harapanrakyat.com,- Kehidupan tak pernah memberi jalan mudah bagi Jaenal Arifin, pemuda asal Dusun Bungursari, Desa Sindangherang, Kecamatan Panumbangan, Kabupaten Ciamis, Jawa Barat.
Pria yang masih berusia 28 tahun itu tumbuh dari keluarga buruh tani yang tak memiliki lahan sendiri. Namun, kerja keras pria yang hanya mengenyam pendidikan hingga bangku SMP tersebut kini terbayar setelah Jaenal menjadi penggerak belasan peternak di wilayahnya.
Kesuksesan yang diraih Jaenal bukanlah hasil keberuntungan semata. Perjalanan panjang penuh jatuh bangun, kegagalan, hingga kerugian ratusan juta rupiah menjadi bagian dari cerita hidupnya.
Sejak lulus sekolah, Jaenal sudah terbiasa bekerja keras untuk membantu ekonomi keluarga. Berbagai pekerjaan pernah ia jalani tanpa gengsi.
“Saya ikut kerja cuci mobil bus pariwisata waktu lulus SMP. Sudah belajar perih dari dulu,” kenang Jaenal, Minggu (21/6/2026).
Lahir dari keluarga buruh tani membuatnya memahami arti perjuangan sejak usia muda. Setelah lulus SD dan SMP, ia tak memilih pekerjaan. Apa pun yang menghasilkan uang dijalani.
Tahun 2017, Jaenal bekerja di tempat pemotongan ayam selama satu setengah tahun. Berbekal pengalaman tersebut, ia sempat memberanikan diri membuka Rumah Pemotongan Hewan (RPH) milik sendiri menggunakan tabungan yang dimiliki.
Namun usaha pertamanya itu tidak berjalan mulus. Minim pengalaman membuat bisnis tersebut akhirnya gulung tikar.
Kegagalan itu tidak membuatnya menyerah. Jaenal kemudian bekerja sebagai sopir dan sempat merantau menjadi sales stiker yang berkeliling menawarkan produk ke bengkel hingga konter pulsa. Dari pekerjaan itulah mental bisnisnya mulai terbentuk.
“Ada nasihat yang selalu saya pegang, kalau pengen punya milik rezeki, jangan punya malu untuk nawarin produk,” ungkapnya.
Kesuksesan Jaenal Arifin Berawal dari Peternakan Ayam di Ciamis
Pada tahun 2019, Jaenal kembali ke dunia perunggasan. Ia bekerja di sebuah peternakan ayam di Ciamis sebagai kuli panggul pakan.
Pekerjaan tersebut tidak mudah. Dengan berat badan yang hanya sekitar 40 kilogram, ia harus mengangkat karung pakan seberat 50 kilogram setiap hari.
“Bayangkan, berat badan saya cuma 40 kilo, tapi setiap hari harus mikul pakan yang beratnya 50 kilo,” ujarnya mengenang masa-masa sulit tersebut.
Titik balik hidup Jaenal datang pada tahun 2021. Saat itu ia memberanikan diri mengajukan Kredit Usaha Rakyat (KUR) ke BRI menggunakan jaminan BPKB motor Yamaha Mio miliknya. Pinjaman pertamanya sebesar Rp25 juta. Menariknya, sebagian dana tersebut justru digunakan untuk modal menikah.
“Jujur, uang BRI itu sebagian dipakai buat modal nikah dulu,” akunya sambil tertawa.
Meski demikian, keputusan itu telah diperhitungkan bersama sang istri. Setelah menikah, mereka mengontrak sebuah ruko dan mulai merintis usaha ayam secara mandiri di masa pemulihan pascapandemi Covid-19.
Usaha yang dijalankan perlahan berkembang. Berkat rekam jejak pembayaran yang baik, BRI memberikan fasilitas top up pinjaman secara bertahap.
Dari Rp25 juta naik menjadi Rp40 juta yang digunakan untuk membeli armada operasional pertama berupa Suzuki Carry Blind Van tua berwarna hijau. Selanjutnya, plafon pinjaman kembali meningkat hingga Rp80 juta.
Perjalanan bisnis Jaenal tidak selalu mulus. Pada tahun 2023, saat nilai pinjamannya mencapai Rp120 juta, cobaan besar datang. Ia menjadi korban penipuan oleh rekan bisnisnya.
Pakan ayam yang dibeli menggunakan modal pinjaman bank dan dijual kepada pihak lain ternyata tidak pernah dibayar.
“Saya ketipu hampir seukuran uang pinjaman bank itu, Rp120 juta. Istri menangis, orang tua juga terpukul. Tapi namanya utang kan harus tetap dibayar,” katanya.
Kerugian besar tersebut sempat membuat kondisi keuangannya terguncang. Namun Jaenal memilih bertanggung jawab dan tetap memprioritaskan kewajiban pembayaran kepada bank.
Meski beberapa kali terlambat satu atau dua hari, komitmennya menjaga kepercayaan menjadi modal penting yang membuat usahanya tetap bertahan.
Tambahan Modal Rp200 Juta
Kepercayaan itu pula yang akhirnya membuat pihak bank kembali memberikan tambahan modal usaha hingga Rp200 juta. Modal Rp200 juta menjadi titik awal perubahan besar dalam model bisnis yang dijalankan Jaenal.
Ia tidak lagi hanya fokus menjadi peternak ayam biasa. Jaenal mulai menjadi penyedia sarana produksi peternakan (sapronak) sekaligus pendamping bagi peternak muda di wilayahnya.
Melalui sistem maklun dan profit sharing, ia membantu warga yang memiliki kandang tetapi tidak mempunyai modal usaha. Jaenal menyediakan DOC atau anak ayam, pakan hingga obat-obatan. Setelah ayam siap panen, hasil ternak tersebut dibeli kembali sesuai kesepakatan. “Kami ini murni mandiri, peternak muda,” tegasnya.
Model usaha tersebut berkembang pesat. Saat ini terdapat 12 kandang besar yang berada dalam jaringan kemitraan peternak muda yang dibinanya.
Baca Juga: Dari Dapur Azmi hingga Lapak PKL, BRI Ciamis Kenalkan QRIS dan Proteksi Usaha sampai Malam
Perkembangan usaha yang semakin baik membuat BRI kembali meningkatkan plafon pinjamannya hingga mencapai Rp400 juta pada akhir tahun 2024.
Kerja keras yang dirintis dari bawah kini mulai membuahkan hasil. Sebelum menginjak usia 30 tahun, Jaenal telah berhasil membangun rumah dengan nilai sekitar Rp2 miliar.
Selain itu, ia juga memiliki aset tanah senilai Rp1,1 miliar dan tujuh unit kendaraan yang digunakan untuk kebutuhan operasional maupun pribadi.
Meski demikian, Jaenal tetap dikenal sebagai sosok sederhana dan humoris. “Kalau aset alhamdulillah bertambah banyak, tapi kalau istri mah saya alhamdulillah belum nambah, tetap satu,” kelakarnya.
Mengakhiri obrolan, Jaenal menyampaikan kalimat yang kini menjadi jargon sekaligus prinsip bisnisnya. “Mampu kita beli, enggak mampu kita ajukan ke BRI!” pungkasnya sambil tertawa.
Asuransi untuk Karyawan
Pertumbuhan usaha yang semakin besar juga diikuti dengan perhatian terhadap kesejahteraan pekerja. Manajemen peternakan Jaenal saat ini tengah mempersiapkan perlindungan kesehatan dan keselamatan kerja bagi seluruh karyawan melalui program AMKKM Plus atau Asuransi Mikro Kecelakaan, Kesehatan, dan Meninggal Dunia.
Program tersebut memiliki premi sebesar Rp200 ribu per tahun.
Langkah itu diambil agar seluruh pekerja yang terlibat dalam bisnis peternakan memiliki perlindungan yang layak, sekaligus memastikan kenyamanan dan kesejahteraan mereka tetap terjaga seiring berkembangnya usaha peternakan rakyat yang dibangun Jaenal Arifin dari nol.
BRI: Dari Pinjaman Rp25 Juta hingga Rp400 Juta
Kepala BRI Unit Sindangherang Ciamis, Deden Januar Sapari, membenarkan perjalanan usaha Jaenal yang berkembang dari pinjaman kecil hingga ratusan juta rupiah.
“Benar bahwa Pak Jaenal merupakan nasabah kami. Awal mula beliau meminjam di sini dengan plafond pinjaman terkecil, yaitu sebesar Rp25 juta melalui program Kredit Usaha Rakyat (KUR),” kata Deden.
Menurutnya, perkembangan usaha Jaenal menjadi salah satu contoh keberhasilan pembiayaan produktif yang memberikan dampak nyata bagi masyarakat.
Melihat komitmen dan rekam jejak usaha yang sehat, BRI terus memberikan dukungan permodalan secara bertahap hingga kini plafon pinjaman Jaenal mencapai Rp400 juta.
Deden menilai keberhasilan bisnis peternakan tersebut tidak hanya meningkatkan pendapatan pribadi, tetapi juga memberikan efek sosial ekonomi yang luas.
Baca Juga: Kisah Agen BRILink di Ciamis Menggagalkan Penipuan Online
“Dengan plafond yang kini mencapai Rp400 juta, potensinya sangat luar biasa dalam menciptakan lapangan kerja yang luas untuk masyarakat sekitar, khususnya merangkul anak-anak muda di wilayah Panumbangan agar bisa mandiri dan produktif,” tambahnya. (Fahmi/R7/HR-Online/Editor-Ndu)

20 hours ago
15

















































