Pesona Desa Wisata Les Buleleng: Menjelajahi Alam, Tradisi Kuno, dan Konservasi Bawah Laut di Bali Utara

3 hours ago 7

Desa Wisata Les yang terletak di Kecamatan Tejakula, Kabupaten Buleleng, kini semakin memantapkan posisinya sebagai destinasi unggulan di Bali Utara. Tidak hanya menawarkan keindahan alam, desa ini juga menorehkan prestasi gemilang dengan masuk dalam jajaran 50 Besar Anugerah Desa Wisata Indonesia (ADWI) pada tahun 2024.

Keberhasilan ini tidak lepas dari komitmen masyarakat dalam menjaga keseimbangan antara pariwisata, pelestarian budaya, dan konservasi lingkungan.

Baca Juga: Menelusuri Kampung Siluman Klaten: Desa yang “Terhapus” Erupsi Merapi Kini Sabet Penghargaan Nasional

Daya Tarik Utama Desa Wisata Les Buleleng

Salah satu daya tarik utama Desa Les adalah Wisata Alam Bawah Laut. Desa ini menjadi pusat rehabilitasi terumbu karang, terutama jenis Acropora sp, melalui teknik transplantasi menggunakan metode fishdome.

Upaya ini untuk memulihkan ekosistem laut yang sempat terdampak penangkapan ikan tidak ramah lingkungan di masa lalu.

Penelitian terbaru di pantai desa ini bahkan menyoroti pentingnya faktor kedalaman laut dalam mempercepat laju pertumbuhan karang. Hal ini guna menghasilkan kualitas morfologi dan warna yang lebih baik untuk mendukung ekosistem, sekaligus potensi ekonomi berkelanjutan.

Air Terjun Yeh Mampeh: “Air yang Terbang” dari Tejakula

Bagi pecinta alam darat, Air Terjun Yeh Mampeh (yang berarti air yang terbang) menjadi destinasi wajib. Dengan ketinggian sekitar 30 meter, air terjun ini menyuguhkan air tawar yang sangat jernih dan dingin di tengah rimbunnya pepohonan.

Untuk mencapainya, pengunjung hanya perlu melakukan trekking santai selama 15 menit melalui jalur yang sudah tertata, menjadikannya ramah bagi wisatawan keluarga dan anak-anak.

Untuk harga tiket masuknya pun sangat terjangkau, yakni Rp 10 ribu untuk domestik dan Rp 20 ribu untuk mancanegara.

Baca Juga: Strategi Desa Wisata Indonesia Menuju Pariwisata Berkualitas Berkelas Dunia

Kuliner Unik “Bayar Seikhlasnya” di Dapur Bali Moela

Sisi unik lain yang membuat Desa Wisata Les viral adalah pengalaman kulinernya. Dapur Bali Moela, yang didirikan oleh koki internasional Chef Gede Yudiawan, menawarkan konsep warung makan tanpa menu tetap.

Hidangan yang disajikan bergantung pada hasil tangkapan nelayan lokal hari itu, yang kemudian dimasak secara tradisional menggunakan tungku kayu bakar.

Yang paling menarik, pengunjung tidak dipatok harga, melainkan dapat membayar seikhlasnya melalui sistem donasi.

Chef Yudi, yang juga merupakan seorang pemuka agama (pemangku), menerapkan filosofi keikhlasan ini untuk mengangkat potensi asli desanya tanpa membebani ekspektasi pengunjung.

Warisan Tradisi Garam dan Sejarah Panjingan

Desa Wisata Les juga merupakan salah satu sentra pembuatan garam tradisional di Bali. Wisatawan dapat menyaksikan langsung proses pengolahan air laut secara turun-temurun menggunakan media tanah dan penyaringan dalam wadah bambu atau tinjung.

Secara historis, desa ini memiliki akar yang sangat kuat. Berdasarkan babad kuno, wilayah ini dahulu terkenal sebagai Panjingan, sebuah bandar atau pelabuhan masuk ke Bali dwipa yang sudah eksis sebelum abad ke-10.

Nama “Les” sendiri konon berasal dari kata ngenes atau les yang berarti bersembunyi atau melarikan diri. Nama tersebut merujuk pada sejarah perpindahan penduduk saat menghindari serangan di masa lampau.

Baca Juga: Raih Best Tourism Village 2025, Desa Wisata Pemuteran Bali Tawarkan Beragam Destinasi Menarik

Aksesibilitas dan Akomodasi

Meskipun berada di ujung utara Bali, Desa Wisata Les sebenarnya sangat mudah dijangkau. Dari kawasan Kintamani, desa ini hanya berjarak sekitar 25 hingga 50 menit melalui jalur alternatif dengan pemandangan perbukitan yang menakjubkan.

Bagi wisatawan yang ingin menginap, tersedia berbagai pilihan homestay otentik. Seperti Segara Lestari Homestay yang menawarkan suasana tenang di tepi laut dengan fasilitas lengkap, mulai dari snorkeling hingga kelas tanaman obat.

Dengan perpaduan antara inovasi konservasi, keunikan kuliner, dan kekayaan sejarah, Desa Wisata Les membuktikan bahwa Bali Utara memiliki pesona yang tak kalah magis dari wilayah selatan. (R3/HR-Online/Editor: Eva)

Read Entire Article
Berita Rakyat | Tirto News |