Stop Asal Minum Obat Tanpa Resep! Apoteker RSUD Pandega Pangandaran Ungkap Risikonya

21 hours ago 10

harapanrakyat.com,- Kebiasaan sebagian masyarakat mengonsumsi obat keras tanpa resep dokter atau melakukan swamedikasi secara sembarangan masih menjadi fenomena yang mengkhawatirkan. Apoteker RSUD Pandega Pangandaran, Lela Durotulailah menegaskan, bahwa praktik penggunaan obat yang tidak tepat, justru berpotensi memicu risiko kesehatan serius. Mulai dari efek samping hingga memperparah kondisi penyakit.

Baca Juga: Peringatan Hari Hipertensi Sedunia, RSUD Pandega Tekankan Pentingnya Skrining Rutin

Masyarakat seringkali terjebak dalam pola pikir keliru, dengan mengandalkan rekomendasi orang lain atau informasi yang belum terverifikasi secara medis. Lela menjelaskan, bahwa setiap obat memiliki indikasi, dosis, dan efek samping yang unik bagi setiap pasien.

“Setiap obat memiliki indikasi, dosis, cara penggunaan, hingga efek samping yang berbeda. Penggunaannya harus presisi, menyesuaikan dengan kondisi fisiologis dan kebutuhan klinis masing-masing pasien,” jelasnya saat memberikan edukasi mengenai keamanan penggunaan obat, di RSUD Pandega, Kamis (18/6/2026) lalu.

Apa Bahaya Penggunaan Obat Tanpa Resep? Ini Penjelasan Apoteker RSUD Pandega Pangandaran

Lela mengidentifikasi, bahwa salah satu kekeliruan fatal yang sering terjadi adalah pembelian obat keras tanpa resep atau penggunaan ulang resep lama untuk keluhan yang dianggap serupa. Padahal, kemiripan gejala tidak selalu merepresentasikan penyebab penyakit yang sama. Penggunaan obat yang tidak tepat justru berisiko menutupi gejala asli, yang pada akhirnya dapat menghambat proses diagnosis medis yang akurat.

Poin krusial lainnya yang menjadi perhatian serius adalah penggunaan antibiotik secara serampangan. Lela memperingatkan, bahwa praktik ini dapat memicu resistensi bakteri, sebuah kondisi di mana bakteri berevolusi menjadi kebal terhadap pengobatan.

“Ketika antibiotik digunakan tanpa indikasi yang tepat, bakteri akan membentuk kekebalan. Dampaknya fatal, saat obat tersebut benar-benar dibutuhkan secara medis di masa depan, efikasinya akan menurun drastis atau bahkan tidak bekerja sama sekali,” jelas Apoteker RSUD Pandega Pangandaran.

Baca Juga: RSUD Pandega Pangandaran Minta Warga Kenali Tanda Bahaya DBD Sejak Dini

Selain risiko resistensi, penggunaan obat tanpa pengawasan ahli medis juga membuka peluang terjadinya interaksi obat yang merugikan. Kemudian juga, reaksi alergi berat, hingga potensi kerusakan organ jika dikonsumsi dalam dosis yang tidak sesuai atau dalam jangka waktu panjang.

Budaya Literasi Kesehatan

Dalam rangka meminimalisasi risiko tersebut, Apoteker RSUD Pandega Pangandaran ini mengimbau masyarakat untuk meningkatkan literasi kesehatan. Langkah sederhana namun vital meliputi pengecekan tanggal kedaluwarsa, pemahaman aturan pakai, serta keharusan berkonsultasi dengan dokter atau apoteker, terutama jika keluhan kesehatan tidak kunjung membaik.

“Hentikan kebiasaan menjadikan pengalaman orang lain sebagai acuan pengobatan. Setiap individu memiliki respons tubuh yang unik,” tegasnya.

Sebagai langkah konkret, RSUD Pandega Pangandaran kini membuka lebar layanan konsultasi kefarmasian bagi masyarakat. Layanan ini dirancang, agar warga mendapatkan edukasi yang benar mengenai manajemen penggunaan obat.

Baca Juga: RSUD Pandega Pangandaran Ingatkan Pola Makan bagi Pasien Hemodialisa

“Obat adalah pedang bermata dua, ia menjadi sarana penyembuhan jika digunakan dengan tepat, namun akan menjadi ancaman jika disalahgunakan. Kami mengajak masyarakat untuk lebih bijak dan disiplin dalam menggunakan obat demi keselamatan kesehatan bersama,” pungkas Lela. (Adi/R5/HR-Online)

Read Entire Article
Berita Rakyat | Tirto News |