Situs Makam Van Beck, Jejak Eropa di Tengah Cigugur Kuningan

2 days ago 17

Makam Van Beck merupakan bangunaan kuno yang berdiri di kawasan Jalan Cigugur arah Palutungan, Kabupaten Kuningan. Bangunan kuno ini menyimpan sejarah masa Kolonial Belanda yang kini populer sebagai komplek pemakaman bergaya Eropa. 

Baca Juga: Benteng Speelwijk Banten, Mengulas Jejak Kekuasan Belanda Tempo Dulu

Sejarah Makam Van Beck sebagai Peninggalan Hindia Belanda

Bangunan makam kuno bergaya arsitektur Eropa ini masih menyimpan banyak misteri. Warga sekitar meyakini bahwa makam yang terletak di samping markas Koramil 1515 Cigugur itu merupakan tempat peristirahatan seorang pembesar Belanda bernama Van Beck. Namun, hingga kini informasi mengenai silsilah maupun rekam jejak sosok tersebut masih minim diketahui.

Iim Wakim, juru pemelihara situs, mengaku hanya memperoleh sedikit cerita terkait Van Beck. Secara fisik, makam ini berbentuk menyerupai monumen dan dibangun dari bata besar berwarna putih yang kini mulai memudar dimakan usia. Meski demikian, bangunan tersebut tetap terlihat kokoh dan terawat.

Di bagian depan, sebuah pagar besi berkawat berdiri mengelilinginya. Sehingga menambah kesan angker sekaligus menegaskan identitasnya sebagai makam tua yang sarat nilai historis.

Makam dari Sosok Penting

Situs Van Back merupakan makam yang dibangun sekitar tahun 1912. Tak banyak yang tahu bahwa situs ini merupakan makam dari sosok penting pada masa pemerintah kolonial Belanda yang bertugas di Residen Cirebon. 

Meskipun sudah terlihat kusam, Situs Van Beck  merupakan bukti sejarah nyata. Bangunan ini menjadi peninggalan penting bagi sejarah pemerintahan Belanda pada masa lampau. 

Kini, makam Van Beck ditetapkan sebagai BCB atau Bangunan Cagar Budaya. Di tempat tersebut, terdapat papan informasi resmi dari Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Serang, Banten. 

Peti Mati dengan Arsitektur Klasik Eropa

Meskipun berada di tepi jalan raya, kompleks Situs Van Back terasa hening dan teduh. Pencahayaan di dalam bangunannya hanya berasal dari beberapa celah ventilasi saja. 

Sementara itu, terdapat bentuk persegi panjang dan salib yang menyaring cahaya secara dramatis ke ruangan utama. Tepat di tengah ruangan, ada tiga struktur yang mirip seperti peti mati.

Dua peti mati berdempetan, sementara satunya berukuran lebih kecil. Ketiganya berada di bawah kubah besar berhiaskan ornamen khas arsitektur klasik Eropa. 

Tak jauh dari bangunan utama, ada sebuah taman kecil yang penuh rerumputan dan tanaman hias. Di tempat tersebut, terdapat lima makam tua yang mulai terlihat pudar dan penuh lumut. 

Sayangnya, papan informasi status cagar budaya di lokasi tersebut sudah lama lapuk. Akibatnya, beberapa informasi di makam sulit untuk dibaca. 

Mengenal Sosok Van Beek

Sejarah makam Van Beck sendiri tak lepas dari sosok bernama Hendrik Albertus van Beek. Sosok tersebut merupakan tokoh yang pernah menjabat sebagai supervisor di Departemen Pekerjaan Umum Kuningan. 

Hendrik Albertus van Beek sendiri pernah menikah di Bandung sekitar tahun 1907. Dahulu, situs yang menjadi komplek pemakaman ini menjadi bentuk penghormatan bagi keluarganya yang sudah meninggal dunia. 

Baca Juga: Perjalanan Keramik Plered Purwakarta Hingga Go Internasional

Situs Van Beck sendiri terlihat seperti makam keluarga yang megah. Namun, faktanya sosok Ban Beek sendiri tidak dimakamkan di tempat tersebut. 

Alasan pemilihan Cigugur sebagai situs makam, tak lepas dari udara sejuk di lokasi tersebut. Seperti yang kita tahu bahwa Cigugur terkenal memiliki udara sejuk dan dingin, menyerupai iklim di Eropa. 

Saat itu, banyak orang-orang Eropa yang menjadikan Kuningan sebagai tempat peristirahatan seperti di Cigugur, Sangkanhurip dan Linggarjati. Pemilihan lokasi tersebut cukup strategis bagi mereka yang bekerja di Cirebon dan sekitarnya seperti pabrik gula, pelabuhan dan pabrik rokok. 

Menyisakan Misteri

Literatur menyebutkan bahwa dulunya terdapat sekitar 24 makam di sekitar monumen tersebut. Namun, saat ini hanya lima makam yang masih ditemukan. Tidak jelas apakah bangunan yang menyerupai Mausoleum itu pernah benar-benar menyimpan jenazah, ataukah pernah ada tetapi kemudian dijarah dan dirusak. Hingga kini, belum ada literatur lanjutan yang mampu menjawab pertanyaan tersebut.

Makam tua di tepi jalan Cigugur ini membawa kita menelusuri jejak Hendrik Albertus van Beek, arsitek yang disebut sebagai perancang Mausoleum di Cigugur, Kuningan. Meski demikian, keberadaan bangunan tersebut tetap menyisakan misteri yang belum terpecahkan.

Pembangunan Makam Lebih dari Satu Tahun

Menurut surat kabar Hindia Belanda Algemeen Handelsblad edisi 8 Juli 1921, pembangunan makam Van Beck berlangsung lebih dari setahun. Setelah pembangunan selesai, jenazah anak dan menantu Van Beek dipindahkan ke lokasi tersebut. 

Pembuatan situs makamnya sendiri terinspirasi dari makam bergaya Italia dengan material marmer. Namun, karena keterbatasan material dan lokasi Cigugur yang terpencil, Van Beek memilih untuk menggunakan beton. 

Sebagai informasi, masyarakat umum bebas berkunjung ke Situs Van Back. Terlebih bagi mereka yang tertarik untuk menelusuri jejak sejarah kolonial Belanda di Kabupaten Kuningan. 

Lokasinya sendiri tidak jauh dari Markas Koramil 1515 Cigugur, tepatnya di tepi Jalan Cigugur arah Palutungan. Kemudahan aksesnya menjadi daya tarik tersendiri bagi masyarakat yang ingin melihat area Situs Van Beck secara keseluruhan. 

Baca Juga: Perjalanan Kilang Minyak Balongan Indramayu hingga Pernah Meledak Hebat

Makam Van Beck bisa menjadi sumber kajian dan penelitian lebih lanjut, terkait sejarah peninggalan kolonial Belanda, khususnya di Kuningan. Melalui makam Van Beck ini, masyarakat bisa mengetahui lebih detail seluk beluk gaya arsitektur Eropa pada masa lampu. Hal tersebut bisa menjadi jembatan terbaik untuk memahami pengaruh budaya Belanda yang hadir dalam kehidupan masyarakat Indonesia. (R10/HR-Online)

Read Entire Article
Berita Rakyat | Tirto News |