Sosok Utuy Tatang Sontani, Sastrawan Bersejarah yang Terjebak Arus Politik 1965

12 hours ago 11

Nama Utuy Tatang Sontani menempati posisi penting dalam sejarah sastra Indonesia. Ia populer sebagai sastrawan produktif yang melahirkan berbagai karya, mulai dari novel, cerpen, hingga naskah drama. Dalam perjalanan hidupnya, ia tidak hanya berhadapan dengan tantangan menulis, tetapi juga politik besar di masa Orde Baru.

Baca Juga: Mengenal Kisah Perjalanan Sastrawan Indonesia Abdoel Moeis

Keterlibatannya dengan organisasi kebudayaan kala itu membuat namanya ikut terseret dalam pusaran politik pasca peristiwa 1965. Akibat situasi tersebut, Utuy tidak dapat kembali ke Indonesia dan harus menjalani hidup di luar negeri sampai wafat. Bahkan, di era pemerintahan Soeharto karya-karyanya sempat dilarang beredar.

Mengenal Lebih Dekat Sosok Utuy Tatang Sontani

Utuy Tatang lahir di Cianjur, Jawa Barat, pada tanggal 31 Mei 1920 silam. Sejak usia muda, ia telah menunjukkan minat besar terhadap dunia bahasa serta sastra. Pendidikan formalnya berakar di Taman Dewasa Bandung. Ini merupakan sebuah lembaga pendidikan yang saat itu terkenal memberikan ruang bagi pengembangan pemikiran dan kreativitas para pelajar.

Kemampuannya dalam menulis berkembang seiring bertambahnya pengalaman hidup. Berbekal ketekunan dan kecintaannya terhadap sastra, Utuy kemudian tumbuh menjadi salah satu penulis populer. Ia cukup diperhitungkan dalam perkembangan kesusastraan Indonesia khususnya pada pertengahan abad ke-20.

Karier dan Kiprah di Dunia Sastra

Karier Utuy Tatang Sontani tidak hanya berkaitan dengan aktivitas menulis. Ia pernah bekerja di berbagai lembaga pemerintah dan kebudayaan. Beberapa diantaranya adalah Radio Republik Indonesia (RRI) Tasikmalaya, Jawatan Pendidikan Masyarakat, hingga Lembaga Bahasa dan Kesusastraan Indonesia.

Baca Juga: Profil Joko Pinurbo, Sastrawan Ternama dengan Hasil Karya Nyentrik

Selain terkenal sebagai penulis, Utuy juga aktif menjadi pengajar bahasa sekaligus sastra. Namanya semakin melejit setelah menghasilkan sejumlah karya yang mendapat perhatian pembaca, baik di dalam maupun luar negeri. Karya-karyanya bahkan diterjemahkan ke berbagai bahasa asing. Termasuk Rusia, Inggris, Mandarin, Tagalog dan Estonia.

Salah satu karya awalnya adalah Tambera, novel berlatar sejarah Maluku pada abad ke-17. Novel tersebut pertama kali terbit dalam bahasa Sunda pada 1937. Selain Tambera, ia juga menghasilkan kumpulan cerita pendek misalnya Orang-Orang Sial yang terbit sekitar 1951. Karya tersebut memperlihatkan kemampuan Utuy dalam menggambarkan kehidupan masyarakat dengan sudut pandang tajam dan realistis.

Di bidang drama, Utuy Tatang terkenal melalui sejumlah lakon penting. Ia memiliki gaya penulisan khas karena naskah dramanya sering menyerupai cerita sehingga mudah pembaca nikmati. Salah satu karya dramanya yang cukup hits pada masa itu bertajuk Suling dan Bunga Rumah Makan.

Terjebak Arus Politik

Perjalanan hidup Utuy Tatang Sontani berubah drastis ketika situasi politik Indonesia memanas pada pertengahan 1960-an. Sebelum peristiwa tersebut, ia sempat menjadi anggota pimpinan pusat Lembaga Kebudajaan Rakjat (Lekra). Ini merupakan sebuah organisasi kebudayaan yang memiliki hubungan erat dengan dinamika politik pada masa itu.

Memasuki tahun 1965, Utuy berada di Beijing, Tiongkok, dalam rangka menghadiri peringatan nasional atas undangan pemerintah setempat. Namun, meletusnya peristiwa Gerakan 30 September membuat banyak warga Indonesia yang sedang berada di luar negeri tidak dapat kembali. Tak terkecuali dengan dirinya.

Pengasingan hingga Wafat

Situasi semakin rumit ketika perubahan politik terjadi di Indonesia. Utuy Tatang Sontani akhirnya hidup berpindah-pindah dan menjalani masa pengasingan. Setelah meninggalkan Tiongkok, ia menetap di Moskow, Uni Soviet, bersama sejumlah rekan senasib. Di Moskow, kehadirannya justru mendapat sambutan baik karena namanya telah populer sebelumnya.

Ia kemudian mengajar Bahasa dan Sastra Indonesia di Institut Negara-Negara Asia serta Afrika di bawah Universitas Negeri Moskow. Meski jauh dari kampung halaman, Utuy tetap aktif menulis beberapa novel dan karya autobiografi. Salah satunya adalah Kolot Kolotok, serta autobiografi Di Bawah Langit Tak Berbintang. Judul inilah yang menggambarkan pengalaman hidupnya selama berada di pengasingan.

Kerinduan terhadap keluarga dan Indonesia banyak ia tuangkan dalam karya-karya yang lahir selama masa pengasingan. Hingga pada 17 September 1979, Utuy meninggal dunia di Moskow. Ia dimakamkan di kota tersebut dan menjadi salah satu tokoh Indonesia yang menghabiskan akhir hidupnya di luar negeri.

Baca Juga: Karir Godi Suwarna, Sastrawan Sunda yang Konsisten Berkarya

Utuy Tatang Sontani merupakan salah satu sastrawan berpengaruh dalam sejarah sastra Indonesia. Perjalanan hidupnya memperlihatkan bagaimana seorang penulis tidak hanya berkarya melalui tulisan, tetapi juga sosial dan politik. Meskipun sempat mengalami pengasingan dan karyanya dibatasi pada era Orde Baru, Utuy Tatang Sontani tetap dikenang. Khususnya sebagai sosok penting yang memberikan kontribusi besar bagi terhadap inspirasi novel modern. (R10/HR-Online)

Read Entire Article
Berita Rakyat | Tirto News |