Sejarah Candi Planggatan, Jejak Majapahit di Lereng Lawu

3 hours ago 6

harapanrakyat.com,- Sejarah Candi Planggatan bermula dari masa akhir Kerajaan Majapahit di lereng Gunung Lawu, Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah. Situs budaya kuno ini berada di ketinggian sekitar 910 hingga 1.165 meter di atas permukaan laut. Lokasinya yang sunyi memberikan suasana sakral bagi siapa saja yang mengunjunginya untuk melihat reruntuhan bersejarah.

Pemandangan alam sekitar yang hijau turut menambah kesan mistis sekaligus asri pada kawasan cagar budaya ini. Oleh sebab itu, banyak pengunjung datang untuk menikmati kesegaran udara pegunungan sambil belajar arkeologi.

Baca juga: Sejarah Candi Kethek dan Mitologi Pengadukan Lautan Susu Demi Air Keabadian

Bangunan ini terdiri atas tiga teras yang menghadap ke arah barat seperti halnya Candi Sukuh. Walaupun sekarang kondisinya sudah tidak utuh lagi, sisa bebatuan masih memperlihatkan struktur punden berundak yang megah. Oleh karena itu, para ahli meyakini bahwa tempat ini memiliki nilai sejarah dan arkeologi yang sangat penting.

Catatan mengenai sejarah pembangunan candi tersebut membuktikan bahwa Planggatan merupakan situs yang sangat istimewa. Kini, wilayah seluas 4.460 meter persegi tersebut dikelola sebagai warisan budaya bangsa Indonesia.

Jejak Sejarah Candi Planggatan di Gunung Lawu

Peninggalan suci ini berkaitan erat dengan periode keruntuhan Majapahit sekitar abad ke-15 masehi. Selain itu, ditemukan pula sebuah prasasti yang menyebutkan tokoh agama bernama Rama Balanggadawang dan Hyang Pununduh. Peneliti menyimpulkan situs ini merupakan mandala kedewaguruan bagi kaum rsi yang mencari ketenangan spiritual di hutan.

Keberadaan yoni di teras kedua mengindikasikan fungsi tempat pemujaan terhadap Dewa Siwa oleh para pertapa. Ditambah lagi, terdapat penemuan bokor batu yang biasanya digunakan sebagai wadah untuk meletakkan berbagai macam sesaji. Tentunya hal tersebut menunjukkan bahwa aktivitas keagamaan di sini berlangsung secara intensif pada masa lampau.

Baca juga: Sejarah Candi Cetho, Bangunan Suci Hindu ini di Lereng Gunung Lawu Karanganyar

Salah satu relief yang memikat adalah sosok gajah dengan belalai yang sedang menggigit bulan sabit. Ukiran ini merupakan sengkalan memet berbunyi gajah wiku hanahut wulan sebagai penanda angka tahun pembangunan. Angka tersebut merujuk pada tahun 1378 Saka atau setara dengan 1456 Masehi dalam kalender masehi modern.

Terdapat pula penggambaran tokoh bangsawan yang menunggang kuda dengan pengawalan prajurit bersenjata tombak serta payung. Gaya penggambaran manusia pada relief ini memiliki kemiripan kuat dengan gaya arsitektur Candi Cetho dan Sukuh. Dengan demikian, situs Planggatan memberikan gambaran jelas mengenai tatanan sosial dan budaya masyarakat Jawa kuno.

Baca juga: Mengungkap Misteri dan Sejarah Candi Brahu di Trowulan

Sejarah Candi Planggatan memberikan pelajaran berharga tentang warisan spiritual nenek moyang yang masih tersisa hingga hari ini. Meskipun banyak misteri yang belum terungkap sepenuhnya, kelestarian situs ini harus tetap dijaga oleh seluruh lapisan masyarakat. Keindahan alam dan nilai historisnya menjadikan tempat ini sebagai destinasi wisata edukasi yang sangat mempesona. Pengunjung diharapkan mampu menghargai setiap artefak sebagai bukti kecerdasan intelektual dan religiusitas leluhur kita. Semoga upaya pelestarian terus berlanjut agar anak cucu nanti tetap bisa menyaksikan kejayaan Kerajaan Majapahit. (Muhafid/R6/HR-Online)

Read Entire Article
Berita Rakyat | Tirto News |