Cerita Haru Pasangan Lansia Desa Masawah Pangandaran, Kerja Serabutan dan Jual Sapu Lidi untuk Bertahan Hidup

14 hours ago 5

harapanrakyat.com,- Pagi di Desa Masawah, Kecamatan Cimerak, Kabupaten Pangandaran, selalu datang dengan sunyi yang sama. Embun masih menggantung di ujung daun kelapa ketika Uuk Rukaenah (65) dan suaminya, Saedin (70), melangkah pelan meninggalkan rumah mereka. Di usia yang tak lagi muda, keduanya tetap berjalan berdampingan membawa harapan sederhana, hari ini ada rezeki dengan menjual sapu lidi untuk sekadar menyambung hidup.

Baca Juga: Kisah Lansia di Kota Banjar, Tinggal di Rumah Bilik Bambu Tanpa Dapur dan Fasilitas MCK

Di tengah geliat pembangunan dan modernisasi yang kian terasa pada 2026, kehidupan pasangan lanjut usia ini seolah berjalan di ritme yang berbeda. Tidak ada ambisi besar, tidak pula impian muluk. Target mereka jelas dan sangat sederhana, mengumpulkan rizki untuk dapur tetap ngebul. Bagi pasangan lansia ini, untuk mendapatkan penghasilan bersih Rp100 ribu bukanlah angka yang kecil. Sebab, mereka membutuhkan waktu hingga 10 hari untuk mengumpulkannya.

Sejak anak-anak mereka berumah tangga dan hidup terpisah, Uuk dan Saedin tinggal berdua. Rumah mereka menjadi saksi bagaimana hari-hari dijalani dengan kerja keras tanpa jeda panjang. Jika ada pekerjaan di sawah, mereka akan membantu sebagai buruh tani. Namun ketika sawah tak membutuhkan tenaga tambahan, mereka beralih ke kebun-kebun milik warga, mencari daun kelapa yang telah gugur atau diizinkan untuk dipetik.

Bertahan dengan Jualan Sapu Lidi

Daun-daun itu kemudian mereka olah menjadi sapu lidi. Pekerjaan yang bagi sebagian orang terlihat sederhana, bagi Uuk dan Saedin adalah sumber kehidupan. Dengan telaten, tangan-tangan yang mulai keriput itu memisahkan tulang daun, membersihkan, merapikan, lalu mengikatnya menjadi satu ikat sapu lidi yang siap dijual.

“Sehari-hari kalau tidak ke sawah, kami bersama suami mencari daun kelapa ke kebun orang lain untuk dijadikan sapu lidi,” tutur Uuk kepada harapanrakyat.com, Kamis (12/2/2026).

Setiap ikat ia hanya menjual sapu lidi dengan harga Rp1.800. Dalam kondisi tubuh yang fit, mereka mampu menghasilkan 9 hingga 10 ikat per hari. Namun usia tak bisa ditawar. Ketika badan terasa pegal atau sakit datang, jumlah itu berkurang drastis. Artinya, penghasilan pun ikut menyusut.

“Kalau lagi kurang sehat, kadang bisa kurang dari biasanya. Bagi kami mencari uang Rp100 ribu itu sangat susah,” ucapnya lirih.

Baca Juga: Melihat Pengrajin Golok di Pangandaran yang Masih Bertahan Sampai Saat Ini

Hitung-hitungan sederhana menjadi bagian dari keseharian mereka. Dengan harga Rp1.800 per ikat, hasil 10 ikat sehari hanya bernilai Rp18 ribu. Jadi untuk mencapai Rp100 ribu, mereka harus bekerja dan menjual sapu lidi sekitar 10 hari, bahkan bisa lebih jika kondisi fisik menurun atau cuaca tak bersahabat.

Uang itu bukan untuk hal besar. Rp100 ribu digunakan membeli kebutuhan pokok, seperti beras, minyak, dan bumbu dapur. Namun di tengah harga kebutuhan yang terus merangkak naik, uang tersebut terasa semakin cepat habis.

“Sekarang harga kebutuhan mahal, seperti bumbu untuk masak. Kami beli garam pun yang murah saja,” kata Uuk.

Hidup Sederhana Tanpa Mengeluh

Tidak ada ruang untuk gaya hidup. Tidak ada anggaran untuk hal di luar kebutuhan paling mendasar. Hidup mereka hanya berkutat pada satu pertanyaan, bagaimana caranya agar dapur tetap mengepul esok hari.

Namun di balik keterbatasan itu, ada keteguhan yang sulit digoyahkan. Uuk dan Saedin tidak membiarkan keluh kesah menguasai hari-hari mereka. Bagi keduanya, mengeluh bukanlah pilihan.

“Mengeluh itu tidak. Karena kalau ngeluh malah tambah kami tidak bisa makan. Kami terpaksa dan tetap semangat menjalani aktivitas seperti hari ini. Harapannya semoga harga lidi bisa naik,” ujar Uuk.

Kalimat itu sederhana, tetapi memuat kekuatan yang besar. Di wajah mereka yang dipenuhi garis usia, terpancar ketabahan yang lahir dari pengalaman panjang menghadapi hidup. Mereka tidak meminta banyak. Tidak menuntut lebih. Hanya berharap harga lidi yang mereka ikat dan jual dengan sabar bisa sedikit naik.

Kisah Uuk dan Saedin adalah potret nyata bahwa di tengah pembangunan yang terus bergerak maju, masih ada warga yang berjuang dalam diam. Mereka tidak tampil di panggung besar, tidak pula menjadi sorotan utama. Namun dari tangan renta yang terus bekerja itu, tersimpan pelajaran tentang kesederhanaan, ketahanan, dan makna syukur yang sesungguhnya.

Baca Juga: Kisah Pengrajin Tusuk Sate di Kota Banjar dan Harapannya saat Idul Adha

Di Desa Masawah, setiap ikat sapu lidi bukan sekadar barang jualan. Ia adalah simbol daya juang, tentang dua insan lanjut usia yang memilih untuk tetap berdiri, tetap berjalan, dan tetap berharap. Meski hidup hanya memberi mereka Rp1.800 untuk setiap ikat usaha yang dirajut bersama. (Kiki/R5/HR-Online/Editor: Adi Karyanto)

Read Entire Article
Berita Rakyat | Tirto News |