harapanrakyat.com,- Warga Ciamis yang ingin berlibur ke Pangandaran seringkali dihantui rasa khawatir akan ancaman tsunami. Kekhawatiran ini semakin mencuat setelah Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengungkap adanya jejak tsunami purba yang pernah melanda pesisir selatan Jawa, termasuk Pangandaran.
Dalam keterangan resmi yang diterima harapanrakyat.com pada Minggu (17/8/2025) lalu, BRIN memaparkan bukti ilmiah tentang tsunami raksasa yang terjadi ribuan tahun lalu. BRIN bahkan menyebut tsunami dahsyat tersebut diawali gempa besar dengan kekuatan magnitudo 9,0 dan berpotensi terulang kembali.
Kepala Pelaksana (Kalak) Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Ciamis, Ani Supiani mengatakan, masyarakat perlu mengetahui ciri-ciri gempa yang berpotensi memicu tsunami. Pemahaman ini penting agar masyarakat lebih cepat mengambil tindakan penyelamatan diri.
“Tanda-tanda gempa yang diikuti tsunami diantaranya, yang pertama jika gempa bumi terasa kuat dengan magnitudo besar, kedua durasi gempa yang lama, ketiga getaran gempa yang kuat, keempat suara gempa yang keras seperti dentuman, dan ciri terakhir yaitu jika adanya pergeseran tanah maka itu dapat memicu tsunami,” terangnya, Minggu (24/8/2025).
Ani menuturkan, pihaknya juga telah melakukan upaya mitigasi tidak hanya sebelum bencana terjadi, tetapi juga saat bencana berlangsung, hingga pasca-kejadian.
“Untuk mitigasi bencana, BPBD Ciamis memiliki beberapa langkah untuk menghadapi tsunami. Baik itu sebelum terjadinya gempa dan tsunami, saat terjadinya gempa dan tsunami bahkan setelah gempa dan tsunami terjadi,” jelasnya.
Baca Juga: BRIN Ungkap Jejak Tsunami Purba di Pangandaran, Berpotensi Terulang
Jika Liburan di Pantai Pangandaran Ada Tsunami, Ini Arahan BPBD Ciamis
BPBD Ciamis juga memberikan arahan praktis khusus bagi masyarakat, terutama yang akan atau sedang berlibur di pantai Pangandaran. Hal ini penting karena banyak wisatawan tidak siap menghadapi kondisi darurat saat bencana terjadi.
“Kalau misalkan orang Ciamis sedang berlibur di Pangandaran kemudian ada gempa yang diikuti tanda-tanda bakal ada tsunami, maka dihimbau untuk melakukan beberapa hal,” katanya.
Menurut Ani, langkah penyelamatan utama adalah menjauhi pantai secepat mungkin tanpa menunggu gelombang tsunami terlihat. Mengikuti jalur evakuasi yang sudah disiapkan pemerintah juga menjadi kunci keselamatan.
“Pertama, segera menjauh dari pantai ke tempat yang lebih tinggi, jangan menunggu gelombang tsunami terlihat, jika ada jalur evakuasi maka ikuti jalur evakuasi tersebut untuk mencapai tempat yang lebih aman,” imbaunya.
Langkah BPBD Ciamis Budayakan Sadar Bencana
Selain upaya teknis, BPBD Ciamis juga fokus membangun budaya sadar bencana di tengah masyarakat. Tujuannya agar setiap warga terbiasa hidup berdampingan dengan potensi bencana, sekaligus mampu bertindak cepat jika sewaktu-waktu bencana terjadi.
“Kami BPBD Ciamis melakukan beberapa untuk menciptakan budaya sadar bencana. Diantaranya melakukan pendidikan dan pelatihan kepada masyarakat, melakukan sosialisasi melalui berbagai media termasuk melalui media sosial,” ungkapnya.
Tidak hanya itu, BPBD juga melibatkan relawan serta membentuk Desa Tangguh Bencana (Destana) melalui dukungan anggaran daerah. Dengan cara ini, masyarakat menjadi lebih mandiri dalam menghadapi risiko bencana.
“Tak hanya itu, BPBD Ciamis juga melakukan pelatihan relawan bencana. Serta bekerja sama dengan masyarakat melalui pembentukan Destana dari APBD,” lanjutnya.
Pesan Kalak BPBD
Sebagian masyarakat mungkin merasa takut berkunjung ke pantai karena adanya ancaman tsunami. Menanggapi hal tersebut, Ani menegaskan bahwa rasa takut berlebihan justru tidak perlu. Sebaliknya, masyarakat perlu memahami risiko dan selalu waspada terhadap tanda-tanda alam.
“BPBD Ciamis mengimbau masyarakat agar tidak perlu takut untuk berkunjung ke pantai karena takut tsunami. Pahami dan ikuti beberapa hal seperti memahami risiko dan ketahui tanda-tanda terjadinya tsunami,” kata Ani.
Ani menambahkan, masyarakat juga harus memperhatikan peringatan resmi dari pihak berwenang serta tanda-tanda alam yang tidak biasa. Seperti perubahan warna air laut atau suara gemuruh.
“Selain itu, ikuti peringatan dari pihak berwenang dan waspada terhadap perubahan alam seperti perubahan warna air laut atau suara gemuruh yang tidak biasa,” terangnya.
Meski demikian, kehati-hatian tetap perlu dijaga, terutama jika berlibur ke pantai yang punya riwayat tsunami atau memang berada di kawasan rawan bencana
“Namun jika pantai yang akan dikunjungi memiliki sejarah tsunami yang signifikan atau terletak di daerah yang rawan tsunami maka perlu dilakukan kehati-hatian ekstra,” tegasnya.
Ani Supiani memastikan bahwa masyarakat tidak perlu terlalu cemas. Selama mengikuti arahan dari BPBD dan pihak berwenang, wisata ke pantai tetap bisa dilakukan dengan aman.
Baca Juga: Tanggapi Riset BRIN, BPBD: Pangandaran Berpotensi Tsunami Tapi…
“BPBD dan pihak berwenang telah melakukan upaya mitigasi dan kesiapsiagaan. Jika mengikuti instruksi dan peringatan yang diberikan maka tidak perlu takut untuk berlibur ke pantai,” tandasnya. (R7/HR-Online/Editor-Ndu)