Kabupaten Klaten menyimpan sebuah kisah unik mengenai permukiman yang hilang dari peta akibat amukan alam. Terletak di lereng Gunung Merapi, tepatnya di Desa Sidorejo, Kecamatan Kemalang, Kabupaten Klaten terdapat sebuah kawasan yang kini terkenal sebagai Kampung Siluman.
Meski namanya terdengar mistis, tempat ini sebenarnya adalah saksi bisu sejarah kelam erupsi besar Merapi pada tahun 1930 yang menghancurkan seluruh desa.
Baca Juga: Pesona Ekowisata Kali Talang Klaten: Spot Sunrise Terbaik untuk Menatap Megahnya Kawah Merapi
Menelusuri Kampung Siluman Klaten, Desa yang Hilang dalam Semalam
Dahulu, kawasan ini merupakan permukiman padat dengan nama Desa Seluman atau Saluman. Lokasinya berada di ketinggian sekitar 1.100 hingga 1.200 meter di atas permukaan laut (mdpl), hanya berjarak sekitar 5–6 kilometer dari puncak Merapi.
Pada tahun 1930, sebuah letusan dahsyat menyapu bersih desa tersebut dengan material vulkanik dan awan panas. Bencana ini sangat mematikan, menewaskan lebih dari 1.300 orang di 13 desa sekitarnya.
Menurut penuturan warga lokal yang turun-temurun, dari seluruh penduduk Desa Seluman, konon hanya sepasang suami istri yang berhasil selamat dari terjangan erupsi yang digambarkan layaknya kiamat tersebut.
Branding “Siluman” demi Kelestarian Alam
Setelah kehancurannya, pemerintah kolonial Hindia Belanda menetapkan wilayah tersebut sebagai kawasan terlarang untuk dihuni kembali. Seiring berjalannya waktu, sisa-sisa bangunan terkubur di bawah vegetasi hutan pinus dan padang rumput gajah.
Baca Juga: Fenomena Ular Naga Jawa Gunung Slamet, Magnet Baru Wisata Edukasi dan Petualangan Ekstrem
Nama “Siluman” sendiri ternyata merupakan sebuah strategi branding dari warga setempat. Jenarto, Ketua RT 16 Desa Sidorejo menjelaskan, nama tersebut sengaja dipilih agar kawasan bekas desa ini terkesan angker dan “gawat”.
Tujuannya mulia, yakni untuk mencegah orang datang merusak alam atau mengambil sumber daya di kawasan hutan konservasi tersebut secara sembarangan. Hingga saat ini, jejak fisik yang masih terlihat hanyalah beberapa pekarangan tua dan tiga makam kuno yang masih terawat.
Meskipun menyandang nama yang menyeramkan, warga menegaskan bahwa tidak ada kejadian mistis yang benar-benar terjadi di sana. Alih-alih angker, kawasan ini justru menjadi pusat kegiatan budaya dan konservasi. Setiap menyambut bulan Suro dalam kalender Jawa, warga menggelar Kirab Pager Banyu.
Baca Juga: Menembus Kabut di Candi Gedong Songo Semarang, Harmoni Sejarah dan Kemegahan Panorama Lima Gunung
Ritual ini melibatkan pengarakan gunungan hasil bumi dan bibit pohon endemik Merapi menuju Kampung Siluman, sambil melantunkan mantra pelestarian alam. Tradisi ini bertujuan untuk menjaga spirit merawat sumber mata air dan keasrian hutan lereng Merapi.
Berkat perpaduan unik antara sejarah, petualangan, dan pelestarian budaya, destinasi Jelajah Kampung Siluman berhasil meraih prestasi membanggakan. Kawasan ini dinobatkan sebagai Juara 1 API Award 2025 untuk kategori Sport & Adventure.
Kini, Kampung Siluman di Klaten bertransformasi dari desa yang “hilang” menjadi destinasi petualangan edukatif yang mengajak pengunjung merefleksikan kekuatan alam, sekaligus keindahan hutan konservasi di lereng Merapi. (R3/HR-Online/Editor: Eva)

6 hours ago
5

















































