Ada banyak sahabat Rasulullah yang berperan penting dalam peristiwa hijrah, termasuk Ummu Ma’bad Al Khuza’iyah. Namanya memang tak sepopuler tokoh-tokoh besar seperti Abu Bakar Ash-Shiddiq atau Ali bin Abi Thalib. Kendati demikian, kisah perjumpaannya dengan Nabi Muhammad SAW mampu mengubah segalanya.
Baca Juga: Sahabat Nabi yang Larinya Kencang, Lebih Cepat Dibanding Kuda
Ialah wanita yang dengan mata kepalanya sendiri menyaksikan keberkahan dari seorang Nabi. Bahkan, kisah terkait keduanya menjadi sejarah yang sampai saat ini masih sangat populer di kalangan umat Muslim.
Mengenal Sosok Ummu Ma’bad Al Khuza’iyah
Pemilik nama asli Atikah binti Khalid bin Munqidz itu pada dasarnya merupakan seorang wanita sederhana dari suku Khuza’ah. Ummu Ma’bad juga punya saudara bernama Khunais bin Khalid. Sosok yang tak lain adalah sahabat dekat Nabi, ia pernah berperan dalam pembebasan Makkah dan gugur sebagai syahid.
Saat itu, ia tinggal di pedalaman padang pasir bersama sang suami, Abu Ma’bad. Sosoknya tidak terkenal secara luas di masa jahiliah karena bukan tokoh terkemuka. Meski hidup dalam keterbatasan, Ummu Ma’bad adalah potret wanita berjiwa besar dan berhati tulus.
Ia dikenal oleh orang-orang sekitar sebagai wanita dermawan yang senang membantu. Terutama menolong para musafir yang melewati kemahnya. Biasanya, Ummu Ma’bad akan memberi makanan atau minuman kepada siapapun yang lewat.
Kedatangan Rasulullah SAW ke Gubuknya
Suatu hari, saat perjalanan hijrah dari Makkah ke Madinah, Rasulullah bersama Abu Bakar Ash-Shiddiq singgah di kemah Ummu Ma’bad. Kala itu, musim sangat kering. Mereka sempat bertanya mengenai makanan atau minuman, namun Ummu Ma’bad Al Khuza’iyah mengatakan tak memiliki apa-apa.
“Demi Allah, seandainya kami punya sesuatu maka tidak akan segan-segan untuk menjamu kalian.”
Nabi Muhammad SAW lalu melihat seekor domba kurus di samping kemah dan bertanya tentang kondisinya.
“Wahai Ummu Ma’bad, mengapa domba ini ada di sini?”
Wanita itu menjelaskan bahwa domba tersebut lemah dan tertinggal dari rombongan. Bahkan sudah tidak mengeluarkan susu lagi. Kendati begitu, Rasulullah tetap meminta izin untuk memerahnya. Ummu Ma’bad pun memperbolehkan meski tidak terlalu yakin pada hasilnya. Mengingat kondisi domba yang hampir sekarat.
Baca Juga: Dhamrah bin Ishaq, Sahabat Nabi yang Wafat Saat Berhijrah
Menjadi Domba Penuh Berkah
Dengan menyebut nama Allah dan berdoa, Rasulullah SAW lantas mengusap tubuh domba itu. Ajaibnya, susu mengalir sangat deras dari sumbernya. Ummu Ma’bad segera mengambil wadah besar guna menampungnya.
Rasulullah SAW menyuruh wanita tersebut minum terlebih dahulu hingga puas. Baru kemudian Abu Bakar ra. dan para sahabat mengikuti. Sementara Rasulullah meminumnya terakhir setelah para sahabat selesai.
Tak sampai di sana, hasil susu perah masih berlimpah hingga wadah penuh kembali. Sebelum akhirnya Rasulullah SAW berpamitan untuk melanjutkan perjalanan hijrah. Peristiwa tersebut langsung menjadi awal perubahan besar dalam hidup Ummu Ma’bad.
Bersama Sang Suami Masuk Islam
Tak lama kemudian, sang suami pulang. Saat melihat wadah penuh susu, ia heran dan bertanya dari mana asalnya. Ummu Ma’bad Al Khuza’iyah pun menceritakan tentang pria penuh berkah yang singgah kemudian memerah domba mereka.
Setelah mendengar ciri-ciri yang sang istri gambarkan secara detail, Abu Ma’bad langsung menyimpulkan bahwa pria itu adalah Muhammad. Sosok yang tengah para kaum Quraisy cari-cari keberadaannya. Ia pun mengungkapkan keinginannya untuk menjadi pengikut Nabi Muhammad SAW.
Beberapa waktu berlalu, Ummu Ma’bad beserta suaminya akhirnya berhasil menyusul Rasulullah. Keduanya sontak menyatakan keislaman mereka. Baik Ummu Ma’bad maupun suaminya mengaku perjumpaan singkat kala itu meninggalkan kesan mendalam. Bahkan sampai berhasil menumbuhkan iman dalam hati mereka.
Tak sekedar masuk Islam, Ummu Ma’bad benar-benar menaruh cinta dan hormat kepada Rasulullah. Pada suatu waktu, ia menghadiahkan seekor domba. Namun Rasulullah menolaknya karena melihat domba itu memiliki banyak susu. Ia kemudian memberikan domba lain yang tidak memiliki susu, dan Rasulullah menerimanya.
Baca Juga: Zahir bin Haram, Budak Buruk Rupa Kesayangan Nabi SAW
Nilai-nilai baik yang wanita itu terima dari Rasulullah tetap ia teladani bahkan ketika Muhammad SAW berpulang. Kisah Ummu Ma’bad Al Khuza’iyah berhasil menjadi inspirasi bagi banyak umat Muslim. Terutama terkait ketulusan Ummu Ma’bad Al Khuza’iyah dalam menyenangkan orang lain sekaligus Rasulullah tanpa mengharap balasan. (R10/HR-Online)