai sejarah dari situs candi tersebut menunjukkan keterkaitan Menggung dengan tokoh penting bernama Kyai Menggung.

Meskipun terdapat perdebatan arkeologis, kawasan ini tetap dianggap sebagai pusat spiritual yang sakral oleh warga Desa Tawangmangu. Para pengunjung dapat melihat pohon-pohon besar yang mengelilingi situs budaya sehingga menciptakan suasana yang sangat asri dan menenangkan.

Jejak Sejarah Candi Menggung di Lereng Lawu

Peninggalan ini memiliki arca utama Durga Mahisasuramardhini yang dipercaya warga sebagai perwujudan dari sosok suci Nyi Roso Putih. Selain itu, terdapat enam arca Dwarapala yang menjaga setiap tingkatan punden berundak untuk memberikan perlindungan secara simbolis. Penemuan Yoni di area pusat semakin memperkuat identifikasi bahwa tempat ini dahulu berfungsi sebagai lokasi pemujaan Dewa Siwa.

Selain sebagai tempat ibadah, situs tersebut berkaitan erat dengan legenda pernikahan Kyai Menggung demi menciptakan perdamaian abadi. Narotama diduga merupakan sosok asli di balik nama penguasa tersebut setelah dirinya memilih menetap di kawasan Nglurah. Dengan demikian, nilai-nilai spiritual dalam situs ini tetap terjaga melalui berbagai upacara adat yang dilakukan secara turun-temurun.

Upacara Dukutan rutin diselenggarakan setiap Selasa Kliwon pada wuku Dukut sebagai bentuk rasa syukur masyarakat terhadap Yang Mahakuasa. Dalam ritual tersebut, warga melakukan aksi saling melempar sesaji jagung yang dimasak secara tradisional menggunakan api kayu bakar. Hiburan wayang kulit semalam suntuk menjadi penutup rangkaian acara sakral yang sangat dinantikan oleh penduduk serta wisatawan lokal.

Baca juga: Sejarah Candi Kethek dan Mitologi Pengadukan Lautan Susu Demi Air Keabadian

Gaya ukiran pada arca menunjukkan kemiripan kuat dengan Candi Sukuh sehingga peneliti menduga situs berasal dari masa Majapahit. Namun, beberapa sumber lisan menghubungkan tempat ini dengan era Prabu Airlangga yang jauh lebih tua dari abad kelima belas. Tentunya perbedaan pendapat ini semakin menambah daya tarik misterius bagi siapa saja yang ingin mempelajari arkeologi di Jawa Tengah.

Sejarah Candi Menggung memberikan pelajaran berharga tentang pentingnya menjaga keharmonisan antara budaya, alam, dan keyakinan spiritual. Kelestarian situs ini merupakan tanggung jawab bersama agar generasi mendatang tetap bisa menikmati keindahan sejarah Indonesia. Semoga upaya perlindungan terhadap cagar budaya ini terus berlanjut demi mempertahankan identitas nasional yang sangat berharga. (Muhafid/R6/HR-Online)

Read Entire Article
Berita Rakyat | Tirto News |