Satelit Nusantara Lima Meluncur dari AS

2 days ago 14

PT Pasifik Satelit Nusantara (PSN) semakin mendekati peluncuran Satelit Nusantara Lima (SNL). Awalnya, peluncuran satelit ini akan berlangsung pada akhir Agustus, tetapi rupanya telah berubah ke September 2025. Keterlambatan atau penundaan adalah hal yang biasa terjadi dalam peluncuran satelit karena adanya pengaruh dari berbagai faktor.

Baca Juga: Sinyal Misterius Satelit Zombie NASA Setelah 60 Tahun Mati Total

Satelit jenis Geostationary Orbit (GEO) ini akan ditempatkan pada ketinggian sekitar 36 ribu kilometer dari permukaan Bumi dengan kapasitas besar mencapai 160 Gbps, menjadikannya salah satu yang terbesar di kawasan Asia Tenggara. Dari kapasitas tersebut, 140 Gbps akan berfokus untuk melayani Indonesia, sementara sisanya akan dialokasikan bagi wilayah Malaysia dan Filipina.

Peluncuran Satelit Nusantara Lima dalam 2-3 Minggu

CEO PSN, Adi Rahman Adiwoso, menginformasikan bahwa semua persiapan telah selesai mereka lakukan. Saat ini, mereka hanya menunggu penjadwalan peluncuran dari SpaceX yang berfungsi sebagai penyedia peluncuran.

Dalam minggu ini, Boeing telah mengirimkan komunikasi Satelit Nusantara Lima kepada PSN. Setelah berada di orbit, satelit ini akan menyediakan konektivitas dengan kapasitas yang tinggi bagi pelanggan PSN di lebih dari 17 ribu pulau di Indonesia dan negara-negara sekitarnya.

“Kita sudah siap, satelit sudah tiba di Cape Canaveral (Florida, AS), sedang dalam proses pemrosesan. Kami sedang menunggu slot peluncuran dalam 2-3 minggu ke depan, dan mungkin minggu depan saya harus berada di sana (Cape Canaveral),” ungkap Adi.

Pernyataan tersebut terungkap setelah acara diskusi bertajuk ‘Antariksa: Urgensi dan Relevansi untuk Indonesia’ di The Residence Onfive, Grand Hyatt, Jakarta, pada hari Kamis (21/8/2025).

Belum Ada Tanggal Pasti

Adi belum dapat memastikan tanggal pasti untuk peluncuran SNL mengingat adanya risiko keterlambatan yang dapat terjadi akibat berbagai alasan. Termasuk prioritas peluncuran satelit, kondisi cuaca, dan masalah teknis.

“(Peluncuran) bisa mundur karena berbagai faktor. Mengingat kami menggunakan roket dari Amerika. Sesuai dengan kesepakatan, jika ada kepentingan negara Amerika, seperti pertahanan, itu yang didahulukan. Selain itu, jika kondisi cuaca buruk, peluncuran bisa diundur satu atau dua hari. Jika ada masalah teknis, kami tidak mau mengambil risiko tinggi,” jelasnya.

Meskipun begitu, Adi, yang juga memegang posisi sebagai Ketua Asosiasi Antariksa Indonesia (ARIKSA), tetap optimis bahwa peluncuran Satelit Nusantara Lima akan sesuai dengan target.

“Akhir Agustus atau awal September (meluncur), kita lihat saja nanti,” tambahnya.

Muatan Komunikasi SNL

Komunikasi SNL akan berada di atas platform 702MP besutan Boeing yang menawarkan lebih dari 160 Gbps kapasitas, mendukung akses internet pita lebar serta layanan komunikasi penting di seluruh Indonesia dan kawasan Asia Tenggara. Dia menekankan bahwa satelit ini akan memberi manfaat bagi masyarakat, sekolah, dan bisnis yang sebelumnya tidak memiliki akses yang memadai.

“SNL dengan lebih dari 160 Gbps akan memperkuat kemampuan kami untuk memenuhi kebutuhan nasional. Kerja sama kami dengan Boeing dan mitra teknologi global bertujuan agar tidak ada yang tertinggal saat Indonesia berkembang,” ujarnya lebih lanjut.

Baca Juga: Jumlah Satelit yang Mengelilingi Bumi Terus Bertambah, Ini Faktanya!

Pernyataan serupa juga tersampaikan oleh Ryan Reid, Presiden Boeing Satellite Systems International. Ia menjelaskan bahwa bisnis satelit Boeing memiliki sejarah panjang dalam melayani Indonesia dan wilayah Asia Pasifik, mulainya melalui peluncuran satelit Palapa A1 pada tahun 1976.

“Adanya Satelit Nusantara Lima, kami merasa bangga bisa melanjutkan warisan tersebut. Menyediakan solusi yang andal dan berkualitas tinggi yang sesuai dengan kondisi geografi dan kebutuhan konektivitas unik di Indonesia. PSN telah menjadi mitra yang luar biasa dalam program ini,” tuturnya lagi.

SNL lengkap dengan teknologi pemrosesan muatan yang canggih. Sehingga, dapat memungkinkan PSN untuk secara dinamis mengarahkan kapasitas internet dan komunikasi ke lokasi yang paling membutuhkannya. Baik di daerah perkotaan, desa terpencil, maupun dalam situasi darurat akibat bencana alam.

“Indonesia merupakan salah satu negara pertama yang menggunakan komunikasi satelit untuk menghubungkan masyarakatnya dan Nusantara Lima melanjutkan warisan tersebut,” kata CEO PSN Group, Adi Rahman Adiwoso.

Intervensi Boeing juga mencakup ‘sayap’ bertenaga surya pada satelit yang mampu menghasilkan daya maksimum 15 kW. Ini dapat memungkinkan adanya muatan canggih satelit berfungsi secara optimal selama misi yang berdurasi 15 tahun. Sayap ini mereka produksi dari Spectrolab yang merupakan bagian dari Boeing.

Investasi Besar untuk Proyek Satelit

Satelit Nusantara Lima berfungsi krusial dalam memperluas jaringan komunikasi di Indonesia. PSN bahkan telah menginvestasikan dana besar untuk proyek ini, sebesar sekitar 7 triliun.

“Biaya proyek ini sekitar antara Rp7 triliun hingga Rp7,5 triliun, tergantung pada nilai tukar,” jelas Adi.

Jika sesuai rencana, satelit Nusantara Lima akan ditempatkan di orbit geostasioner pada posisi 113 derajat Bujur Timur, tepat di atas garis khatulistiwa. Dengan teknologi very high throughput satellite (VHTS), satelit ini akan memiliki cakupan layanan yang luas, menjangkau seluruh wilayah Asia Tenggara.

Untuk mendukung operasionalnya di daratan, PSN telah menyiapkan tujuh gateway utama yang tersebar di beberapa kota strategis, yaitu Aceh, Banjarmasin, Bengkulu, Cikarang, Gresik, Kupang, dan Tarakan. Infrastruktur ini akan menjadi penghubung penting agar kapasitas besar Nusantara Lima dapat dimanfaatkan secara maksimal di berbagai wilayah Indonesia.

Baca Juga: Mengetahui Perbedaan Satelit Phobos dan Deimos yang Setia Mengelilingi Mars

Satelit Nusantara Lima ini akan meliputi area Indonesia, Filipina, dan Malaysia. Rencananya, satelit tersebut akan meluncur dari Florida Space Coast, di Cape Canaveral, Florida, AS, dengan menggunakan roket Falcon 9 milik SpaceX. Setelah proses upgrade dan pengujian di orbit, besar harapan satelit Nusantara Lima ini dapat memulai operasi komersialnya dari Orbit Geostasioner pada tahun 2026. (R10/HR-Online)

Read Entire Article
Berita Rakyat | Tirto News |