Vigan City Filipina, Kota Tua Warisan Dunia yang Pernah Terhubung dengan Nusantara

11 hours ago 10

Vigan City Filipina merupakan salah satu destinasi yang kerap menarik perhatian dalam pembahasan sejarah dunia. Berlokasi di Provinsi Ilocos Sur, Filipina, Vigan City terkenal sebagai kawasan kolonial Spanyol paling terawat se-Asia. Keunikan arsitektur, tata kota khas selama berabad-abad, hingga jejak perdagangan internasional membuatnya punya nilai historis tinggi.

Baca Juga: Gereja Pahatan Batu Lalibela dan Ambisi Kaisar Membangun Yerusalem Baru

Tidak hanya jadi kebanggaan Filipina, Vigan juga diakui sebagai Situs Warisan Dunia UNESCO. Ini berkat keberhasilannya mempertahankan karakter kota kolonial yang berpadu dengan budaya lokal. Bangunan-bangunan berusia ratusan tahun masih berdiri kokoh di sepanjang jalan berbatu. Memperlihatkan bagaimana masyarakat zaman dulu membangun kehidupan dengan latar belakang berbagai kultur.

Sejarah Vigan City Filipina

Kota Vigan berada di pesisir barat Pulau Luzon dan merupakan ibu kota Provinsi Ilocos Sur. Letaknya yang menghadap Laut Cina Selatan menjadikan wilayah ini strategis. Terutama sebagai pelabuhan perdagangan sejak masa sebelum kedatangan bangsa Eropa. Sebelum Spanyol berkuasa, Vigan bahkan telah dihuni oleh masyarakat lokal yang aktif berdagang dengan banyak negara. Misalnya Tiongkok serta berbagai kerajaan maritim di Asia Tenggara.

Komoditas seperti kain, keramik, emas, hasil laut, hingga rempah-rempah masyarakat perdagangkan melalui jalur laut. Pada tahun 1572, penjelajah Spanyol Juan de Salcedo tiba di kawasan tersebut. Ia kemudian menjadikan vigan pusat pemerintahan kolonial di wilayah utara Filipina. Sejak saat itu, Vigan berkembang menjadi kota penting bagi pemerintahan Spanyol sekaligus pusat aktivitas perdagangan.

Selama masa kolonial, berbagai bangunan bergaya Eropa mulai berdiri. Namun berbeda dengan kota kolonial lain, pembangunan di Vigan tidak sepenuhnya menghilangkan budaya lokal. Rumah-rumah penduduk tetap mengadopsi teknik pembangunan tradisional Filipina. Hanya saja dipadukan dengan gaya arsitektur Spanyol dan pengaruh para pedagang Tiongkok.

Keunikan perpaduan budaya inilah yang membuat Vigan City Filipina memiliki nilai sejarah luar biasa. Pada tahun 1999, UNESCO menetapkan Vigan sebagai Situs Warisan Dunia. Salah satu faktornya karena dianggap sebagai contoh terbaik kota kolonial Asia yang masih mempertahankan bentuk aslinya hingga sekarang.

Ciri Khas Kota dan Bangunan Bersejarah

Hal pertama yang langsung terlihat ketika memasuki kawasan Vigan adalah jalan-jalan berbatu. Konsep ini masih masyarakat pertahankan seperti ratusan tahun lalu. Suasana kota terasa tenang dengan deretan bangunan tua. Umumnya bangunan-bangunan tersebut memiliki balkon kayu, jendela besar dan dinding tebal khas rumah kolonial.

Baca Juga: Sejarah Kota Kuno Ephesus dari Masa Prasejarah, Kejayaan hingga Keruntuhan Wilayah

Salah satu kawasan paling terkenal adalah Calle Crisologo. Jalan ini penuh dengan rumah-rumah warisan abad ke-18 hingga ke-19. Bahkan di era sekarang tetap masyarakat fungsikan sebagai museum, penginapan, toko kerajinan dan restoran tradisional. Beberapa juga menjadi galeri seni yang menampung banyak karya luar biasa.

Keunikan arsitektur Vigan City Filipina tetap memadukan tiga budaya utama. Dimana struktur bangunan Spanyol berpadu material lokal khas Negara Filipina. Sementara sentuhan Tiongkok terlihat dari tata ruang hingga ornamen tertentu pada rumah-rumah tua. Penggunaan kayu-kayuan juga memperkuat identitas Tiongkok di kota ini.

Transportasi tradisional bernama “calesa” atau kereta kuda, masih populer sebagai salah satu daya tarik wisata. Kehadiran calesa membuat suasana kota terasa seperti kembali ke masa kolonial beberapa abad silam. Banyak pengunjung senantiasa mencoba transportasi sederhana ini untuk sekedar berkeliling.

Spot Ikonik yang Selalu Ramai Pengunjung

Selain menikmati suasana kota tua, wisatawan umumnya menyempatkan diri mengunjungi berbagai spot ikonik. Ikon utama yang tak boleh terlewat saat mengunjungi Vigan City Filipina adalah Vigan Cathedral atau St. Paul Metropolitan Cathedral. Gereja bergaya Barok ini telah menjadi pusat kehidupan keagamaan masyarakat sejak masa kolonial Spanyol.

Meskipun beberapa kali mengalami renovasi akibat gempa bumi, bentuk arsitektur utamanya tetap sama. Sehingga masih memancarkan nuansa sejarah yang kuat. Di sekitar kawasan gereja terdapat alun-alun kota yang menjadi tempat berkumpul masyarakat. Pada malam hari, pertunjukan air mancur menari dengan permainan cahaya menjadi hiburan favorit bagi wisatawan.

Vigan juga memiliki berbagai museum yang menyimpan koleksi sejarah kolonial. Ada juga koleksi perabot kuno, dokumen pemerintahan lama, hingga peninggalan keluarga-keluarga berpengaruh pada masa penjajahan. Tidak jauh dari pusat kota, terdapat deretan toko. Di sini menjual kerajinan tangan, barang antik, kain tenun tradisional dan aneka kuliner khas Ilocos.

Kaitan Vigan dengan Perdagangan Nusantara di Masa Lalu

Di balik pesona kota tuanya, Vigan City Filipina juga menyimpan kisah panjang tentang jalur perdagangan Asia Tenggara. Sebelum berkembang sebagai kota kolonial Spanyol, kawasan ini telah menjadi salah satu titik pertemuan para pedagang dari berbagai wilayah. Termasuk kawasan Nusantara yang kini menjadi Indonesia.

Berada di jalur pelayaran Laut Cina Selatan membuat Vigan hadir sebagai bagian dari jaringan perdagangan maritim Asia Tenggara. Pada masa tersebut, para pedagang dari Tiongkok, Semenanjung Malaya, Brunei dan berbagai wilayah Nusantara rutin berlayar membawa komoditas dagang.

Rempah-rempah asal Kepulauan Maluku, hasil hutan Kalimantan, kain dari Jawa, hingga berbagai barang bernilai tinggi diperdagangkan di sini. Walaupun tidak menjadi pusat perdagangan rempah sebesar Malaka atau Ternate, Vigan tetap punya peran krusial. Hubungan dagang tersebut turut mendorong pertukaran budaya, teknologi, bahasa, serta kebiasaan masyarakat.

Keterhubungan dengan Nusantara menunjukkan bahwa sejak dahulu kawasan Asia Tenggara telah memiliki jaringan perdagangan yang luas. Laut bukan menjadi pemisah antar-daerah, melainkan jalur penghubung penting. Merekalah yang mempertemukan berbagai kerajaan, pelabuhan dan masyarakat dari beragam latar belakang budaya.

Baca Juga: Sejarah Tembok Ratapan Yahudi, Dinding Masjidil Aqsa yang Jadi Rebutan

Vigan City Filipina memang punya daya tarik besar di mata dunia. Tidak mengherankan jika hingga kini Vigan City tetap menjadi destinasi bersejarah paling ikonik di Filipina. Masyarakat lokal bersama pihak-pihak yang berwenang terus berupaya menjaga kelestarian kota tua ini bagi generasi mendatang. (R10/HR-Online)

Read Entire Article
Berita Rakyat | Tirto News |